Ketika Keberuntungan Dan Roda Saling Mendahului

Ketika Keberuntungan Dan Roda Saling Mendahului

Kamu pernah mendengar pepatah roda terus berputar? Atau keberuntungan bisa mengalahkan kecerdasan? Bagaimana menurut kamu, Guys? Seperti yang terjadi dari kisah dua anak manusia. Yang mimin tahu mereka selain sepupuan juga seumuran. Nah, apa yang menarik dari kisah mereka?

 

Sebut saja nama mereka Vika dan Raya. Saudara satu nenek ini memang dari kecil sudah memperlihatkan persaingan. Bukan mereka tidak akur, bukan itu maksud saya. Tapi mereka bersaing secara sehat. Selalu pengen menjadi nomor satu dalam soal nilai dan peringkat. Wajar, disaat bangku sekolah memang dua hal itu yang saling diperebutkan. Vika yang silsilah keturunan lebih muda namun usianya lebih tua beberapa bulan satu kelas lebih tinggi dari Raya. Di sekolah SD tidak ada masalah karena pergaulan merekapun jarang bersama, disebabkan mereka memiliki teman masing-masing.

 

Saat SLTP mereka tidak satu Sekolah. Dilihat dari segi peringkat, Vika tetap menjadi pemenangnya. Sejak SD dia selalu menggenggam peringkat 3 besar, berlanjut di SLTP pun sama. Prestasi dia semakin cemerlang. Dan Raya tidak ada yang berubah, bahkan dia tidak pernah merasakan peringkat 10 besar. 

 

Waktu terus berjalan, ketika Raya hendak mendaftar di Sekolah tempat Vika belajar, entah apa kekurangannya dia tidak lolos masuk Sekolah Negeri tersebut. Akhirnya dia menimba ilmu di SMA swasta. Mereka berjauhan, 
Karena berbeda Sekolah dan kebetulan pesantren mereka juga berbeda. Tidak ada yang berubah dari Vika, dia tetap memberikan yang terbaik. Prestasi yang semakin menyilaukan mata. Begitu juga dengan Raya, tidak ada kebanggan yang dia persembahkan kepada keluarganya. 

 

Namun, semuanya berubah seperti tangan yang sedang berbalik. Ketika Vika lulus sekolah menengah atas dengan prestasi yang dibilang memuaskan serta  seabreg-abregcita cita-cita yang seharusnya mudah ia raih. 

 

Tapi tidak pada kenyataannya. Disitulah roda kehidupan mulai berubah. Setahun kemudian disusul Raya yang baru saja lulus tapi langsung mengenyam pendidikan di perguruan Negeri sesuai cita-citanya meski sempat ditolak. Dan ia keterima karena di uneversitas tersebut karena ada relasi yang cukup kuat. 

 

Perjalanan mereka mulai berubah. Vika yang akhirnya kuliah di perguruan tinggi swasta dengan memilih fakultas yang sebenarnya tidak pernah terbersit di kepalanya. Berusaha bangkit dari keterpurukan selama setahun merasa menjadi orang yang paling sial. Menjalani dua profesi besar sekaligus yaitu kuliah dan bekerja bukanlah mudah untuk tetap mempertahankan prestasi seperti jaman sekolahnya. 

 

Berbeda dengan Raya, seakan keberuntungan mulai berpihak dengannya. Dia menjadi mahasiswa sejati. Total mengekspresikan diri di meja belajarnya. Selama 3 tahun tuntutan dia hanya mendapat nilai IPK tinggi. Urusan kebutuhan keluarga yang mengatasi.

 

Waktu terus berjalan. Vika lulus dengan nilai yang pas-pasan. Sangat memalukan sebenarnya bagi dirinya yang sudah terbiasa berprestasi. Soal pekerjaanpun ia hanya mengikuti alur dan memfollow dari kelanjutan pendidikannya. Tidak ada lagi yang istimewa darinya. Bahkan seringkali ia merasakan kekurangan biaya hidup. 

 

Sedangkan kehidupan Raya berubah. Sejak lulus kuliah ia diterima dipekerjaan yang senada dengan pendidikannya. Penghasilannya pun jauh sekali di atas sepupunya. Gaya hidup yang glamor dan lingkungan yang berkelas tentu menyilaukan mata dan hati Vika. Dalam rasa malunya Vika pernah menanyakan rahasia apa yang dipake Raya soal nasibnya yang selalu baik itu? Dengan enteng sepupunya itu hanya menjawab ‘karena aku beruntung’. 

 

Namun, Vika masih penasaran apakah hanya faktor keberuntungan kehidupan seseorang akan berubah total. Ia berpiker  sendiri kemudian menganalisis, jadi ini yang disebut roda kehidupan. Kadang berada di atas, kadang di bawah. Jika dulu dirinya pernah menjadi orang setinggi-tingginya dengan segudang kebaikan. 

 

Tidak akan pernah menjamin hal itu akan abadi darinya. Dan Vika membuktikannya sendiri. Toh dia juga pernah merasa menjadi serendah-rendahnya orang ketika terlontar perbandingan dari keluarganya saat pencapain prestasi, karir, pekerjaan, financial bahkan gayah idup  yang tidak seindah Raya. 

 

Saat ini kedua saudara itu hidup dengan jalannya masing-masing. Raya dengan segala keberuntungannya. Sedangkan Vika dengan segala usahanya untuk sekedar memperjuangkan kata sukses menurut pandangan mata telanjang masyarakat. Satu pertanyaan dari Vika sebagai penguat hatinya. “Adakah orang yang berpikir,  bahwa sukses itu tidak hanya soal finansial?”

 

Illustrasi via ID Speed