Jangan-Jangan Rumput Tetangga Warnanya Merah

Jangan-Jangan Rumput Tetangga Warnanya Merah

Photo by Мария Волк on Unsplash

 

Kira-kira, ada nggak ya yang sama kayak saya?. Ditengah pandemi covid-19 ini,  panik melihat banyak orang yang mengeluarkan bakatnya.

 

Ada teman yang tiba-tiba menemukan kecintaannya dalam hal masak memasak, atau ada yang kemudian jadi youtuver, vlogger, dan sejenisnya. Ada yang memunculkan kreasinya melukis, ada juga yang memperlihatkan bakat seni lainnya. Ya memang sih, ini semua muncul di sosial media, yang konon katanya dunia fantasi. Yang diperlihatkan hanya hal yang bagus aja. Tapi setidaknya mereka punya sesuatu yang bisa diposting untuk diperlihatkan secara positif, atau Bahasa kekiniannya : konten. Yup! Mereka punya konten.

 

Sementara saya ini? Boro-boro mikirin konten, tau bakat yang terpendam aja nggak…hahahah. Tiga bulan di rumah, ya tiga bulan itu juga “diem” aja. Ya masak iya sih ya…bakat saya “diem” aja itu????. Tapi biasanya, semakin kita mikir terlalu jauh, semakin jauh jua lah sang pikiran sama kita, iya nggak sih??

 

Lalu akhirnya  kita akan Kembali ke lingkarang setan, karena kembali melirik sosial media, melihat lagi postingan parade bakat, lalu Kembali merasa “nothing”.

 

Tapi sesungguhnya salah nggak sih kalau kita juga “nothing”?. Maksudnya gini, katanya Tuhan sang Maha Kuasa itu menciptakan manusia sesuai dengan citraNya. Lalu masak iya kita “nothing” beneran?. Jangan-jangan kita hanya terlalu malas untuk “mencari” ke dalam. Tapi kemudian, memangnya salah untuk menjadi malas?. Lah ya nggak juga, semuanya kan pilihan.

 

Nah ini baru jadi masalah, ketika kita bertemu dengan yang Namanya : pilihan.  Bukankah kadar kedewasaan seseorang diukur dari caranya memilih, dari saatnya dia bisa menentukan pilihan.

 

Jadi mau masuk ke dapur untuk masak atau tidak, ya pilihan. Mau bikin konten atau tidak, ya pilihan. Mau maju atau mundur, ya pilihan. Mau A atau B, ya pilihan. Lalu setelah memilih, kemudian apa?. Ya konsekwensi dari pilihan itu lah.

 

Gila! Capek ya jadi orang dewasa. Ya lagi-lagi itu pilihan. Mau belajar untuk menjadi dewasa atau mau disitu-situ saja. Karena buat saya, disebut dewasa itu karena bisa dengan sadar memilih, dan sanggup menjalani pilihannya dengan rasa yang bertanggung jawab, bukan rasa terpaksa. Kalau menjalani sesuatu dengan rasa terpaksa, maka :  belum dewasa. Cek aja rasanya dulu. Karena katanya rasa itu harus selaras dengan pikiran dan perbuatan. Kalau tidak, maka jawabannya lagi-lagi simple : belum dewasa.

 

Buat saya pribadi nggak ada yang salah atau bener. Jelek atau bagus. Kan semuanya pilihan.

 

Seperti hal nya Ketika akhirnya saya memilih untuk menutup mata terhadap isi social media. Lalu membuka mata hati saya. Dan mengambil kesimpulan : it is OK to be JUST OK.

 

Tidak perlu merasa terintimidasi dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih hingar bingar dari hari-hari saya. Atau merasa “kecil” karena tidak sekeren teman-teman lainnya yang punya banyak kemampuan.

 

Karena Jangan-jangan kalau saya posting kegiatan saya hari ini, bahwa saya hanya golak-golek di tempat tidur karena Lelah, mengambil selimut dan tidur Kembali dengan AC semilir. Mereka juga iri. Kok saya bisa punya banyak waktu untuk istirahat.

 

Well, rumput tetangga memang selalu lebih hijau kan?. Tapi itu juga katanya yang lihat lho, kalau nggak lihat juga nggak tau kalau rumput tetangga beda warna. Atau jangan-jangan warnanya bukan lebih hijau, tapi merah. Malah lebih pusing kan.

 

Makanya udah lah, nggak usah dibanding-bandingin.

Capek!!

Tapi sekali lagi ya…itu semua pilihan.

 

Penulis: Tantri Moerdopo