Cerpen: Pelita Zaman

Cerpen: Pelita Zaman

Karya: Ilhan Erda

 

Zaman Arvada. Inilah nama yang diberikan oleh Bapakku, Ki Kasmudi 46 tahun yang lalu. Aku terlahir disekitar Perbukitan Menoreh yang terkenal dengan Perang Jawanya, antara Diponegoro melawan saudara seperguruannya sendiri yaitu Cokronegoro. Bupati Pertama kota ku ini.

 

Di bukit yang penuh dengan pepohonan manggis, durian dan cengkeh ini aku ditempa apa itu arti perjuangan hidup, kejujuran dan ketauladanan. Bapakku yang meski ada darah Glondong dan mempunyai ladang luas, tapi sama sekali tak memberikan kemewahan kepada ke 4 anak nya. Dan kini aku merasakan atau memanen buah dari apa yang di ditanam Bapak dalam mendidik dan pola asuh ke kami semua anak-anaknya. Selanjutnya aku akan tiru dan adopsi bagaimana Bapak dan Mamak menjalankan misi sucinya ini ke istri dan anakku kelak juga.

 

Aku yang alhamdulilaah sedari SD sudah bisa membanggakan orang tua, yakni dapat peringkat minimal 3 besar terus dan masuk kuliah juga dari Beasiswa Berprestasi dengan bisa lolos tes masuk di Fakultas Kedokteran umum di Universitas Gajah Mada, yang jaraknya hanya selemparan batu ibarat nya dari dusunku, Kaligono. Karena dibawahnya adalah sudah terlihat jelas wilayah Godean yang sudah masuk wilayah Provinsi DI Jogjakarta..

 

Lancar-lancar saja aktifitas kegiatan perkuliahan dan tepat 8 semester aku kelar kuliah. Ko-as pun juga berjalan lancar di RSUD Purworejo. Aku ingin membaktikan semua ilmuku di bangku kuliah untuk di tumpah darah, daerah kelahiranku saja. Dan disinilah, aku semakin memantapkan diri untuk memulai, menguatkan dan menuju jenjang serius dengan dirinya. Merajut benang-benang mahligai keluarga yang Sakinah dan sesuai tuntunan agama kami.

 

Pelita Nur Diyatmi. Itulah nama istriku yang sekarang sudah memberiku buah hati 3 orang anak. Tapi aku mohon kalian jangan meneteskan airmata dan memberi belas iba kepadaku, setelah membaca bagian selanjutnya kisah ini.

 

Ku ceriterakan kisah ini apa adanya dan bisa sebagai terapy jiwa, pemulihan mental akan kondisi aku yang tak sehat dan disangkanya, adalah penuh dengan sejuta kegembiraan.

 

Bagaimana tidak, rumah kami yang bertingkat, 3 mobil dan 2 malaikat kami yang sudah beranjak besar. Kami pasangan bermasa depan cerah, satunya adalah Dokter Umum, dan satunya Dokter Gigi.

 

Aku lalui kisah dengan nya penuh dengan romansa, dan seribu kisah heroisme perjuangan. Bapak yang sengaja memberiku minimum uang saku, mau tak mau kudu memaksaku memutarkan otak. Dan di Kota Gudek ini. Bulaksumur. Memberi keteladanan dan hikmah apa itu arti berjuang dan bermanfaat. Aku yang setengah bulan sudah kehabisan uang saku bulanan, dengan pertama kali mencoba meloper koran ke kawasan perumahan Dosen-dosen UGM. Pekerjaan ini tak berlangsung lama karena hanya sedikit jumlah korannya, dan kusambi dengan mengajar privat anak-anak SD,SMP disekitar kost, serta mengajar mengaji. Sedikit demi sedikit bisa untuk mencukupi makan ku sebulan.

 

Masjid Kampus UGM. Inilah yang jadi saksi dan momentum hidup bagiku di sana. Perutku yang kupaksa agar ia diam dan tak protes karena aku menjalankan Puasa Dawud, agar aku bisa lebih bening dalam memandang dan mensikapi setiap kejadian serta agar terbuka semua tata dan keinginanku. Gampang didengar oleh Sang Pencipta, atau digampangkan segala hajat kita intinya.

 

Disana, saat aku yang akan membatalkan puasaku, dan semua warung tutup lagi hujan petir nan deras mendera.”

