Dawet Ireng Sri

Dawet Ireng Sri

Panen padi baru saja usai. Hamparan sawah membaringkan lelah, menikmati masa jeda sebelum musim tanam tiba. Sejauh mata memandang, terlihat pokok rumpun padi sisa tebasan sabit petani. Tak lama lagi, rintih hujan akan menjadi penanda kapan petani kembali menggarap sawah.

 

Panen di masa kini, petani tak lagi memakai ani-ani, karena memerlukan waktu yang melahap perjalanan hari. Dulu, tangan-tangan perempuan dengan penuh kesabaran mengetam satu persatu tangkai padi. Lanskap pemandangan yang terekam indah dalam kanvas pelukis naturalis.

 

Sekarang panen lebih praktis, batang-batang padi disabit kemudian dipukulkan ke bilah-bilah bambu. Bulir-bulir padi atau gabah rontok, seperti anak yang lepas dari gendongan ibu. Begitu timbunan gabah di terpal plastik menggunung, tangan-tangan petani menciduk bulir padi dengan caping dan mengangkatnya cukup tinggi. Pelan-pelan gabah-gabah dimuntahkan kembali. Hembusan angin akan menerbangkan kotoran dan bulir padi gabuk tak berisi.

 

Seusai panen, petani pulang memikul sekian karung gabah, meninggalkan  batang padi yang berserakan, bersiap busuk menjadi pupuk atau hangus dilalap api. Jika pemanen tadi hanya buruh tani, jerih payahnya akan mendapat upah seperenam dari gabah hasil kerja.

 

Tak lama, satu dua perempuan datang, mencari sisa-sisa tangkai padi yang tercecer atau selamat dari tajam sabit. Esok hari, peternak bebek akan menggiring ratusan bebek peliharaannya untuk mencari makanan yang terpendam di sela jerami. Begitu indah dan eloknya alam berbagi rejeki.

 

Dalam terpaan terik matahari, seorang perempuan terlihat duduk di tepian pematang. Tak jauh darinya, lelaki tua sibuk mengumpulkan serpihan tangkai padi.   Panji menatap dari kejauhan. Rasa penasaran menggerakkan langkahnya. Seperti Jaka Tarub mengendap-endap mendekati bidadari Nawang Wulan yang sedang mandi di sendang.

 

“Siapa engkau?” tanya Panji terbata saat mencium aroma wangi. Pasti perempuan ini bidadari yang memakai parfum dari surga hingga terik matahari tak sanggup memudarkan wanginya.

 

”Namaku Sri.”

Jawaban lembut dari bibir perempuan itu membuat Panji terpana. Walau berbalut kain batik dan kebaya sederhana, Sri memancarkan pesona kecantikan tiada tara. Wajah dan kulit tangannya putih bersih, mungkin matahari menyerah atau tak tega membakar kulit indah.

 

Sebaris tanya menyeruak, “Apakah engkau titisan Dewi Sri, Dewi Kesuburan yang menjaga tumbuhnya batang-batang padi?”

 

Senyuman indah mengayunkan ingatan pada dongeng yang pernah dirangkai ayah, di suatu malam yang basah. Sambil mendongeng, ayah membelai lembut helai-helai rambutnya. Saat itu, Panji kecil berusaha terjaga hingga akhir cerita.

 

Suatu ketika di masa kejayaan para dewa, Antaboga gundah gulana. Batara Guru memerintahkan seluruh penghuni kahyangan bergotong-royong membangun istana. Siapa berani membantah perintah, harus siap dipotong tangan dan kakinya.

 

Sebagai dewa beraga ular, ia tak punya tangan dan kaki. Bagaimana bisa membantu membangun istana. Jika harus menerima hukuman, bagian tubuh mana yang akan dipenggal Batara Guru.

 

Tetesan airmata Dewa Anta perlahan jatuh terantuk tanah. Ajaib! Bukannya pecah berhamburan, tiga tetes airmata menjelma telur mustika. Barata Narada menyarankan agar telur itu dipersembahkan kepada Batara Guru sebagai permohonan ampun.

 

Dengan mulut mengulum tiga butir telur mustika, Dewa Anta berangkat menuju kahyangan. Di tengah perjalanan, seekor burung gagak memekikkan tanya, ”Hendak pergi kemana engkau ular raksasa?” Karena mulutnya penuh telur, Dewa Anta diam seribu bahasa. Sang gagak marah dan menyerangnya.

 

Sebutir telur mustika di mulut Dewa Anta jatuh dan pecah. Ia pun bersembunyi di kerimbunan semak-semak, menunggu perginya gagak. Saat Dewa Anta keluar dari persembunyian, burung gagak yang masih mengintai langsung menyambar. Telur kedua pecah. Dewa Anta melarikan diri menyelamatkan telur mustika terakhir.

 

Tiba di istana, Dewa Anta segera mempersembahkan telur mustika pada Batara Guru. Dewa Anta diperintah untuk mengerami telur itu. Setelah sekian lama, akhirnya telur mustika menetas juga. Keajaiban terjadi lagi. Bukan bayi ular yang keluar dari retak cangkang, tapi bayi perempuan cantik jelita. Batara Guru dan permaisurinya terpikat dan memungutnya  sebagai anak angkat.

 

Dewi Sri demikian bayi itu diberi nama, tumbuh menjadi bidadari cantik, baik hati, dan luhur budi bahasa. Dalam sekejap, Dewi Sri menjelma menjadi idola para dewa. Jika ada kontes kecantikan di kahyangan, Dewi Sri pasti keluar sebagai juara.

 

Ternyata, Batara Guru diam-diam menyimpan hasrat untuk menyunting Dewi Sri. Gelagat tak baik itu, membuat dewa-dewi kuatir karena bisa merusak harmoni kehidupan kahyangan. Mereka sepakat membunuh Dewi Sri.

