Mapasilaga Todong, Rangkaian Panjang Prosesi Kematian Bangsawan Tana Toraja

Mapasilaga Todong, Rangkaian Panjang Prosesi Kematian Bangsawan Tana Toraja

Reviensmedia.com, Toraja – Menceritakan keindahan Indonesia memang tidak ada habisnya, baik keindahan alam, kearifan lokal, dan budayanya. Salah satu budaya nusantara yang perlu kita ceritakan ke masyarakat global adalah Mapasilaga Tedong. Mapasilaga Tedong merupakan budaya leluhur tanah Toraja.

 

Budaya ini adalah rangkaian panjang sebuah prosesi pesta kematian kaum bangsawan Tana Toraja. Kematian tidak hanya diwujudkan dalam kesedihan yang mendalam, namun kematian dimaknai sebagai kegembiraan oleh keluarga maupun warga desa sebelum almarhum menuju alam kekal. Selain bagian dari prosesi pesta kematian, budaya ini juga sebagai hiburan masyarakat desa.

 

Konsep ajaran orang Toraja tak melihat kematian sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Bagi mereka, kematian adalah bagian dari ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga menjadi kegembiraan yang membawa manusia kembali menuju surga, asal-muasal leluhur.

 

Puluhan kerbau yang akan diadu dibariskan di lapangan tempat upacara tersebut dilaksanakan. Kerbau-kerbau yang akan diadu tersebut kemudian diarak dengan didahului oleh tim pengusung gong, pembawa umbul-umbul, dan sejumlah wanita dari keluarga yang berduka ke lapangan yang berlokasi di rante (pemakaman). Pada saat barisan kerbau meninggalkan lokasi, musik pengiring akan dimainkan. Irama musik tradisional tersebut berasal dari sejumlah wanita yang menumbuk padi pada lesung secara bergantian.

 

Selain itu, pihak keluarga harus menyediakan babi bakar, roko, dan tuak kepada pemandu kerbau, dan para tamu yang datang. Area adu kerbaunya pun harus di sebuah sawah yang luas, dan berlumpur, atau sawah yang banyak rumputnya.

 

Kerbau yang ikut dalam Mapasilaga Tedong inipun tidak sembarangan. Kerbau yang digunakan biasanya berjenis kerbau bule, kerbau lumpur, kerbau, salepo, lontong boke, dan tedong pudu. Namun, kerbau yang sering dijumpai dalam acara ini adalah kerbau tedong pudu. Kenapa lebih memilih jenis kerbau ini, karena kerbau jenis ini mudah dilatih dan dari segi harga tidak semahal kerbau yang lainnya.

 

Mapasilaga Tedong dimulai dengan dua kerbau yang diadu dan mereka menghantamkan tanduk mereka ke tanduk lawannya dan saling menjatuhkan satu sama lain. Kerbau yang dinyatakan kalah adalah kerbau yang berlari dari arena Mapasilaga Tedong. Acara semakin menarik, saat di titik puncaknya, di mana dalam acara ini juga dilakukan prosesi pemotongan kerbau dengan cara khas Toraja, dan tentunya unik. Terbilang unik, karena kerbau yang masih hidup langsung sekali tebas dengan menggunakan sebuah parang.

 

Tidak hanya itu, bagi masyarakat Toraja, kerbau merupakan hewan yang suci. Hal itu dikarenakan kerbau ini diperlakukan secara khusus. Semenjak kecil, kerbau sudah dikebiri oleh pemiliknya sehingga dianggap suci sebagai hewan kurban pada acara Rambo Solo.

 

Foto: Google