 

“Mas, mari makan, aku bawa takjilan walau sederhana . Hanya 2 buah lemper dan air teh hangat ya..”suara lembut menyapaku

 

Suara lembut lagi medok. Sama seperti aku. Ah, seperti aku bertemu dengan Bidadari dari Firdaus. Padahal aku baru saja menjalankan Puasa Dawud ini setengah bulan. Dan diakhir perjumpaan pertama ini, dicatatlah sebuah alamat dan waktu untuk aku bisa bersua dan melihat rona sederhana. Gadis berbalut hijab warna hjau muda itu.

 

Tak terasa, kami menjadi semakin akrab. Pelita, begitu aku memanggilnya, juga sama. Dia yang anak dari salah satu mantan Bupati di tempatku ini, jua adalah dididik dengan kesederhanaan, tidak neko-neko. Padahal sebagai mantan anak orang no 1 dipemerintahan. Jikalau dia minta mobil pun akan dikasih oleh Ayahnya. Secara anak perempuan satu-satunya dan kedua kakaknya adalah laki-laki.

 

“Mas, aku sudah sedari awal tahu dan membantu semua ikhtiarmu. Bidang ekonomi, study dll sampai detik ini. Dan kamu, aku mencapai gelar Wisuda ini,”

 

“Keraguan. Was-was dan semua rasa yang buruk. Kiranya bisa diminimalkan. Dan kita berdoa semoga jalan suci ini semakin terang terbuka lebar tak ada aral berarti dari Nya ya,,”harapmu saat itu..

 

Dimulai dari usaha bersama membuat baju praktek Dokter dan kau juga frelance dengan membantu sebuah Klinik Dokter gigi di daerah Prawirotaman. Di sana banyak bule dan orang-orang pelancong yang wira-wiri dan menyambangi Klinikmu.

 

Tak terasa ikrar suci itu sudah terpahat. Aku kini sudah menggendong anak 2. Satu si Allan yang berusia 3 tahun dengan si Alvia 1 tahun. Aku cukup berbahagia dan menjalani semuanya dengan rasa syukur, berjuta nikmat telah kau anugerahkan ya Tuhan. “Sungguh nikmat mana lagi yang aku dustakan?”

 

Mobil, rumah kecil dan istri yang cantik lagi pintar.

Dan kebahagian itu berjalan selama kurang lebih 18 tahun usia pernikahan kami. Sebelum malam sekitar pukul 20.30 wib. Setelah ku pulang dari RS Panti Rajin, dan mendapati ada sabuk lelaki tertinggal di sofa depan .

 

“Ini punya siapa Mamah…”tanyaku

Diam. Kami sudah sama-sama dewasa. Tiada terbakar cemburu. Emosi yang meluap sudah biasa kami atasi. Dan kami hafal satu-sama lainnya.

 

Kehangatan yang biasa dirasakan oleh anak-anak ini serasa seperti palsu. Pastinya anak-anak kini jua merasakan perlahan. Ada masalah apa yang dialami oleh kedua orang tuanya itu.

 

Allan yang kini sedang semester 4. Kuliah di almamater Ayah dan Ibunya juag lama-lama gerah. Dia sering tak pulang ke rumah. Kadang tidur ke kos temannya atau menggelandang, mendaki gunung. Tak tentu arah. Adiknya Alvia yang memang sedari SMP sudah mondok sembari sekolah di daerah Sleman. Kini malahan sama sekali tak pulang ke rumah. Dia biasanya menggelanjut manja dan meminta Mamahnya          shoping serta wisata kuliner di sepanjang jalan Malioboro.

 

Tapi keadaan ini berubah drastis.Rumah yang tadinya hangat oleh gelak tawa dan riuh ramai anak-anak dan kita. Semakin menjadi sebuah jurang. Jurang yang terjal, sunyi lagi pekat. Tak berpenghuni.

 

         “Lama-lama bisa seperti pintu Hawiyah jika dilarutkan dan tak ada solusi dn anak-anak yang akan jadi korban.”fikirku

 

Istriku. Kini, ku lihat juga seperti mendekati seperti awal kita pacaran. Kau semakin segar, bergairah dan dandananya juga tambah elegan. Ada apa gerangan?

