Filosofi Pernikahan Adat Jawa Yang Penuh Makna, Orang Jawa Wajib Tahu!

Filosofi Pernikahan Adat Jawa Yang Penuh Makna, Orang Jawa Wajib Tahu!

Foto via kamerabudaya.com/

 

Hay guys Jumpa lagi bersama saya si gadis Jawa Lailatul Mubarokah. He he he

Indonesia merupakan negara majemuk dengan beribu adat dan budayanya. Kali ini saya akan menjelaskan kepada sahabat mengenai Filosofi Pernikahan adat Jawa yang penuh makna. Pasti penasarankan?

Kali ini, saya akan menjelaskan makna upacara mantu menurut adat Jawa. Penasaran?

Upacara mantu menurut  adat Jawa meliputi :

 

LAMARAN
Lamaran merupakan tatacara yang pertama kali dilakukan bagi orang yang  hendak menikah. Pada acara ini, pihak laki-laki beserta keluarganya datang ke rumah keluarga pengantin putri dengan tujuan “Nembung” (mengajak) calon pengantin membangun mahligai rumah tangga (menikah). Setelah pihak pengantin putri menyetujuinya, tatacara lamaran bisa diteruskan menuju proses adat Jawa selanjutnya.

 

PANINGSET
Setelah ada persetujuan kedua calon pengantin, lalu diadakan upacara PANINGSET. Paningset bisa disebut juga naleni atau talenan (menali). Upacara ini dilakukan dengan cara Liru Calpika atau tukar cincin. Selain cincin,  ada lagi lhoo gengs yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Yaitu seperti emas ( gelang, kalung, suweng, anting-anting, dll ), Jajanan ( jadah, wajik, jenang, roti, dll ). Ini menyimbolkan tanggung-jawab calon pengantin putra.

 

TARUB DAN PASANGAN TUMBUHAN
Sehari-dua hari mendekati hari Mantu, diadakan tarub dan pasang tumbuhan. Kata “Tarub” berasal dari “ditata supaya murub” (ditata agar hidup). Maksudnya, rumah dari calon pengantin putri dibersihkan agar suasana lebih asri dan indah sebelum menerima datangnya tamu dan upacara pengantin.

Pada acara Tarub, dipasang rerenggan ( hiasan ) yang dibuat dari janur atau alat dekorasi lain. Lalu, disiapkan juga meja-kursi untuk  menerima tamu. Bagaimana kamu tertarik dengan gadis Jawa?

 

SIRAMAN
Sehari sebelum upacara pernikahan, diadakan Siraman di rumah  calon pengantin putri. Acara Siraman dilakukan oleh sesepuh di keluarga pengantin putri . Tujuannya yaitu untuk membersihkan pengantin putri agar bersih lahir-batinnya.

 

MIDODARENI
Malam sebelum upacara pernikahan, di rumah calon pengantin putri diadakan “Midodareni”. Yaitu Lek-lekan ( begadang) atau disebut juga tirakatan yang dilakukan keluarga. Pada momen ini sesepuh keluarga calon pengantin memimpin doa kepada Tuhan agar upacara pernikahan berlangsung lancar, tidak ada halangan suatu apapun.

Di samping itu juga diadakan upacara penebus Kembar Mayang yang dimaksudkan sebagai penghargaan yang dibuat dari Janur dan degan (kelapa muda).

 

UPACARA PENGHARGAAN
Upacara Penghargaan mewujudkan inti dari upacara pengantin. Upacara ini disebut juga panggih ( temu manten ). Urut-urutannya yaitu  :

 

1. Datangnya pengantin putri
Pengantin putri keluar dengan memakai busana pengantin dan didandani sehingga cantik menawan menuju rinengga (pelaminan). Pengantin putri diikuti oleh putri domas, batir, dll

2. Datangnya pengantin putra.
Pengantin putra beserta rombongan (Keluarga besan) datang dari rumah menuju upacara pengantin dikediaman pengantin putri. Saat sampai di kori penghargaan ( pintu penghargaan) berhenti dahulu untuk upacara lung tinampi (pasrah-tampi)

3. Tatacara Lung-Tinampi
Pasrah yaitu pihak keluarga pengantin putra mewakilkan satu orang (biasanya Lurah/mantan Lurah) untuk pidhato yang isinya memasrahkan pengantin putra kepada keluarga pengantin putri. Tinampi atau Panampi yaitu pidhato yang dilakukan oleh wakil keluarga calon pengantin putri untuk menjawab pasrahnya keluarga pengantin putra.

4. Dhaup/Panggih
Pengantin putra dan pengantin putri dipertemukan dengan cara pengantin putri mencium punggung tangan pengantin putra. Pada upacara ini juga diadakan upacara balangan gantal, ngidak tigan (menginjak telur) oleh pengantin putra, minum air suci, lalu pengantin putra-putri berdiri bersampingan dengan dituntun oleh bapak pengantin putri menggunakan sindur/selendang yang direbahkan di punggung kedua pengantin menuju di kursi pelaminan.

5. Upacara Krobogan
Setelah pengantin putra-putri duduk berdampingan di kursi pelaminan dengan dibersamai orangtua pengantin putra-putri, diadakan upacara Krobogan.

Upacara adat ini meliputi Sungkeman ( pengantin putra-putri sungkem dengan orang tuanya bergantian), Dulangan ( suap-suapan antara pengantin putra-putri), dan Kacar-Kucur ( Pengantin putri mengucurkan beras dan diterima oleh pengantin putri).

Nah, itu dia gengs filosofi pernikahan adat jawa yang penuh makna. Yang tidak tahu jadi tahu kaan, dan yang sudah tahu jadi semakin tahu pastinya. Semoga bermanfaat.

 

Refreansi: LKS  Bahasa Jawa SMA (susunan Guru-guru  Bahasa Jawa se kab. Grobogan)