Hubungan Beda Agama Seperti Pepatah Hidup Segan Mati Pun Tak Mau

Hubungan Beda Agama Seperti Pepatah Hidup Segan Mati Pun Tak Mau

Illustrasi via kelascinta.com

 

Sebelum saya menulis celoteh manja tentang hubungan yang beda agama. Tenang saja, Gengs! saya sudah minta ijin kepada pihak yang bersangkutan. Dan, sudah saya duga dia hanya senyum-senyum gigit bibir sebagai tanda antara setuju dan tidak.

 

Meskipun begitu, ini kali pertama saya yang pernah menjalani masa-masa pembodohan. Ma’af, jika saya harus berkata demikian mengungkapkan begitu rumitnya menjalani kisah yang kebanyakan orang tentunya menghindari.

 

Tapi, ini soal hati. Tentang perasaan yang tidak bisa di salahkan sebagai mana logika berbicara. Mengenai visi misi hidup yang sebenarnya kami sejalan kecuali cara kami dalam mengenal Tuhan yang berbeda. Demi apapun urusan hati yang memiliki rasa yang disebut cinta itu tidak patut dipersalahkan.

 

Gengs, berkaitan hari ini adalah hari pengulangan saya hidup kembali atau hari kepastian jatah hidup saya akan berkurang. Itu sebabnya saya ingin berbagi sedikit kisah memilukan namun mengesankan kepada teman-teman yang membaca celoteh manja ini.

 

Kenapa begitu? Agar kalian tidak mencoba mencintai atau memberikan cinta kepada seseorang yang kita tahu beda aqidah sejak awal. Sekali lagi ini bukan dia salah atau dia kurang apa? Tetapi karena agama. Yaps, agama!

 

Cinta memang datang sesukanya tanpa melihat waktu dan tempat. Begitu juga dengan hubungan kami. Ngalir begitu saja! Sering banget saya yang notabene berhijab meski dulu masih buka tutup malu ketika kami jalan bareng terus memesan makanan dan ingin segera menikmati makanan. Cara berdoa kami berbeda. Saya mengadahkan tangan, sedangkan dia mengepalkan tangan kemudian ya...seperti itulah.

 

Saya menulis judul celoteh ini dengan sadar. Iya, banyak sekali peristiwa yang kami jalani selama kami bersama itu seperti omong kosong kehidupan. Awal mula kami berkomitmen memang tidak ada masalah secara masih abegeh labil.

 

Tapi, lama-lama perbedaan prinsip tentang tujuan hidup memang terlihat beda. Saya yang berharap nanti anak-anak harus di pesantren bla bla bla (khayalan kosong). Sedangkan dia menginginkan anaknya nanti menjadi ilmuwan atau apalah.

 

Ya, tidak hanya itu banyak sekali kejadian yang membuat kami lama-lama serasa hidup segan mati pun tak mau. Mau dipaksakan seperti apa prinsip ketuhanan kami berbeda.

 

Apalagi sudah menginjak ke keluarga. Duh, kami harus meyakinkan masing-masing keluarga dengan totalitas. Melebihi Pak Soekarno merebut kembali kemerdekaan Indonesia pada jaman penjajahan. Melebihi kisah Romeo dan Juliet apalagi perjuangan Dilan dan Milea tidak ada apa-apanya dengan perjuangan yang kami korbankan bertahun-tahun.

 

Jauhnya jarak rumah bisa di atasi dengan kendaraan. Beda adat istiadat bisa terselesaikan dengan kebiasaan. Masalah harta, tahta dan kasta bisa ditutupi dengan kerja keras. Lantas, bagaimana dengan bedanya kami dalam mengenal Tuhan?

 

Sekali lagi, dalam menjalin hubungan dengan seseorang itu hak setiap jiwa. Bebas dan gratis. Tapi, membangun perasaan harus kita ciptakan di tempat yang tepat dengan orang yang tepat pula. Gengs, hati kalian itu mahal. Sangat mahal! Tidak cukup hati kalian ditukar dengan aqidah yang sejak lahir telah membersamai kalian.

 

Itulah sepenggal kisah tragis tapi mengesankan yang pernah saya alami. Kenapa mengesankan? Ya, darinya saya mendapatkan banyak ilmu kehidupan. Tentang kesederhanaan, tentang kejujuran, tentang keikhlaan, tentang kepedulian, tentang ketangguhan dan tentang rasa syukur.

 

Terimakasih anda, iya anda yang semalam tepat jam 12 membangunkan saya lewat ponsel dan berbisik di antara lelap dan nyata.”Selamat mengulang tanggal kelahiran, selamat memaknai kata pulang, selamat berjuang menjadi sebenar-benarnya wanita. Kado istimewa untuk kamu ketika melihat kamu bahagia dengan caramu.”

 

Ini kisah kami, antara saya dan dia sudah menjadi masa lalu. Dan, untuk kamu Gengs. Jangan sekali-kali bermain hati dengan seseorang yang beda keyakinan. Please!

 

Tertandatangan rasa,

Dzawata Afnan