 

Jujur, memang sudah hampir 2 tahun ini kita kadang masih lakukan hubungan suami istri, dan nafkah batinnya aku berikan. Tapi serasa hampa dan tak ada kehangatan itu lagi. Ibarat cuma rutinitas yang sia-sia saja. Bukan kah bumbu keharmonisan keluarga salah satunya tercipta oleh anak-anak, ekonomi yang mapan, kesehatan dan seksualitas yang energik kan?

 

“ Mah, Arvia akan kelar SMA nya, baiknya kita sekolahkan ke mana?”tanyaku

         “Anaknya kini jarang pulang, dan bagaimana dengan kondisi ini, kasihan kan? Masak kita begini terus?”

 

Mamahnya anak-anak pasti jika ditanya malahan pergi ambil langkah seribu, dan tak tahu harus memulai dari mana lagi. Padahal paska tragedi sabuk itu, aku cuma diawal juga mendiamkan, boro-boro ada KDRT, fisik dan kekerasan atau apa lainnya.

 

       “Kring ringgg, Halo ini Dokter Zaman yah? Ini saya dari Rumah Sakit Atmowinoto, mengkabarkan Alvia adalah puteri Bapak ya?”

 

       “Iyah benar ada apa?”

       “Tadi setelah pulang sekolah terserempet mobil, dan tangannya patah tulang. Cepat Bapak ke sini yaa..”ujar suara Perawat itu

 

Bagai tersambar petir ke dua kalinya, tapi tak kunjung maut menjemput. Ada apa lagi ini. Lekas ku kabari Mamahnya yang juga sibuk dengan Klinik Giginya sendiri. Kami sepakat bertemu di sana. Untuk menjenguk Alvia, dan menentukan perawatan selanjutnya..

 

“Mamah, sakit.” Mamah kemana saja sihh, kok lama datangnya.” Isak Alvia..

 

Mamahnya hanya nangis dan khas wanita mewek. Perasaan ,cengeng tapi kadangkala hanya mementingkan ego sendiri. Semua pria adalah salah dan hanya wanita yang benar saja. Itu alibu umum dan mutlak yang 101 % benar. Tak boleh diganggu gugat kecuali oleh airmata tragedi atau ending yang berujung maut? Dan menyadarkan fihak wanita.

 

“Papah, kita disini sama Mamah ya. Nunggu Alvia, dan bagaimana kalau bawa berobat ke Sangkal Putung di Loano Purwoejo saja. Di Loano, sekalian mampir ke rumah Nenek, kan dekat.” Dan nanti Mamah bisa bergantian dengan Nenek, Papah juga yaa..”

 

Rayu Mamahnya, sembari dia mengerlingkan matanya ke aku. Memeluk serta menawariku jeruk. “Ah, ini isyarat apakah bagiku? Akankah ada peluang rujuk atau?”batinku

 

Sudah berselang sebulan. Kondisi tangan kiri Alvia sudah sembuh dan kini dia juga sudah muai bisa menggerakkan tangannya. Ku antar untuk melihat pengumuman di Universitas yang diminatinya.

 

“Mamah, sama Papah sih tak harus memaksa kamu masuk Kedokteran seperti kita say..” Tapi kalau bisa masuk di Gadjah Mada. Karena terjamin dan bereputasi bagus. Serta jaringannya oke.” itu aja..”

 

“Iyah Papah, Mamah Alvia usahakan dan 100 % bisa lah masuk sana.Doanya ya.”

Alvi mencium kening Mamah dan Papahnya. Oh Tuhan semakin terang lagi jalan ini. Terimakasih Tuhanku.

 

Kali ini Mamahnya sudah mau kembali. Rumah kembali ramai. Sesekali Allan yang pulang, walau seminggu sekali karena habis jatah uang bulannnya.

 

           “Tok tok tok, permisi, permisi…”

             “Tok tok,,,”

 

Iyah, iya sebentar, siapa yaah,,” jawabku..

Mamahnya sudah pulas karena kelelahan. Ini jam tepat setengah sepuluh malam. Siapa itu tamu gerangan?

 

Pak, saya Jatmiko dan saya Kunto. Kami dari Reko Finance, kami sengaja ke sini karena Allan Revanda, putera Bapak telah meminjam ke kami uang senilai Rp 89 juta rupiah dan mobil putera Bapak telah kami minta paksa, karena lari dari kewajibannya !!!”keras, suara si Kunto

 

               “Masak anak saya seperti itu?” Buat apa uangnya?”sela ku

“Ah tak penting, yang penting Bapak mau membayar Rp 125 juta rupiah ini. Sudah dengan bunganya dan jikalau tidak kami akan menyegel rumah ini atau mengambil paksa mobil Bapak?”

