Ibu Paruh Waktu Part#1 "Ibu Mu bukan Baby Sitter Mu "

Ibu Paruh Waktu Part#1  "Ibu Mu bukan Baby Sitter Mu "

Masih teringat jelas di sebuah perjalan panjang ketika kembali lagi ke sebuah kota. Kota di mana aku, dan beberapa perantau lainnya mengadu nasib di sana. Entah ini sekedar kebetulan atau memang sudah takdirnya di sebuah pertemuan, di bangku sebelahku ada seorang baby mungil yang sedang duduk di pangkuan sang nenek.

 

Karena sedari dulu suka dengan anak kecil, tanpa malu- malu aku pun mengajaknya bersenda gurau, si baby pun merespon dengan antusias, gelak dan tawa pun pecah seketika. Tangan ini begitu erat dari genggamanya. “So sweet banget ya". 

 

Singkat cerita sang nenek pun bercerita, bahwa tujuan mereka ke Cikarang untuk mengunjungi orangtuanya si baby. Karena lebaran kemarin mereka tidak pulang kampung. Sejak umur 3 bulan baby ini dititipkan di kampung untuk dirawat oleh sang nenek. Duh…. tiba- tiba hati ini terasa sebak, apa mungkin ini sebabnya si baby ketika dikasih perhatian responnya sangat antusias hingga genggaman tangannya begitu erat seakan tak ingin lepas dari tanganku.

 

Buat para ibu paruh waktu mohon maaf, Kin yang Menulis ini memang belum berpengalaman tentang anak- anak, akan tapi banyak curhatan teman, mengamati sekitar lingkungan dan konsultasi juga dengan physikolog tentang hal ini.

 

Kin bukan sekedar menulis apa yang terlihat tapi inilah kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Kelak jangan heran ketika sang anak meranjak dewasa ia akan menjadi seorang yang pembangkang kepada orangtuanya, jangan heran anaknya akan lebih sayang pada nenek atau pengasuhnya, dan yang lebih sedihnya lagi banyak orangtua yang di titipkan di panti Jompo. Karena ini adalah hasil dari perbuatan di masalalu itu sendiri.

 

Kin pernah ikutan seminar, kebetulan ada mandat liputan bertema generasi millenials, salah satu pembicara menyatakan "Generasi millenials ini tercipta akibat dari orangtua di zaman milenium yang menggunakan sistem helikopter parenting, di mana sang ibu berkarir dan sang anak dititipkan ke orangtua atau pengasuh dia hanya memantau.

 

Jadi tak sedikit saat ini anak- anak lebih sibuk dengan dunia gedget- nya dibanding keluarganya." Dan yang buat miris para ibu ini juga harus mempertimbangkan jika menitipkan anaknya pada orangtua. 

 

Sekali lagi moho maaf buat ibu- ibu, sang ibu sudah penat mengandung kita selama 9 bulan, menyusui, merawat hingga dewasa dan kini ditambah lagi beban mengasuh anak- anak dengannya. Tak dipungkiri sang nenek suka saja, rumah jadi ramai. Tapi apakah kalian tahu semestinya umur segitu mereka habiskan buat menikmati hari tuanya, pergi ke kajian, wisata religi dan lainnya. Kapan lagi waktunya kita berbakti kepadanya, jika di sisa umurnya ini masih saja menambahkan beban.

 

Dear ibu- ibu apakah tak ingin menjadi orang pertama yang istiewa bagi mereka melihat perkembangan sang anak, orang pertama yang mengajarkan anak memanggil Ibu, bukan memanggil nenek atau si bibi. Tak merasa sedih kah ketika yang mengajarkan mereka Al- fatihah, doa makan dan doa- doa lainya itu orang lain? Tak merasa sedih kah ketika bukan kita jadi orang yang pertama mengajarkan anak- anak baca, tulis dan berhitung serta mengaji?

 

Sangat disayangkan setiap perkembangan, moment penting dan sangat singkat itu bukan kita yang merasakanya tapi orang lain. Sangat di sayangkan semua amalan- amalan jariyah yang semestinya kita menjadi orang pertama mengajarkannya kepada sang anak tapi tergantikan oleh sosok nenek atau bibik. Meski mereka juga memberikan kasih sayang dan perhatian yang tulus, namun itu berbeda dengan ibu kandungnya sendiri.

 

* Bersambung *

wallahu a'lam

@Kin_Chaniago