Guru Abad 21 yang Dirindu

Guru Abad 21 yang Dirindu

Menjadi guru di era milenial bukanlah perkara mudah. Arus teknologi dan informasi yang cukup deras, membuat para guru harus bersiap menghadapai anak-anak abad 21 ini. 

 

Keberhasilan seorang guru di era milenial tidaklah cukup berbekal sertifikasi, jumlah jam mengajar ataupun tunjangan profesi saja. Karena untuk bertahan menjadi guru zaman now, kuncinya adalah inovasi dan kreativitas. Guru wajib sadar bahwa waktu terus berputar, masa berubah dan siswapun akan berkembang sesuai dengan zamannya. 

 

Pada zaman ini peranan guru telah diatur dalam UU no. 14 tahun 2015 tentang guru dan dosen menyebutkan bahwa guru sebagai agen pembelajaran yang harus menjadi fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran dan pemberi inspirasi bagi peserta didik. 

 

Peranan tersebut menunjukkan bahwa guru tidak hanya mengajar di depan kelas, bahkan telah berubah arah bertindak hanya sebagai katalis. Bukan orang yang serba tau dan serba ingin memberitahu. 

 

Guru bukanlah orang yang harusnya mendominasi kelas seperti yang banyak terjadi. Siswalah yang harus banyak mengeksplor, mendominasi kelas dan aktif dalam pembelajaran. Namun bagaimana semua akan terjadi jika gurupun tak paham akan perannya yang sudah berganti diabad ini. 

 

Faktanya memang kita harus menerima kenyataan pahit dunia pendidikan, bahwasanya  jauh panggang dari api. Harapan yang diinginkan dari sosok seorang guru yang memiliki keterampilan dalam mengajar serta mendidik ternyata jauh dari realitas yang ada. 

 

Kualitas guru di Indonesia masih memprihatinkan dilihat dari berbagai sisi.  Hal tersebut terlihat dari 3,9 juta guru, 25% diantaranya belum memenuhi syarat kualifikasi akademik, sedangkan yang belum memiliki sertifikat profesi ialah sekitar 52%.


 
 Hasil lain yang cukup memprihatinkan adalah penelitian dari Konsorsium Ilmu Pendidikan memperlihatkan bahwa 40% guru SMP dan 30% guru SMA mengajar bidang studi di luar bidang keahliannya. 

 

Hal ini tentu menjadi penyebab salah satu alasan rendahnya kompetensi guru. Banyaknya guru yang mengajar bukan bidang studi yang digelutinya karena persoalan kurangnya guru bidang tersebut. Permasalahan ini seolah turun temurun dan berkelanjutan tanpa bisa diatasi kecuali dengan bantuan pihak pemerintah yang langsunng turun tangan.

 

Permasalahannya adalah  bagaimana guru dapat menghadapai tantangan ditengah perkembangan pesat arus modernisasi dengan baik, jika profesionalismenya saja masih dipertanyakan. Bagaimana pula guru siap dengan siswa abad 21, jika masih enggan meningkatkan kompetensinya. 

 

Fakta lain juga terlihat dari hasil ujian kompetensi guru tahun 2015 yang menunjukkan hasil mengecewakan. Nilai tersebut tidak sesuai dengan apa yang harapkan oleh pemerintah. Rata-rata UKG nasional 53,02, sedangkan pemerintah menargetkan rata-rata nilai di angka 55. 

 

Selain itu, rerata nilai profesional 54,77, sedangkan nilai rata-rata kompetensi pendagogik 48,94. Data-data yang di dapatkan diatas menunjukkan bahwa guru di negeri ini masih butuh banyak perhatian.

 

Melihat berbagai fenomena tersebut setidaknya membuat kita tersadar mengapa kualitas pendidikan di negeri ini termasuk kategori rendah. Karena sebaik apapun kurikulumnya, siapapun menteri pendidikannya dan apapun kebijakan pendidikannya tidak akan berjalan dengan baik tanpa didukung dengan guru-guru berkualitas. Karena guru menjadi kunci, maka perannya pun sangat berpengaruh terhadap pendidikan itu sendiri. Ibarat oase di padang tandus, kehadirannya kini begitu dinanti. 

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu yang menjadi penyebab kompetensi guru yang rendah terebut ialah masih banyaknya guru yang enggan mengembangkan diri untuk menambah pengetahuan dan kompetensi dalam mengajar. 

 

Guru masih membawa teori-teori lama dan tak ingin membuka diri menjadi lebih baik lagi. Sudah semestinya  seorang guru harus memiliki jiwa tidak pernah lelah untuk terus belajar. Karena ketika seorang guru berhenti belajar maka saat itu pula ia berhenti menjadi seorang guru.

 

Tak jarang memang ditemukan guru-guru yang enggan menambah ilmu dan wawasan, gemar membaca, bahkan masih kekeh dengan prinsip dan cara mengajar era lama.  Menganggap bahwa siswa adalah botol kosong yang tak tau apa-apa, sedangkan guru tau segalanya. 

 

Eksepektasi macam ini akan memblok dan mematikan kreativitas serta inovasi para siswa. Siswa yang harusnya berkembang dan mampu memenuhi rasa ingin tahunya malah tertahan bak kerbau yang  ditusuk hidungnya, manut saja oleh tuannya.

 

 Sehingga bukan tidak mungkin sistem ceramah sepanjang pembelajaran menjadi fenomena yang lazim ditemui sehari-hari dikelas ajar. Sehingga tak jarang pula ditemukan  para siswa kehilangan minat belajar,nihil motivasi, tak ada gairah dan tidak bersemangat untuk belajar. 

 

Meskipun tidak selamanya pernyataan tersebut benar. Karena ceramah masih sangat diperlukan oleh guru, namun tentu dengan porsi yang seimbang dan diselingi dengan metode pembelajaran modern lainnya. 

 

Zaman telah berubah, masapun telah berganti maka sudah semestinya cara mengajarpun juga harus diganti. Adanya kurikulum  2013 merupakan sebuah bentuk nyata dari perubahan itu sendiri.

 

 Namun, banyaknya keluhan tak diimbangi dengan banyaknya belajar akan makna dari kurikulum tersebut. Sudah saatnya guru membuka mata dan hati bahwa siswa zaman sekarang adalah produk berbeda dengan guru pada zamannya. 

 

Siswa sekarang bukanlah sebuah botol kosong yang siap menampung apapun yang diberikan. Mereka lebih tau akan banyak hal. Akses teknologi dan arus informasi yang begitu cepat dan mudah saat ini adalah hal yang patut untuk disadari bersama.

 

Siswa butuh ruang untuk menyalurkan ide, berkolaborasi, menyampaikan gagasan, dan responsif terhadap perpsektif baru yang berbeda. Siswa butuh diberikan kepercayaan bahwa ia mampu berkarya dan mampu menciptakan hal baru. Namun yang lebih penting lagi siswa membutuhkan guru yang paham akan hal tersebut. 

 

Penulis: Upi Rahmawati, M.Pd
Trainer Sekolah Guru Indonesia, Dompet Dhuafa
Editor: Muh Khoirudin

Foto via: http://theswindonian.co.uk/