 

Sebentar, sebentar, beri saya waktu sehari ya. Saya akan melunasinya dan pastikan masalah ini kelar.” Oke?”balasku

 

“Okey Pak aku tunggu janji Bapak, jangan macam-macam dengan kami ya,”

 

“Permisi !”

Oh Tuhan, ini masih belum kelar masalah. Sudah disusul dengan peristiwa yang mengagetkanku lagi. Ku panggil Allan yang kebetulan paginya pulang dan lantas ku kusidang….

 

“Allan, benar kau kalah berjudi dan mobil Papah jadi taruhannya? Lalu 125 juta kau tinggalkan hutang pada Deb Colector. Benar ini?”

 

Anak yang sudah hampir wisuda ini hanya diam. Melenguh. Menunduk.

Hening.

 

         “Sudah lah, lagipula uangnya ada kok. Mamah sudah siapkan di tabungan takt erduga kita. Kita beri Allan peluang untuk bertanggung jawab, dan kasih dia usaha bisnis agar bisa konsisten mempertanggungjawabkan sikapnya itu ya Pah?.”

 

Lagi-lagi aku kalah oleh suara lembut berdesir ini. Efektif sekali. Meluluhlantakkan kejantanan,dan kewibawanku sebagai seorang Ayah pastinya.

 

Selang beberapa tahun kemudian..

Alhamdulillah ,lagi-lagi setahun biduk rumah tangga kami berjalan normal. Tiada masalah berarti. Allan kini sudah mempunyi pekerjaan. Walaupun sebagai Dokter pembantu di salah satu Rumah Sakit Orthopedi di kota Solo..”

 

“Pah, Pah cepetnb Pah, Alvia terjatuh dan hilang. Saat kegiatan berkemah di perbukitan area Pantai Gunungkidul. Belum bisa ditemukan anaknya. Cepetan ke sini Pah.”

 

Haahh, ada apa lagi ini..”

         “Ibu kenapa Mah, ada apa ini?”

 

“Hahahaha, Papah sih melamunnya gak ketulungan. Masih sering terbawa juga ya dari Bujang pacaran sampai sekarang rambut beruban dan juga asal ada angin sejuk sedikit langsung molor deh.” kata Alvia..

 

“Ya gitu deh Papahmu itu Dek, Mas Allan juga gak sabar kadang malah dikagetinnya Papahmu ini.” sambung Mamah

 

Alhamdulillah ini hanya lamunan Ya Allah. Semoga keluarga kecil bahagiaku ini tiada kekurangan apapun. Bisa terus terjaga harmonisnya sampai kami punyai cucu dan tetap tak jauh dari rasa bersyukur.

 

Klinik, toko dan usaha peternakan di daerah Purworejo kami punya. Sekarang aku juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penyantun Panti Asuhan. Kegiatan sosial pun tak jua kami banyak sambangi, untuk menakar bagaimana kami bisa membuang rasa kikir ini, dan menjaga agar harta tetap berkah.

 

Punyai istri yang baik, pintar dan mau berjuang dari bawah. Tak pernh mengekang atau mengatur sama sekali suaminya. Adanya amanah dan kemoderatan yang kau berikan selama ini, tak kurang sudah 28 tahun mahligai ini kita jalani.

 

“Terimakasih ya Mah sudah menemani dan membantu mengatasi kerepotan, ketidakmampuanku dan sejuta kelemahnku yng kau tutupi dengan kelembutan, kepintaranmu.”

 

“Anak-anak telah merasakan pola asuh mu yang jadi Ibu terhebat se Dunia.”

 

Dia hanya seperti biasa, tersenyum simpul kecil, dengan lesung pipit manis yang masih tersisa, tak berkurang saat sedikitpun. Sama saat pertama kali berkenalan di Masjid Kampus.

 

       “Sebenarnya aku tak mampu untuk memadu dan bilang realita ini ke anak-anak. Biarlah nanti tangis Mamahnya yang menjawabnya, dan adil semoga itu yang diharap nanti bisa terealisasi.”fikir ku

 

“Terimakasih ya Istriku…”

Dia memberi ijin dan nanti akan mengusahakan untuk bisa membuat dan membujuk anak-anak bahwa keputusan Papahnya adalah sesuatu yang tepat. Toh ini lebih baik jika di landasi dengan niat ibadah dan daripada zina yang tak ketahuan.

