Dibalik Orang Humoris Ada Hati Yang Teriris

Dibalik Orang Humoris Ada Hati Yang Teriris

Mempunyai teman yang humoris memang sangatlah mengasyikkan. Kepandaian menghidupkan suasana, membangun keceriaan ataupun menghibur orang-orang di sekelilingnya adalah nilai plus yang ia miliki. Pernahkah terbesit dalam benakmu dibalik orang yang humoris ternyata ada hati yang teriris?. Dibalik senyum tawanya ada hati yang terluka?. Jika pun benar adanya, apa sebab dia mencanda padahal perasaannya sedang berduka?. Bertingkah konyol bahkan terlampau bodoh padahal jiwanya sedang roboh?. Apa alasannya?. Tulisan kali ini akan mimin sedikit uraikan sisi lain dari sesosok orang yang humoris yang tak banyak orang ketahui.

 

Ada hati teriris dibalik orang humoris. Menurutku, petikan kalimat tersebut benar adanya. Kenapa demikian?. Ini adalah jawaban pribadi berdasar pengalaman dan juga informasi yang aku tangkap.

 

Ciri orang humoris salah satunya jarang meminta solusi kepada orang lain. Dia bahkan cenderung lebih banyak memberi solusi ketimbang menerima solusi. Kebanyakan menilai bahwa orang humoris adalah orang yang jarang dilanda masalah, jarang bersedih, dsb. Itu lumrah karena semua kesedihan dan masalah yang dipunyainya ia simpan dan tutupi dibalik senyum tawanya. Tertawa tak ubahnya sebuah topeng untuknya. Dia tak ingin orang lain tahu betapa besar masalahnya. Orang humoris bukanlah sosok yang gemar dikasihani.

 

Maka dari itu ia sungkan memperlihatkan kepedihannya di permukaan. Dia juga merasa malu. Maka dari itu ia menutupi semuanya. Kenapa malu?. Karena sosok orang yang humoris banyak memberikan solusi kepada teman yang sedang kesulitan. Mengeluarkan kata-kata hebat hingga membuat pikiran orang lain terbuka. Dia malu, malu karena tak bisa mendalami kata-katanya sendiri. Malu karena solusinya tak mempan didirinya. Malu karena hatinya tak sekuat penampilannya. Ia mencoba tampil seceria mungkin di publik. Karena baginya hati yang bersyukur dan senyum yang terurai adalah kunci melawan perasaan yang  bersedih.

 

Seorang yang humoris merupakan sosok yang pandai berbaur dan juga berteman. Tapi aku amat yakin seorang yang humoris hanya memiliki 1 atau 2 teman saja yang bisa diajak bercerita tentang persoalan hidupnya. Mungkin dia terlihat humble dan blak-blakan dalam berbicara. Tapi ketahuilah dia hanya akan bercerita kisahnya kepada orang yang benar-benar membuatnya nyaman untuk bercerita.

 

Gambaran lain tentang orang humoris adalah fleksibelitas yang ia miliki. Apapun situasi yang dihadapi ia dapat menyikapinya dengan cara-cara yang segar. Mau susah, kere, lapar, haus dia tetap hepi-hepi saja. Bahkan dia tak segan menularkan cerianya dan menghibur rekan-rekannya dengan candaan khas miliknya. Mungkin atas dasar inilah orang yang humoris mudah dirindukan banyak orang. Semisal acara temu kangen, reuni sekolah, dan semacamnya, pasti sosok yang paling sering dicari adalah teman yang humoris. Tak banyak orang di dunia ini yang memiliki karakter demikian. Perlu ditekankan orang humoris dengan orang polos itu berbeda apalagi yang kekanakan ataupun alay. Simpelnya orang humoris sengaja membuat dirinya sebagai bahan lelucon dan orang polos kurang sadar kalau dirinya sedang ditertawakan.

 

Sekarang beralih ke topik asmara. Bukan maksud ku mengajak kalian berburu cinta apalagi pacaran. Karena pacaran itu tidak bagus untuk hati, jiwa, dompet, sampai rekening pahala. Terlalu banyak pencitraan, sandiwara, unsur terselubung berdasar nafsu di dalam pacaran yang dibungkus atas nama kasih sayang. Preeett!.

 

Orang yang humoris itu sejatinya adalah orang yang sangat romantis. Kebanyakan orang menilai sosok humoris bukanlah orang yang pandai mencipta romantisme. Lu salah bray. Sebagian besar wanita secara sadar lebih senang memilih cowok humoris daripada yang romantis. Katanya, cowok romantis itu membosankan. Dikit-dikit kasih bunga. Padahal kan masih hidup kenapa sedikit-sedikit dikasih bunga? Kayak kuburan aja. (wkwk). Dan wanita berpikir kelemahan orang humoris itu kurang romantis. Coba sesekali survei lapangan tanyakan ke mbak, tante, mbah atau siapa saja yang suaminya sosok yang humoris. Kamu akan mendapati jawaban tentang fakta yang satu ini.

 

Bahwa orang humoris adalah orang yang juga sangat romantis. Seandainya kamu salah satu orang yang beruntung memiliki pasangan yang demikian berarti kamu dapat keduanya, ya humoris ya romantis. Karena orang romantis belum tentu humoris, tapi orang humoris sudah pasti romantis. Di catet noh. (wkwk). Tapi jangan jadikan semua ini patokan dalam memilih pasangan. Ini hanya poin plus. Yang utama tetaplah lihat dari ukuran keimanannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

 

Menjadi sosok humoris bukanlah hal yang mudah. Mental dan kecerdasan adalah modal utamanya. Dia dengan sadar membiarkan orang lain menertawakannya dan bahkan dia juga ikut tertawa di dalamnya. Tapi orang humoris cenderung dianggap kurang serius dalam menyikapi sesuatu. Padahal itu adalah opini yang keliru. Bahkan saat dalam mode serius alias tidak sedang bercanda tak jarang  orang humoris tetap ditanggapi dengan tawa temannya. Repotnya jadi orang humoris dalam asmara pun juga demikian. Tak jarang hal ini menjadi kerikil dalam menggaet pujaan hati. Meskipun dia senang bercanda tapi hatinya tak sebecanda itu kali. (wkwk). Orang humoris itu dasarnya care akan sesama. Meski terlihat cuek akan keadaan tapi dia begitu peduli dengan orang lain. Hanya saja ia punya caranya sendiri dalam menunjukkan rasa kepeduliannya.

 

Jangan lihat orang hanya dari permukaan. Seorang yang humoris punya caranya sendiri dalam meredam suasana hatinya. Terkadang orang yang bisa membuat orang lain tertawa dan ceria itu menyimpan rasa yang lebih pedih. Karena tidak ada orang lain yang berhasil menghiburnya alhasil dia menghibur dirinya sendiri dengan cara menghibur orang lain. Karena baginya kebahagiaan sesungguhnya tercipta saat dia mampu membahagiakan orang lain. Dia tak ingin orang lain tahu betapa tersiksanya dia. Terlebih orang yang menyayanginya turut bersedih karenanya. Dia paham senyum dan tawanya bukanlah tanda bahwa dia orang yang sok kuat. Tapi karena senyum dan tawanya juga alasan kenapa orang lain juga tersenyum dan menjadi kuat. Dia percaya akan kemampuan dan usahanya dalam melawan kesedihan. Bukan berarti ia tak menerima uluran tangan orang lain. Hanya saja orang humoris juga yakin Allah selalu bersamanya dalam setiap persoalan dan kisah sedih yang ia hadapi.

 

Penulis: Rizal Adi Saputra

Illustrasi: irstmet.com