Kali Jali dan Tradisi Sabanan

Kali Jali dan Tradisi Sabanan

Reviensmedia.com, Purworejo - Malam nisfu syaban biasanya jatuh pada 15 hari menjelang ramadhan atau bulan puasa. Di daerah Kecamatan Kemiri nisfu syaban di bagi menjadi dua jenis, bukan berarti ini menyimpang namum ini hanyalah sebuah budaya yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Sabanan santri dan sabanan “sobo” begitu masyarakat menyebutkan malam nisfu syaban.

 

Sabanan santri dilakukan pada saat malam nifsu syaban saat paginya kaum muslim melaksanakan puasa. Sabanan santri dilaksanalan di masjid musolha atau langgar, biasanya anak-anak kecil akan membawa sejenis jajanan pasar ke masjid dan akan dicampur dengan makanan yang anak-anak bawa. Sabanan santri dilaksanakan setelah Magrib yaitu dengan melaksanakan salat magrib salat sunah nifsu syaban, membaca surat yasin sebanyak 3 kali dan juga doa tutup tahun.

 

image

 

Sabanan “sobo” merupakan budaya masyarakat kecamatan kemiri “sobo” sendiri memiliki makna pergi main atau jalan-jalan keluar rumah. Biasanya masyakat berkumpul di lapangan dan di pasar Kemiri untuk sekedar membeli makanan atau duduk-duduk di pinggir jalan. Beberapa masyarakat juga ada yang pergi ke kali jali.

 

Kali jali berada di daerah Winong Kutoarjo. Sebagian masyarakat percaya jika bagi para lajang yang mencari jodoh jika mandi di kali jali akan segera mendapatkan jodoh atau enteng jodoh.

 

Namun sangat disayangkan sabanan tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dikarenakan jembatan menuju kali jali di putus dalam rangka perbaikan menyebabkan masyarakat yang akan pergi ke kali jali harus memutar lewat daerah Kutoarjo, hal ini menyebabkan sabanan sobo tahun ini sepi dan masyarakat tidak pergi keluar rumah walaupun hanya sekedar berjalan jalan di pasar.

 

Meskipun tradisi ini tidak dilakukan di semua daerah, tradisi ini perlu dijaga. Hal ini dikarenakan dengan adanya tradisi ini perputaran ekonomi di sekitar daerah Kemiri menjadi lebih baik dan juga meningkatkan pendapatan bagi para pedagang makanan.