Lokal Wisdom Ritus Nggua

Lokal Wisdom Ritus Nggua

Reviens Media, Ende – Hampir setiap komunitas adat memiliki hari-hari besar yang disakralkan. Siklusnya ada yang tahunan, empat, atau delapan tahun (Windu).

 

Perhitungannya ada yang berdasar kalender bulan, matahari, musim atau ciri-ciri alam lainnya. Masyarakat adat Donggo di dataran tinggi Mbawa-Bima misalnya, memiliki hari raya Raju. Di Enrekang, masyarakat Kaluppini juga punya ritus delapan tahunan sebagaimana masyarakat Bayan di Lombok Utara. Demikian juga masyarakat Saga di pegunungan Kalimutu-Ende, setahun sekali melakukan Ritus Nggua.

image

Ritus Nggua ini biasanya digelar pada bulan Agustus atau September. Secara umum, ritual ini adalah semacam upacara atau pesta syukur.
Rangkaian acaranya cukup banyak dan berlangsung berhari-hari. Dimulai dari acara do’a dan persembahan-persembahan, bersih-bersih kampung adat dan seluruh perlengkapan adat (Ke’dhu bene), berbagi hasil panen (Tu are tu), sidang para Mosalaki (Nogo), dan menari memutari tubu Musu (Gawi).

 

Secara umum seluruh rangkaian acara memiliki aturan dan tatacara yang lumayan rumit. Banyak sekali pantangan atau taboo yang harus ditaati.

 

Inti dari semua itu adalah mengucap rasa syukur kepada Tuhan beserta alam, penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa membangun perkampungan dan mewariskan tradisi, menyelesaikan berbagai sengketa dan persoalan, meneguhkan kembali posisi adat dalam kehidupan, serta berbagi rizki atau kegembiraan.


Seperti hari ini, saya sempat menyaksikan para dewan adat (Mosalaki) bersidang. Ada yang terbuka, biasanya terkait dengan persoalan umum, dan ada sidang atau pertemuan khusus di dalam balai adat.

 

Ada salah seorang warga mengadukan persoalan, tentang saudara mereka yang meninggal padahal pada hari-hari ini tidak boleh ada aktivitas ‘melukai tanah’ sehingga harus menunda upacara penguburan.

 


Para Mosalaki kemudian saling beradu pendapat dan disepakati untuk menentukan denda berapa babi yang harus dipotong agar bisa dilakukan upacara pemakaman.

image

Terkait dengan Taboo atau larangan/pantangan, banyak sekali yang harus dilakukan. Masyarakat misalnya tidak boleh membakar sesuatu di kebun, sampah sekalipun. Bahkan untuk memasuki kompleks rumah adat, ada jalur-jalur yang tidak boleh dilewati dan bertegur sapa dijalan atau membunyikan sesuatu. Apabila dilanggar selain terdapat sangsi adat, juga dipercaya akan terkena tulah alam.

 

Semua itu mungkin terlihat merepotkan, tetapi tidak bagi masyarakat di Saga. Sebab serangkaian ritus beserta tata aturan itu merupakan proses membangun harmoni terhadap alam & sesama, serta merupakan hasil pembelajaran selama ratusan bahkan ribuan tahun.

 

Mari belajar kehidupan pada mereka yang bersetia pada jalan tradisi.

 

Penulis: Paox Iben