Kisah Sang Pengantin: Mitos di Ibukota

Kisah Sang Pengantin: Mitos di Ibukota

Reviens Media, Jakarta – Kalian lihat, gambar di atas ini? yapss sebuah jembatan dan jalan raya. jembatan dan jalan raya ini berada di antara kelurahan Rambutan dan Ciracas, Jakarta Timur. Secara kasat mata jembatan dan jalan raya ini memang tidak ada bedanya dengan jemabatan ataupun jalan raya pada umumnya. Namun tahukah anda, jika dibalik itu ada cerita rakyat dan mitos yang mungkin hanya orang seikitar Ciracas yang mengetahuinya. Atau mungkin semua orang Jakarta.

 

Aku sendiri sebagai seorang pendatang, juga hanya mendengar cerita rakyat ini dari orang ke orang di sekitar rumahku. Menurut cerita orang-orang ada mitos, jika jalan pengantin dilarang lewat di jampatan yang orang menyebutnya dengan jalan dan jembatan pengantin ali.

 

Menurut cerita, dahulu kala ada acara adat pernikahan setelah ijab kobul, kedua mempelai diarak keliling kampung menggunakan tandu terpisah. Namun ketika tandu itu melewati jembatan di atas sungai cipinang, tiba-tiba tandu yang mengusung pengantin perempuan oleng dan terjatuh di sungai tersebut. Melihat sang istri hanyut, pengantin pria yang menurut cerita ia bernama ali.

 

Namun nasib berkata lain, kedua pengantin itu hanyut diterjang derasnya arus sungai itu. Setelah itu warga sekitar menemukan dua batu berukuran 50 cm di tempat hilangnya pengantin tersebut. Warga percaya, bahwa batu itu jelmaan jasat Ali dan istrinya. Dan sekarang di tempat ditemukanya batu tersebut berdiri sebuah musolah. Musholah itu bernama Al Barokah dan berdekatan dengan rumah warga. Kita mungkin tidak mengira, jika semua itu merupakan bagian dari legenda jalan pengantin ali.

 

 

sekarang jalan ini sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor, dan memang berkembanganya sangat cepat. Maklum saja jalanan ini masih di Ibukota, walapun sampai sekrang tempatnya masih cukup nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Aku sendiri tinggal disini sekitar 8 tahun, dan melihat betapa cepatnya permbangan daerah ini. Dari dahulu jalanan masih jarang lalu lalang kendaraan dan masih ada kebon, lapangan, hingga kini semua itu sudah tidak ada lagi, dan sudah dipenuhi dengan perumahan warga.