 

         “Mamah tiri kalian adalah seorang janda muda dengan 1 anak yang dimana, suaminya sudah meninggal saat anak itu berusia 2 tahun. Ibu itu juga menghidupi ke 3 adiknya serta satu Ibunya.”kataku

 

Dia kelar D3 dan berpindah-pindah pekerjaan mulai dari jadi Sekretaris, dan diawal kuliah pernah menjadi Buruh Laundry, membaut kue kering dll nya. ”Bayanganku coba mengkhayal saat menjelaskan ini kepada Alvia dan Allan nanti..

 

Seperti yang sudah ku duga. Walaupun Mamahnya anak-anak mengiyakan, entah siapa tahu jika dalam keheningan dia menangis. Memohon sejuta kali agar suaminya ini, yang tak tahu diri. Tak bisa membalas jasa baik dan nilai pengabdian, perjuangan dari seorang istrinya. Malah melukainya.

 

Kan ada petuah. Seorang wanita lebih kuat dengan cobaan ekonomi. Dia terlantar, tak makansehari. Asal masih bersama dan berdua dengan suaminya. Daripada dia diduakan cintanya. Dimadu dan disanding toh dengan wanita resmi, lagi halal atau istri keduanya.”

 

Aku adalah lelaki. Aku tak bisa membayangkan terlalu dlaam. Apa yang ada dibenak setiap wanita bila hal ini terjadi, dan bagaimana berempati, meimajinasikan sakitnya itu.

 

Saat Akad nikah, dan aku menikahi janda dengan 1 anak itu. Hanya Allan yang datang. Itupun terlambat, karena dia ada kunjungan mendadakdi rumah pasiennya.

 

Aku sudah menikah lagi. Aku adalah lelaki yang tak punya rasa. Aku adalah Bapak yang tolol. Karena sudah membuang serta menjauhkan nikmat Tuhan yang tiada terkira ini.

 

Tapi apakah hidup seperti ini saja?. Lempeng-lempeng saja ujian dan cobaan dari Tuhan kita. Adakalanya bukankah ujian yang dibuat Tuhan adalah bertingkat. Sesuai dengn kemampuan dan taraf makhluknya? Ini adalah pembelaan yang sangat naif tentuny jika dilihat dari kaca mata wanita .Tapi aku dan dia adalah sama-sama orang yang berpendidikan. Mamahnya adalah watak seorang perfeksionis moderat. Dia sedari sebelum menikah tak mau terjebak dalam sebuah lingkaran, dilema rasa, yang justru akan mengerdilkannya dan membuat linglung, gila. Potensi yang terus dikejar dan diri yang lebih berdaya atau bisa berdampak ke sosial luas. Ini adalah istriku.

 

“Pah, aku akan ikut Kursus singkat Manajerial Rumah sakit di Bangkok selama 6 bulan. dan sehabis itu aku ada tugas Asistensi Direktur di RS Cipto Jakarta. Jadi anak-anak juga sudah aku jelaskan. Papah, tak usah risau.”katanya

 

Dia sendiri yang menjelaskan, sementara istri mudaku ada di rumah sebelah. Sibuk dengan usaha laundry dan toko kecil yang sengaja aku bukakan buat nya. Agar ada kesibukan dan bisa mandiri tentunya.

 

       “Ah kesempatan emas ini. Aku bisa berbulan madu. Sepuasnya bercengkrama dengan istri mudaku ini. Yaah, aku memang lelaki yang jago bersandiwara.”

 

     “Akting dan pesonaku tak sia-sia. Istriku pertama memang yang tergila gila padaku. Pun toh aku melarat dan punya bini 3, pasti dia tetap mau dan menerimaku.”

 

Kadangkala bisikan Syetan dan suara-suara gelap ini banyak berseliweran di kepalaku. Jika tak ada gema Adzan Musholla kecil di samping rumah yang diimami Mbah Kaum Saujah, mungkin aku sudah semakin menggila dan kehilangan roda arah hidup barangkali.

 

Belum 6 bulan kelar perjalanan dinasnya ke Bangkok. Ini kira-kira hanya 3 bulan dari perkataan dia di awal.

