Kekayaan Anugerah Kaum Difabel

Kekayaan Anugerah Kaum Difabel

Dalam setiap pembahasan tentang makna kaya atau miskin pasti muncul sebuah kata “Bersyukur” sebagai klimaks makna akan kaya miskin. Menilai kaya miskin yang bersifat relatif adalah sulit karena pemaknaan tiap individu pasti berbeda, namun saya yakin tiap manusia pasti bisa menilai sesuatu sesuai paradigmanya masing-masing.

 

Ada sebuah meme bergambar bintang sepak bola asal Perancis Zenedine Zidane bertuliskan kisah Zidane yang merasa sedih karena tidak mempunyai sepatu bola, lalu melintaslah seorang yang tidak memiliki kaki, disaat itulah Zidane bersyukur dan merasa dirinya adalah kaya.

 

Disisi lain, audien motivasi bisnis sering diberi pertanyaan “Bolehkan tangan atau kaki anda dibeli 1 miliar?” agar audien tersadar dari anggapan tidak punya modal dalam memulai bisnis, lalu motivator mengatakan “Lihat betapa kayanya anda?”. Dua konteks dia atas menunjukan bahwa makna kaya tidak hanya bersifat materi, tapi juga pada apa yang sudah anugerahkan Tuhan untuk kita.

 

Anak-anak dan remaja memang harus dilatih untuk bersyukur terhadap apa yang mereka miliki, termasuk kesempuraan fisik. Saya adalah orang yang tidak setuju jika pembelajaran anti diskriminasi terhadap penyandang disabilitas hanya disampaikan melalui teori mata pelajaran atau pun kisah difable yang sukses.

 

Luar biasa memang perjuangan difable yang sukses seperti Habibi Afsyah menjadi pengusaha dan sangat inspiratif untuk diketahui para difabel, namun tanpa pernah bersinggungan langsung dengan penyandang difabel, saya rasa kisah inpiratif Habibi Afyah dan teori anti diskriminasi hanya menjadi pengetahuan semata.

 

Anak difabel menarikan tarian dolalak

Anak difabel menarikan tarian dolalak

 

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke SLB-C Karya Bhakti Purworejo mendampingi anggota PMR(Palang Merah Remaja) di tingkatan Madya (SMP/MTs). Apa yang dilakukan oleh panitia penyelenggara memang patut untuk diapresiasi. Dengan bersinggungan langsung dengan para difable, saya yakin mereka akan banyak belajar bagaimana menghargai dan rasa sama tanpa diskriminasi.

 

Kita sebagai tamu yang ingin belajar bersama dan menghibur justru dihibur dan di sambut dengan keceriaan. Mereka ramah dalam menyilakan dan mengesankan dalam sambutan. Kedatangan kita disambut dengan beberapa penampilan dari anggota PMR dan siswa SLB.

 

Acara yang berlangsung sekitar dua jam itu memang tidak mewah dan seadanya, namun kebahagiaan akan kebersamaan mereka membuat suasana menjadi lebih mengharu. Apalagi saat salah kelompok musik siswa di SLB tersebut menyanyikan sebuah lagu Esok Lebih baiknya D’Masiv, beberapa penyanyi terlihat meneteskan air mata.

 

Hidup yang kujalani, masalah yang kuhadapi
Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya
Ku kan terus berjuang, ku kan terus bermimpi
Tuk hidup yang lebih baik, tuk hidup yang lebih indah

(Esok lebih baik: D’Masiv)

 

Ekspresi perasaan yang mereka ingin tunjukan bisa disampaikan melalui sebuah lagu penuh keyakinan bahwa ada rahasia Tuhan yang belum mereka ketahui pada diri mereka dan mereka tetap bersyukur dengan berjuang untuk masa depannya. Lirik inspiratif tersebut saya rasa begitu mereka hayati karena ekspresi itulah yang ingin mereka suarakan pada dunia bahwa mereka juga punya hak kebahagiaan.

 

Saya yakin meski memiliki kekurangan, mereka sepenuh hati ikhlas bersyukur atas anugerah cinta dan kasih sayang Tuhan terhadap mereka yang masih memberikan kehidupan dan kebahagiaan. Mereka akan semangat dalam menuntut ilmu, gigih dalam menjalani hidup dan terus bergerak untuk berkarya.

 

Selain menampilkan penampilan yang mengharukan itu, salah satu siswa SLB juga menunjukkan kebolehannya menari Ndolalak yang menjadi tarian khas Kabupaten Purworejo. Semua gerakannya begitu lues dan mempesona hingga tanpa sadar tangan saya pun bergerak seolah ingin ikut menari. Penampilan ndolakak tersebut membuatku berpikir bahwa mereka pun bisa melakukan apa yang bahkan tidak semua orang bisa melakukannya.

 

Kekayaan yang memberi kebahagiaan pada mereka bukan sekedar materi yang terbatas pada jumlah hitungan, namun juga anugerah Tuhan yang memberi hidup, yang memberi bahagia, yang menghadirkan keluarga, menumbuhkan rasa, menghilangkan duka. Saya yakin sepenuhnya cinta Tuhan membahagiakan mereka, karena jika tak membahagiakan kenapa keyakinan untuk terus berjuang tetap ada?

 

Penulis: Qosim Jamaluddin