Hargai Kerja Keras Guru untuk Anak Anda

Hargai Kerja Keras Guru untuk Anak Anda

Dunia pendidikan kembali digemparkan oleh sebuah aksi video siswa, yang terlihat sedang bergulat beberapa waktu lalu. Setelah dicermati ternyata bukan bergulat, tetapi seperti sedang melakukan aktivitas orang dewasa. Dan yang membuat kaget itu anak sekolah yang masih sekolah dasar.

Sumber: Jatim.tribunnews.com

Kejadian itu sedikit banyak telah mencoreng muka profesi sebagai guru, karena terlihat dari komentator mayoritas menulis “astagfirullah, di mana itu gurunya, di mana ada kejadian seperti itu gurunya nggak ada” kurang lebih seperti itu model kalimatnya.

Sumber: Jatim.tribunnews.com

Sumber: Jatim.tribunnews.com

 

Sumber: Jatim.tribunnews.com

Sumber: Jatim.tribunnews.com

 

Secara tidak langsung masyarakat millenial telah beranggapan bahwa guru modern saat ini kurang bisa mendidik atau apalah, mungkin bisa juga dianggap tidak layak jadi guru. Okelah anggapan itu kita coba terima, tetapi mari kita telaah bersama.

 

Kejadian dalam video itu memang viral, dan mungkin sangat viral. Tetapi ada beberapa oknum yang mungkin memanfaatkan kejadian itu untuk mencari popularitas, misal akun yang menyebarkan atau membagikan video itu. Dampak dari ingin menjadi populer itu dirasa malah membuat berbagai pihak merasa resah. Terutama orang yang sedang menjalani profesi sebagai guru.

 

Sebenarnya menjadi guru bukanlah menjadi sebuah pilihan atau apalah, tetapi lebih menitik beratkan pada pengabdian dan ibadah. Menilik dari kata pengabdian dan ibadah jika dikaji itu merupakan nilai yang sangat tinggi, hubungan antara manusia dengan manusia tercapai, hubungan manusia dengan penciptaNya pun juga tercapai.

 

Terkadang jujur saja sangat sedih ketika di dunia maya diberitakan berbagai hal negatif disematkan kepada guru. Memang tidak semua guru itu mempunyai sikap dan sifat yang sama. Tetapi percaya tidak ada guru yang mau anaknya berperilaku buruk itu esensinya.

 

Guru adalah orang tua kedua setelah orang tua asli dalam keluarga. Tanggung jawabnya pun sama, menjaga anaknya, mengajari, mendidik dengan baik, bahkan mendidik anak orang lain itu lebih tulus ketimbang anaknya sendiri. Dalam kasus di atas janganlah langsung instan menyalahkan gurunya. Karena guru semaksimal mungkin untuk menumbuhkan generasi tunas-tunas bangsa dengan sebaik-baiknya yang bisa dilakukan.

 

Memang kita semua harus waspada, harus punya tameng untuk menahan arus yang serba cepat ini. Perkembangan teknologi seakan tanpa terbendung, dan kita sebagai orang tua harus tau bagaimana bersikap tentang perihal ini.

 

Kami orang yang sedang menajalani profesi sebagai guru berpesan untuk siapa saja yang nanti membaca tulisan ini. Pengawasan dalam keluarga mohon sekali ditingkatkan, membatasi ruang gerak anak dalam beraktivitas dengan cara menyibukkan anak. Lewat les private, les musik, melukis, yang pada intinya anak telah menghabiskan waktu hari-harinya untuk kegiatan positif. Kurangi dalam berecengkerama dengan dunia maya, andai kata anak mempunyai gadget untuk selalu dipantau. Menoton televisi juga untuk dikurangi, karena konten yang ada juga dirasa kurang baik untuk anak. Selalu berkonsultasi dengan guru didiknya. Menanyakan perihal tentang perkembangan anak-anak anda dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.

 

Untuk orang tua mohon untuk dimengerti, kami guru membutuhkan peran Anda semuanya. Semua untuk tujuan yang baik, anak berperilaku baik, pintar dan nantinya menjadi tunas-tunas bangsa untuk sumbangsihnya terhadap negara. Dibutuhkan kolaborasi yang sangat solid antara guru dan orang tua. Guru hanya mempunyai beberapa jam saja untuk menempa anak-anak Anda. Karena waktu yang terbatas itu, guru tidak bisa semaksimal mungkin selayaknya Anda orang menjaga dan mendidik dalam keluarga. Maka dari itu dengan sangat memohon, pendidikan di rumah harus lebih intens lagi. Semua itu untuk masa depan anak-anak kita.

 

Jadi sekarang kesimpulannya jangan langsung mengambil keputusan, atau mengklaim bahwa kejadian seperti video yang sempat viral itu bukan 100% salah guru. Tetapi salah kita bersama yang masih canggung untuk berkomunikasi, padahal milenials ini perubahan-perubahan berjalan sangat cepat. Mari kita dukung guru-guru yang telah bersusah payah untuk mempersembahkan tunas-tunas bangsa untuk kemajuan dan kejayaan Indonesia.

 

Penulis: Yan budi Nugroho