 

       “Papah, jemput aku di Bandara Jogja yahh, aku buru- buru ke Jogja dan pulang Banyuurip, Purworejo. Aku sudah membawa dan mengurus perijinan berobat Ibu agar bisa dioperasi di Singapura sakitnya. Nanti biar Mbak Wida atau Papah yang menjaga Ibu yaa..”kata nya diujung telpon

 

“Aku akan mengantar Ibu ke Singapura, lalu barang sehari ikut menjaga di sana dan kembali ke Bangkok lagi.”

 

“Ya Allah, Ibuku sakit sampai aku lupa akan Beliau. Dan Tuhan telah memberiku Bidadari Sejati yang tak hanya memberikan nya sayap guna membawkau terbang ke bahagia surganya yang abadi. Tapi juga menyapu semua gulana, kelam jiwa serta sempit fikir ini. Ku tak bisa berkata apa-apa, dan kali ini menetes airmata ku. Benar, menetes,a ku sedang tak melamun kali ini..”

 

Ku antarkan Ibu ke Singapore untuk berobat. Kami bertiga, dia aku dan Mbak Wida, istri mudaku. Keduanya tampak mengobrol sepatah dua patah kata. Ya aku tahu ada keengganan, sekat dan sedikit gemuruh atau tangis yang pura -pura ditahan, sakit yang sedikit dimanipulasi agar sehat.

 

Aku tahu, faham sekali watak dia. Tapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Apalagi ini ada di hadapan Ibu. Ibu dulu sebenarnya juga keberatan aku kawin lagi. Tapi kujelaskan untung mudharatnya dan daripada sama saja tak berterus terang. Ada zina, ada wanita lain . Malah lebih sakit dan bla bla bla lainya. Ibu pun jadi sedikit bijak, dengan membolehkanku menikah lagi dengan beberapa syarat.

 

Seminggu Ibu dirawat di Singapore. Selanjutnya, semenara ini Ibu tinggal di Jogja dengan dirawat bergantian aku, Mbak Wida, dan aku juga menyewa Perawat sementara.

 

Ibu lama-lama bisa berjalan ,dan dia bilang ingin ikut menjemput Istriku di bandara.

 

Ini adalah bulan ke 6. Dia pulang dari Bangkok. Sehabis ini barang 2 minggu dirumah langsung bertugas 3 bulan di Jakarta.

 

“Man, kasihani lho si Pelita. Dia itu sudah tak kurang apa coba berbaktinya, setianya kepadamu. Kau tega dengan semua tingkahmu, kebodohanmu, kekhilafanmu dan semua yang ku sadar atau tidak membuat mungkin menangis, merintih sakit dan lainnya? Ibu faham sekali Man, karena Bapakmu dulu juga pernah sekali bermain api dengan wanita lain. Tapi untungnya tidak kawin lagi Bapakmu itu .”kata Ibu..

 

Bandara penuh dengan pesawat kedatangan dan orang yang wira-wiri menjemput familinya dari pesawat .Kulihat wanita tinggi semampai, membawa koper dari arah pintu kedatangan di maskapai Singapore Airlines. Ya dia Pelita, istriku.

 

“Segera ku peluk dan cium keningnya, sementara Wida juga sama memeluk dan sdikit memberikan senyumanya. Kubawa kopernya dan kami bertiga masuk ke Lexus Hitam yang sedikit bisa melegakan dan menghibur panasnya jiwa, dan perasaan 2 wanita yang kini ada di relung jiwaku ini,

 

Pelita sampai rumah, makan malam dan tertidur karena kecapekan mungkin. Pagi nya kami makan bareng, juga sebentar mengobrol.

 

“Pah, tanggal 5 atau 5 hari dari ini, ada sebuah Surat Keputusan dari Pengadilan Agama. Dan aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Sudah aku pertimbangkan masak- masak, aku sudah kalah. Menyerah dan lelah.”

 

         “Ada apa ini Mah? Jelas dan sedikit aku tak faham Mah..” tanyaku lagi

“Sudahlah, nanti ada anak-anak juga berkumpul. Tunggu saja jam 7 kita berkumpul dan juga Mbak Wida yah..”sambung dia

“Pah, aku mau ke kos Avia menjenguk dan membawakan oleh oleh dari Bangkok ya.” izin dia..

 

Sudah hampir 8 bulan setelah aku menikah dengan Wida. Rasanya aku sedikit bisa memenuhi takaran adil kepada keduanya. Aku pasti seminggu sekali akan aku penuhi dan kumpul dengan mereka masing-masib. Nafkah apa yang kiranya meracau, dan kurang?

