Harimau Bukit Menoreh

Harimau Bukit Menoreh

Ku sapa pagi yang penuh warna kala sang surya bersinar indah di atas bukit menoreh. Burung-burung pun berkicau riang menyambutku sembari menari indah. Udara segar mengaliri hidungku, merayap ke penjuru akalku lalu menjadikan dingin dalam rasa. Betapa agung karunia Tuhan atas hidupku, namun terkadang sering terlupakan olehku.

 

Memang, bukit menoreh kerap kali memanjakan mataku. Keindahan dalam setiap penjuru menoreh melukiskan bagaimana tentang kuasa Tuhan. Alam yang bersahabat, orang-orangnya yang ramah, dan sejarah yang terotopsi menjadikan menoreh sebagai cermin keagungan yang maha kuasa.

 

Suatu malam temanku yang bernama Jabrik bercerita tentang penghuni menoreh padaku. Kopi hitam dan beberapa potong singkong rebus menemani kami berbincang ketika itu. Sampai pada akhirnya ada satu cerita yang benar-benar membuatku terperanga. Ia menceritakan kejadian beberapa waktu yang lalu tentang Harimau yang berada di desanya. Mengingat kondisi alam yang sudah kian populer, dan bukit menoreh berpenghuni harimau amatlah memberi kesan waow.

 

Diceritakan, tetangga sebelah rumahnya sebut saja Ahmad, menemukan 2 ekor anak harimau yang terjebak dalam lubang yang cukup dalam. Merasa kasihan akhirnya Ahmad menolongnya. Melihat harimau itu kelaparan akhirnya Ahmad membawanya pulang dan memberinya makan. Siang pun berlalu, malam pun tiba begitu adanya. Dua anak harimau itu sepertinya kedinginan dan memanggil-manggil induknya.

 

Kegaduhan dua anak harimau itu membuat tidur Ahmad tak nyenyak. Bahkan di luar rumahnya terdengar suara geraman Harimau. Hal itu membuat jantung Ahmad berdebar-debar, nyalinya ciut. Sepertinya malam itu menjadi malam yang waow untuk Ahmad. Dikatakan setelah adzan Shubuh suara geraman harimau di luar rumahnya baru menghilang.

 

Keesokan harinya Ahmad kembali memberi dua anak harimau itu makan. Ia merawatnya dengan baik. Entah kenapa Ahmad tidak melepas saja dua anak harimau itu, mungkin karena melihat kondisi harimau kecil itu yang belum benar-benar pulih saat terjebak dalam lubang. Sebenarnya ada perasaan takut dalam diri Ahmad. Suara geraman harimau malam tadi benar-benar membuatnya lemas. Tapi keinginannya untuk merawat harimau kecil itu menjadikannya kembali menata hati.

 

Malam ke dua harimau kecil itu di rumah Ahmad terjadi hal yang sama seperti malam pertama. Induk harimau itu menggeram di luar rumah. Ahmad kembali bingung dan takut. Begitu seterusnya sampai pada malam ke tiga harimau kecil itu menginap di rumah Ahmad.

 

Akhirnya melihat kondisi dua harimau kecil itu sudah membaik, setelah Ahmad memberinya makan ia melepaskannya kembali. Rasa lega dalam diri Ahmad pun hadir. Ia sudah tidak lagi menghawatirkan geraman harimau yang akan mendatangi rumahnya. Ia dapat tidur nyenyak nanti malam.

 

Senja datang, malam pun mulai menyusul. Tak ada lagi rasa khawatir pada diri Ahmad. Ia pun benar-benar dapat tidur nyenyak malam itu. Tapi antara sadar dan tidak sadar saat adzan Shubuh berkumandang ia kembali mendangar geraman harimau dari arah pintu rumahnya. Ia sempat kembali takut, namun suara itu hanya terdengar sebentar lalu mengabur begitu saja.
Dan ia tak menghiraukan suara itu lagi.

 

Suara ayam jago berkokok keras pagi itu. Ahmad mendengar suara aneh di depan pintu rumahnya. Ia memberanikan diri membuka pintu. Alangkah terkejutnya Ahmad, ia melihat seekor kidang sudah tek berdaya di depan matanya. Kakinya patah dan terlihat ada bekas gigitan kecil hewan buas di sebelah pahanya. Kidang itu masih hidup, bahkan meronta kesakitan. Ternyata itu bentuk ucapan terima kasih induk harimau karena Ahmad telah menolong dua anaknya. Dan ternyata pula, suara geraman Shubuh tadi itu adalah harimau mengantarkan kidang ke rumah Ahmad. Mungkin induk harimau ingin agar Ahmad menyembelih kidang itu dan memasaknya.

 

Sepotong singkong rebus yang terakhir ku telan perlahan sembari mendengar Jabrik menyudahi ceritanya. Alam benar-benar bersahabat ketika kita mampu membuatnya menjadi sahabat. Harimau tahu balas budi pada Ahmad. Harimau tahu hewan mati haram dimakan manusia sehingga ia memberikan kidang yang masih hidup kepada Ahmad untuk dimakannya. Cerita yang sangat berharga bagiku. Tegukan kopiku yang terakhir pun menyudahi pembicaraan kami malam itu. Malam yang dingin dan bertabur bintang. Bukit menoreh, tetaplah padu dan terjaga. Sehingga anakku kelak dia masih bisa mengagumimu seperti aku