Guru Sarang Walet

Guru Sarang Walet

Burung Walet dengan nama latin Collocalia Fuciphaga ini cukup menjadi primadona bagi dunia perekonomian Indonesia, khususnya di wilayah penempatan saya saat ini, Kalimantan. Hewan yang hanya bisa ditemui dilingkup Asia Tenggara ini ternyata tidak ditemukan diwilayah Eropa dan Afrika. Hal ini disebabkan habitat burung walet memang  pada wilayah bercurah hujan tinggi alias wilayah tropis. 

 

Sarang yang menjulang tinggi bagaikan gedung pencakar langit akan sering ditemui kalau sudah masuk ke wilayah Kalimantan Tengah. Kicauan yang tak kunjung henti siang dan malam pun akan selalu terdengar.

 

Ukurannya yang kecil berbanding terbalik dengan kelihaiannya dalam membuat sarang yang berkualitas bahkan bernilai tinggi hingga ke mancanegara. Kualitasnya dicari hingga di seantero negeri. Manusia harusnya banyak belajar dari burung yang satu ini. Belajar bagaimana bisa bermanfaat bagi banyak orang. 

 

Walet, tak sembarang tempat memilih dimana akan bersarang. Meskipun banyak rumah yang sudah dibuat oleh manusia untuk sang walet dengan berbagai model dan tipe, juga tentunya dengan dana yang tak sedikit pula. Namun ternyata walet tetap akan pilih-pilih tempat. 

 

Ia hanya akan menetap disarang tertentu, dengan kriteria tertentu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat walet akan senang mampir untuk bersarang ke tempat pemilik yang punya hati bersih dan terhindar dari dengki. Bagaimana bisa? Ya itulah fakta yang terjadi. 

 

Biar sebagus apapun rumah walet yang dibuat, se-strategis apapun tempatnya, dan sebanyak apapun dana yang dikeluarkan tidak ada hasilnya jika sang pemilik memiliki hubungan yang tak baik dengan sesama. Terdengar aneh dan sulit dipercaya memang, ketika sarang walet dihubungkan  dengan sikap dan kepribadian seseorang. Ya, mungkin ada benarnya. 

 

Walet adalah makhuk ciptaan yang kuasa, dia-pun punya kelebihan yang sangat luarbiasa, sehingga bukan tidak mungkin yang maha kuasa juga memilih cara yang begitu unik bagi burung yang satu ini.

 

Jika saja boleh membandingkan burung walet dan peran guru sepertinya akan lebih menarik. Hubungan guru dan siswa seperti layaknya walet dengan sang pemilik alias manusia. 

 

Walet yang banyak jumlahnya dan bertebaran kesana kemari ibarat siswa, dan sarang yang jumlahnya sangat terbatas ialah gurunya. Walet bebas memilih kesarang mana ia bertengger seperti siswa yang bebas memilih pada guru siapa ia percayakan hatinya.  

 

Guru akan disenangi oleh siswa jika guru punya jiwa dan watak sebagai guru. Yap, pengalaman dan fakta dilapangan menunjukkan bahwa guru yang berhati guru akan memiliki kedekatan emosional yang lebih dengan siswanya. 

 

Secantik dan sepintar apapun sang guru jika tak pernah tersenyum dan ramah dihadapan siswa maka ia tak akan pernah dianggap seseorang yang berarti bagi mereka. Layaknya burung walet yang mendekati pemilik sarang yang berhati bersih, pun sama dengan siswa. 

 

Mereka akan sulit untuk dekat dengan sosok guru yang kasar, pemarah dan acuh. Ia hanya akan respek dengan guru yang selalu menasehati dengan lemah lembut, tegas namun tidak pemarah, membimbing bukan membentak. 

 

Dengan semua itu, apalagi kalau bukan “ruh guru” yang berperan besar. Ruh guru itu segalanya. Kalau pernah mendengar pepatah arab yang mengatakan bahwa metode lebih penting dari pada pembelajaran yang diajarkan, namun metode tidak lebih penting dari peran guru, karena sebaik apapun metodenya peran guru jauh lebih penting. 

 

Namun di atas guru masih ada yang lebih urgent yaitu ruh guru atau biasa disebut dengan istilah ruh al-mudarris. Ruh dan jiwa guru lebih penting daripada kehadiran guru itu sendiri. Kehadiran guru bisa kapan saja dan dimana saja, namun jika tidak disertai ruh maka hadirnya guru tidak akan memberikan makna sama sekali.
 
 Ia menjadi komando atas tindakan yang ia lakukan. Perbuatan dan perkataan yang muncul adalah akibat bagaimana hati dan perasaan sang guru. Seperti teko, akan mengeluarkan segala sesuatu yang seperti isinya. 

 

Jika ia berisi air teh, maka yang akan keluarpun akan berupa air teh. Jika ia kopi maka yang akan keluarpun air kopi. Ya, apa yang ada di dalam akan terpancar keluar. Apa yang ada dihati akan tergambar dari ucapan dan tindakan. 

 

Oleh sebab itu seorang guru alangkah baiknya jika selalu menata hati dan pikiran positif. Dengan begitu tidak menjadi halangan bagi guru untuk menjadi sahabat terbaik bagi siswanya.   


Upi Rahmawati
Kalimantan Tengah