 

Aku bingng sendiri. Jangan- jangan langsung talak 3 yang Pelita minta.

Aku gamang. Kalut.

Dan tak ingin pernikahan yang sudah jalan 29 tahun ini kandas. Terlalu banyak keindahan dan perjuangan penuh makna yang dalam. Sudah aku lalui dengannya, Aku tak rela. Ku tak mampu jika ini benar terjadi nanti.

 

Tanggal 5. Keesokan paginya. Aku tak bisa lelap tertidur 3 malam sebelumnya.. Ini adalah masalah yang pelik. Mungkin sama ketika dia aku mintai izin untuk menikah lagi.

 

Anak-anak sudah berkumpul. Avia yang sudah datang 2 hari sebelumnya, lalu Allan dan pacarnya. Serta Pelita. Istri mudaku Wida dan Eci anaknya dari suami terdahulu. Semua telah lengkap.

 

“Papah. Mohon kuatkan diri. Ikhlaskan. Ini adalah sudah matang dipertimbangkan oleh Mamah, dan Alvia mendukung, pun juga Mas Allan. Ya jadi ikhlaskan saja ya Pah..”ujar Alvia

 

         “Dan ini hanya sementara. Toh, di surga nanti kan dapat Bidadari dan pasangan sendiri lagi kan Pah?”sambung Pelita

“Nothing to lose saja Pah. Santai. Lelaki gitu lhoo.” Allan malah menggodaku.

“Ya sudah Mamah bilang saja. Langsung. Papah keburu pingsan nanti..” sergap Avia…

 

         “Papah, Mamah mau bilang. Paska Papah dan Mbak Wida akad nikah.. Mamah sudah bijak dan matang mempertimbangkan ini semuanya. Bahwa aku sudah tidak tahan, lelah, kalah. Dan kemarin juga dilangsungkan akad, walau secara agama dulu. Belum secara legal hukum pemerintah. Aku sudah sakit dan tak tega, jadi membuat ini keputusan tidak secara serampangan. Aku tidak izin Papah, dan sengaja hanya kami bertiga berembug kemarin di kos Avia.”ujar nya

 

“Besok Papah datang ya resepsi pernikahannya. Bawa Mbak Wida serta Eci juga lho.”

“Papah kuat yah..”hibur Allan

 

Dunia serasa gelap dan aku bisa kali ini langsung terkapar jantung koronerku kambuh tiba-tiba. Keringatku sudah banjir mengucur. Mataku merah menyala. Kepala berkunang-kunang.

 

Alvia diam merunduk. Allan malah sedang cuek babys main games dengan pacarnya. Mbak Wida bingung.

 

         “Maksudnya apa ini Mamah?” Aku masih bingung.” tanyaku

“Yaelah. Dokter kok lemot. Okay, sebulan lagi Papah datang saja ke resepsiku.”jelas Pelita.
“ Apa resepsimu? “tambah mual rasanya.

         “Sama lelaki mana? Mamah poliandri? Aku masih tak percaya.”

Mamah diam. Alvia menahan sedikit tawanya. Allan sengaja tambah cuek saja, dan pura-pura tertidur sambil merenges.

       “Wah Papah katanya Dokter, kok lemot, jadi murid SLB yaah?”ejek Alvia.

 

“Iyah Papah, Mamah mau datang dan   di resepsi Allan sama pacarnya. Kan uda resmi jadi pasutri. Jadi perayaannya saja. Begitu lho Papah cakep.”ujar Pelita

 

Haah, rasanya seperti asma yang sedikit kendor karena menghirup obat peleganya.

Pelita, istriku ini memang jagonya membuat surpries. Aku selau saja ada celah untuk dibuat KO olehnya. Pantesan saja aku tak bisa mengelak. Dan sekalinya kalah, gejala jantung yang menyapaku.

 

“Mungkin kau bukan manusia Mah, tapi separuh jelmaan Malaikat Surga” batinku.

“Kesabaranmu tiada yang menandingi Mah….”.Wanita tersabar di dunia,yang mampu memahamiku, dan tahu semua kekuranganku. Pun aku sakiti,dan lukai. Tapi tetap tegar,dan ada untukku. Sampai ada kesuksesan, pencapaian di hidupku sampai saat ini.”