Dijamin! 8 Fakta Tentang Ibu Ini, Bikin Kamu Makin Cinta

Dijamin! 8 Fakta Tentang Ibu Ini, Bikin Kamu Makin Cinta

Foto anak dan ibu (source: watercourseway.com)

 

Tanggal 22 Desember memang sudah lewat. Tapi, apa iya merayakan hari ibu cuma pada hari itu saja? Yup, kamu benar, Guys! Hari ibu bukan hanya satu hari, tapi setiap hari. 

Rasanya tidak adil kalau kita hanya mengingat ibu satu hari dalam setahun. Padahal beliau selalu mengingat kita di sepanjang waktunya. Mau bukti? Cek this out!

 

1. Menahan payah ketika mengandung

Perjuangan seorang ibu, sebenarnya dimulai jauh sebelum menikah. Ia harus mempersiapkan lahir dan batin dirinya untuk menjadi ibu, mencari calon ayah yang terkadang penuh drama, dan membekali diri dengan segudang petuah wong tuo dan pengetahuan lainnya tentang seni mendidik anak.

Namun, secara kasat mata, orang-orang bisa melihat perjuangan seorang ibu dimulai sejak ia dinyatakan positif hamil. Semua rasa tumpah ruah bersatu dalam diri. Perubahan hormon membuat semua hal yang enak menjadi tak ada nafsu. Jangankan mengecap, membauinya saja sudah membuat perut meluapkan isinya. Bahkan banyak calon ibu yang harus mendapatkan perawatan intensif karenanya. Belum lagi, perubahan fisik yang membuat badannya lebih lebar.

Beban yang dibawa setiap saat bukan halangan bagi seorang ibu untuk tetap beraktivitas, di kantor ataupun rumah. Meski kepayahan, kesulitan dan serba tak enak, ibu tetap bergembira dengan kehadiran kita dalam rahimnya. 

 

2. Bertaruh nyawa saat melahirkan

Rasanya semua kepayahan ketika mengandung masih belum cukup. Seorang ibu, masih harus bertaruh antara hidup dan mati saat melahirkan kita. 

Ribuan urat terputus, literan darah tertumpah, nyeri, pedih, atas sayatan, dan jahitan terasa hilang, saat mendengar kita menangis. Bahkan, tak sedikit ibu yang menghabiskan napasnya saat melahirkan. Maka, sangat beruntunglah kita yang masih memiliki ibu.

 

3. Menjadi satpam sepanjang siang dan malam

Setelah melahirkan, seorang ibu masih harus menjaga anaknya siang dan malam, seolah tak pernah tidur. Kapan pun kita merengek, beliau selalu siaga.

Sungguh, sangat berat menjadi seorang ibu.

 

4. Menjadi petugas kebersihan

Jika saja di rumah selalu dipasang CCTV yang merekam semua jerih payah ibu saat mengasuh anaknya sejak bayi, sungguh kita takkan dapat mempercayai bahwa beliau bisa sekuat itu. 

Demi menjaga kenyamanan buah hatinya, ibu rela beralih profesi setiap saat menjadi apapun yang kita butuhkan. Hatta sedang makan, lalu kita PUP di hadapannya, beliau akan sigap menunda makannya demi membersihkan kita.

 

5. Menjadi koki

Ibu adalah multi profesi. Tak salah memang, selain satpam, petugas kebersihan, guru, psikolog, ibu juga terkadang beralih menjadi seorang koki. Demi apa? Demi memastikan kita tidak kelaparan dan tetap sehat. 

 

6. Mendahulukan kepentingan anak-anaknya, di atas kepentingan pribadi

Tentu kita telah sering mendengar kalimat ini: Saat makanan terbatas hanya untuk anak-anaknya, ibu akan berkata, "Ga apa-apa, makan duluan aja, ibu masih kenyang."

Ini penipuan, Guys. Ya, ibu menipu kita. Demi apa? Supaya kita tetap lahap tanpa khawatir kekurangan.

Atau, saat keadaan sulit harus memilih antara biaya sekolah dan berobat dirinya, beliau, superwoman kita akan berkata, "Pakai aja dulu uang ini, ibu sudah sehat."

Lagi! Dalam situasi seperti ini ibu akan beralih menjadi seorang aktris, yang berhasil menipu kita dengan tebar pesona menyembunyikan sakitnya. 

Inilah fakta yang tidak banyak diketahui oleh kita.


7. Merasa sakit, saat menghukum

Ada kalanya, kita tak selalu patuh. Melanggar beberapa aturan atau perintah. Dan ibu akan memberikan konsekuensi dari pelanggaran tersebut. 

Siapa yang tersakiti di sini? Kita kah yang dihukum? Salah! Ibulah yang merasakan sakitnya. Sejatinya, saat ibu sedang menghukum kita, beliau sedang mengiris hatinya sendiri. Tangisnya tak tampak, tertahan, dadanya sesak tak terkira.

Ini adalah fakta lain yang tidak banyak kita ketahui tentang ibu.

 

8. Selalu menganggap kita kecil, meski kita telah dewasa

Dimata ibu, kita tetaplah anak kecil yang masih membutuhkan bimbingan dan nasihatnya. Sudah sedewasa apapun kita.

Nah, Guys. Dengan sebegitu berat penderitaan ibu, masihkah kita akan menganggapnya biasa? Atau melawannya? Berkata kasar padanya, seolah beliau seorang pandir lagi tuli? Masihkan kita  abaikan keinginan dan nasihatnya?

Ah, rasanya tidak akan sanggup.