 

Dalam muslihat tipu daya, minuman bertabur racun merenggut nyawa Dewi Sri. Untuk menghapus jejak, jenazahnya dimakamkan di tempat tersembunyi di sudut bumi. Walau dipendam lapisan tanah, kesucian hati dan kebaikan budi akan menebarkan wangi. Dari pusara Dewi Sri tumbuh benih padi, tanaman pokok rakyat seluruh negeri.

 

Apakah perempuan yang duduk di hadapannya adalah penjelmaan Dewi Sri? Pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Panji rupanya terbaca oleh Sri.

 

“Kalaupun aku titisan Dewi Sri, untuk apa aku bersusah payah menjaga pepadian kalau pemuda-pemuda desa seperti engkau lebih memilih hidup di kota?”

 

Jawaban lembut itu seperti gigitan semut. Tak terdengar mengkritik tapi terasa dicubit. Panji merasa desa kelahirannya semakin tua, tak memberi harapan apa-apa. Makanya, ia memilih merantau dan bersusah payah menaklukkan kerasnya kehidupan Ibu kota.

 

Namun, sebenarnya ia heran bagaimana desa lewat perantara orangtuanya  selalu setia melimpahkan berkah hasil bumi menuju kota. Bahkan setiap ada kebutuhan mendesak, Panji kadang merengek pada orangtuanya. Ayah dengan sigap akan segera membantunya. Dengan kereta kelas ekonomi, Ayah datang ke kontrakannya dengan membawa satu dua kardus berisi jajanan dan hasil bumi serta  sekarung beras.

 

Kalau di sesak dan bising kota Panji masih bisa bertahan hidup. Seharusnya sepi desa tak menggentarkan nyali.

 

“Sawah-sawah di kampung ini membutuhkan tenaga-tenaga muda. Ayahmu sudah terlalu tua untuk mencangkuli sawah.”

 

Panji menatap lelaki tua yang sedang membakar tangkai padi atau merang hingga menjadi abu. Lelaki tua itu setengah membungkuk menghampiri Sri tanpa sepatah kata. Dari sikapnya, terbaca jelas bahwa lelaki itu begitu menghormati Sri. Ia meletakkan abu merang di ayakan bambu. Mungkin ini rahasia mengapa rambut Sri panjang hitam berkilau.

 

Sewaktu kecil, Panji sering melihat ibunya mencuci rambut dengan abu merang. Hasilnya, rambut ibunya hitam panjang dan tak pernah rontok. Kearifan lokal itu sudah dikemas dalam botol-botol sampo dan menghiasi etalase pusat perbelanjaan. Sekarang, kita tak perlu repot membakar merang sebelum mandi.

 

Semilir angin mengalirkan alunan langgam dari mulut Sri. Panji duduk di pematang, meresapi makna lantunan nada. Sri nampak anggun mengayak abu merang. Suasana menjadi syahdu, ketika tetesan airmata mengalir perlahan dari mata Sri dan jatuh membasahi merang. Gejolak perasaan perempuan memang sulit diterka.

 

Sri terus menyanyi seakan tak peduli pada deras cucuran airmata. Ketika menyentuh merang, bening airmata mengental hitam, menerobos lubang ayakan bambu dan jatuh ke belanga.

 

Panji takjub melihat pemandangan yang terhampar di depan mata. Apakah ini sekedar mimpi?

— oOo —

Panji terjaga dan mendapati tubuhnya duduk di hamparan rumput tepi jalan raya. Semilir angin di bawah pohon mahoni rupanya telah meniupkan kantuk ke pelupuk mata. Entah sudah berapa lama ia terlelap.

Dua mangkuk kosong tergeletak di rerumputan. Dawet ireng yang sebelumnya memenuhi mangkuk telah berpindah ke lambungnya. Seketika ia teringat peristiwa aneh yang baru saja melintasi alam mimpi. Cucuran airmata Sri yang hitam mengental serupa dawet ireng kembali terbayang.

“Nak, dawetnya mau tambah lagi?”

Panji menatap lelaki tua yang sedang duduk di gubuk bambu beratap anyaman daun kelapa dengan bentangan spanduk bertuliskan: Dawet Ireng Sri, Asli Desa Butuh – Purworejo. Sekilas, kakek penjual dawet ireng itu begitu mirip dengan sosok lelaki tua yang mendampingi Sri.

“Satu mangkuk lagi ya Pak.”

Dengan sigap ia menciduk dawet ireng dari belanga tanah. Air gula merah dikucurkan dengan sendok yang terbuat dari batok kelapa. Putih santan mengucur dari parutan kelapa yang terbungkus pelepah kelapa. Merah gula, putih santan kelapa, simbol yang senada dengan warna bendera negara. Ternyata, walau berwarna hitam, semangkuk dawet juga menyiratkan aroma nasionalisme.

”Tak usah terlalu merisaukan mimpi, Nak.”

Sepertinya lelaki tua itu bisa membaca keresahan di alam pikirannya. Rasa penasaran melontarkan sebaris tanya.

”Kek, apakah dawet ireng ini berasal dari airmata Dewi Sri?”

Lelaki tua itu tersenyum sambil menyentuh bahu Panji. Seketika kedamaian merasuki raganya.

“Tak perlu merisaukan airmata. Selama pepadian masih tumbuh, kita semua akan merasakan kesegaran dawet ireng.”

Seorang gadis datang dan memarkirkan sepeda othelnya di dekat gubuk. Ia mencium tangan lelaki tua itu sebelum duduk di bangku kayu. Gadis itu melempar senyum. Seketika Panji mendapati senyum Sri, gadis yang ditemuinya di alam mimpi.

 

— oOo —

Depok, 2013-2016