Kebangkitan Budaya Babarit di Cirebon Timur Yang Nyaris Punah

Kebangkitan Budaya Babarit di Cirebon Timur Yang Nyaris Punah

Budaya Babarir Cirebon (Radar Cirebon)

 

 

Reviensmedia.com, Cirebon – Berbicara tentang budaya, tidak munafik memang jika di zaman sekarang ini sudah banyak sekali adat istiadat yang kita tinggalkan, nilai -nilai budaya yang tergerus oleh perkembangan zaman.

 

Seiring berjalannya waktu, kita tidak sadar bahwasanya kita telah dengan sengaja mengenyahkan budaya yang kita miliki dari peradapan masyarakat.
 

Ironis memang, ketika bangsa lain saja ingin mengakui budaya yang kita miliki, ketika warga negara asing saja antusias mempelajari budaya-budaya Indonesia, kita justru menenggelamkan warisan budaya kita.


Lalu ini salah siapa????

Meninggalkan adu argumentasi di atas,yuk kita telusuri salah satu budaya Indonesia yang ternyata nyaris punah.

 

Budaya Babarit….. budaya yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Cirebon, terutama di kawasan Cirebon Timur.

 

Budaya Babarit atau lebih mudah disebut selametan sedekah bumi merupakan budaya di mana masyarakat setempat membuat selamatan guna memohon kepada Yang Maha Kuasa agar terhindar dari segala musibah dan diberikan keselamatan di tanah yang mereka tempati.

 

Masyarakat setempat membuat hidangan khusus sebagai menu khas slametan babarit yakni nasi bogana. Nasi bogana merupakan nasi yang serupa dengan nasi uduk, lalu dicampur dengan sayur daun melinjo, tauge, kacang panjang, dll, serta lauk yang biasanya hanya sekedar ikan asin petek. Sederhana bukan??? Tapi kesederhanaan itu bak santapan berkelas ketika dinikmati bersama-sama.

 

Masyarakat setempat bisa memberikan bantuan secara sukarelawan untuk acara babarit tersebut, bantuannya tentu berupa makanan menu babarit.


Setelah itu mereka mengumpulkan makanan yang mereka bawa ke tengah jalanan, kemudian mereka melakukan doa bersama yang dipimpin oleh ustadz/kiai memohon diberikan keselamatan untuk tanah di mana mereka tinggal.

 

Setelah melakukan doa bersama, lalu nasi bogana dan menu yang sudah terkumpul dibagikan kembali kepada masyarakat.

 

Intisari dari tradisi tersebut yakni mengajarkan masyarakat untuk menyisihkan sebagian rezeki yang mereka miliki untuk disedekahkan, nah sedekah itu diaplikasikan dalam bentuk makanan (nasi bogana).

 

Tradisi yang unik dan memiliki nilai positif memang.
Tapi, taukah kalian????
Ternyata tradisi tersebut baru-baru ini dilakukan di daerah Cirebon Timur setelah BELASAN tahun mereka meninggalkan tradisi tersebut.

 

Dan tahukah kalian apa alasan mereka mengulang lagi tradisi tersebut?
Itu disebabkan Karena tempat mereka tinggal terkena musibah banjir besar.
Miris memang, mereka ingat kembali akan tradisi babarit setelah mereka mendapatkan teguran dari Yang Maha Kuasa.

 

Buat pelajaran saja, jika sejatinya manusia itu mendapatkan rezeki dari Tuhan. Sedikit ataupun banyak rezeki yang kita miliki, tentunya ada hak oranglain yang harus kita sedekahkan.


Janganlah menunggu ada teguran baru kita ingat.

 

Budaya Babarit tidak hanya mencerminkan tradisi masyarakat setempat, numun juga mengajarkan nilai-nilai moral agar kita berbagi terhadap sesama, juga sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

 

Maka dari itu, alangkah baiknya jika budaya/tradisi tersebut tetap dilestarikan tidak hanya ketika mereka mendapatkan musibah, tapi bisa diadakan rutin setidaknya satu tahun sekali. Karena tradisi babarit sangat layak untuk dipertahankan.

 

Yuk kita tata kembali tradisi-tradisi kita, menjadikan tatanan budaya yang lekat dengan nilai-nilai moral. Agar kita bisa menselaraskan antara tradisi dan agama maupun budi pekerti.