Makna Lahan Sawah Bagi Pertiwi

Makna Lahan Sawah Bagi Pertiwi

Reviensmedia.com, Purworejo – Siapa sih yang tidak mengenal namanya nasi. Setiap hari kamu pasti makan nasi, dan kalau tidak makan nasi belum kenyang rasanya. Bagi masyarakat Indonesia, nasi merupakan makanan pokok dan belum tergantikan dengan bahan makanan lainnya. Nasi sendiri terbuat dari biji beras. Baik beras merah, beras ketan, maupu beras putih.

 

Namun tau nggak sih, kalau lahan untuk menanam beras ini di Indonesia sudah berkurang, padahal lahan untuk menanam padi yang bernama sawah ini adalah bagian dari jiwa pertiwi masyakarat Indonesia.

 

Dikutip dari ugmpress.ugm.ac.id dalam sinopsis buku “Mengenal Lahan Sawah Dan Memahami Multifungsinya Bagi Manusia Dan Lingkungan”. “Lahan sawah merupakan salah satu ciri kehidupan masyarakat di seluruh dunia yang mengkonsumsi beras sebagai makanan pokoknya. Bukti-bukti bahwa lahan sawah sudah ada sejak zaman purba menurut Rostam dan Anuar (1984) telah dikaji oleh ahli arkeologi yang menginformasikan bahwa pertanian lahan sawah dengan tanaman utamanya padi dimulai di India dan Cina lebih dari 1.000 tahun yang lalu sebelum masehi.

 

Kegiatan pertanian lahan sawah dengan tanaman pokok padi mulai dikembangkan ke kawasan Asia lainnya, termasuk ke Indonesia. Karena beberapa negara Asia merasa beras cocok sebagai makanan pokok, perkembangan lahan sawah di negara-negara Asia cukup pesat”.

 

“Keberadaan lahan sawah memiliki banyak fungsi, baik untuk kehidupan manusia maupun lingkungan. Fungsi lahan sawah bagi kehidupan manusia selain sebagai penghasil bahan pangan, juga merupakan salah satu sumber pendapatan, tempat bekerja, tempat rekreasi, tempat mencari ilmu, dan lain sebagainya. Fungsi lahan sawah bagi lingkungan dapat dilihat dari fungsi lahan sawah sebagai tempat hidup berbagai tumbuhan, tempat berkembang biak berbagai organisme hidup seperti cacing, berbagai serangga, burung, belut, ular, dan organisme lainnya, berperan dalam mencegah terjadinya banjir, erosi, maupun tanah tanah longsor.

 

Meskipun demikian, jika tidak dikelola dengan baik, lahan sawah juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan, seperti pencemaran air, tanah, dan udara akibat penggunaan bahan kimia dan mekanisasi pertanian”.

 

Nah sudah jelas dan gamblangkan bagimana pentingnya sawah bagi kehidupuan manusia dan lingkungan. Jika sawah kita habis karena berbagai faktor, kita sebagai penduduk Indonesia yang mengkonsumsi beras sebagai hasil dari sawah akan kesulitan mendapatkan bahan makanan andalan kita ini. Apa iya dengan luas daratan Indonesia yang mencapai 1.904.569 KM persegi harus mengimpor beras dari negara yang wilayahnya tidak seluas negeri kita tercinta ini.

IMG-20180320-WA0021

Bagi Purnomo, seniman Indonesia, sawah bermakna lebih dari sekedar penghasil kebutuhan makanan pokok, juga menumbuhkan kebanggaan bagi pemuda Indonesia menjadi seorang petani yang mengelola sawah sehingga kita semua dapat menikmati nasi dari hasil sawah negeri kita sendiri.

 

“Siar tidak bisa menggunakan pidato, surat larangan dll, namun harus pelan-pelan harus ditembak sosioculturenya, dan diperkuat pemaknaannya sehingga menimbulkan kebanggan memiliki sawah, bangga menjadi petani sehingga berujung tidak adanya penjualan lahan pertanian mereka” ujarnya.

 

Menurutnya juga tidak banyak petani yang bangga menjadi petani, dan juga banyak petani sukses dengan lahan dikelola secara serius, dimanage secara serius, tapi sebagai penopang lumbung padi nasional itu petani-petani yang ada di kampung, namun ironis para petani tidak banyak dan cenderung tidak ada yang mengajari anak-anaknya bertani dan meneruskan orang tuanya menjadi petani. Pola pikir masyarakat desa yang mendorong anak-anaknya untuk tidak menjadi petani memang masih banyak ada di masyarakat kita terutama di desa.

 

Mereka lebih mendorong anak-anaknya untuk merantau dan bekerja di luar dari desanya. Alhasil lahan sawah yang mereka miliki dijual begitu saja, dan lebih ironis lagi lahan persawahannya disulap menjadi bangunan.

 

Soo.. kalau sudah kayak gitu kita akan makan apa?

Apakah makanan pengganti nasi sudah ada? Kalau sudah ada apakah sudah mencukupi? Dan apakah produk dalam ngeri kita sendiri?

 

Namun bagi seorang Purnomo, hal yang paling membuat kangen adalah sawah. Atas dasar itulah, pria yang banyak menghasilkan festival-festival bersama Yayasan Bintang Paseban di bawah Yayasan Bitang Kidul merasa tergerak untuk bergandengan tangan dengan warga Brondongrejo, kecamatan Purwodadi, Purworejo memaksimalkan potensi area persawahan dengan mengadakan Festival INIS (The Soul of Java).