Mengenal Lebih Dekat Vihara Thay Hin Bio Bandar Lampung

Mengenal Lebih Dekat Vihara Thay Hin Bio Bandar Lampung

Lampung: Bandar Lampung berperan penting dalam sejarah pelayaran di Indonesia. Diperkirakan sejak awal abad ke-5 Masehi, Bandar Lampung muncul sebagai pioneer dalam meramaikan jalur pelayaran dari Samudera Hindia menuju Laut Jawa dan sebaliknya.

 

Selat Sunda yang termasuk di dalamnya 2 buah teluk yaitu, teluk Kiluan dan teluk Betung, dan beberapa pulau yang tersebar di sepanjang jalur ini, diantaranya pulau Legundi, pulau Sebesi, pulau Sebuku, pulau Tabuan dan pulau Sangiang, serta 1 buah gunung paling ambisius di Indonesia, Gunung Krakatau.

 

image

 

Jalur pelayaran melalui selat Sunda sudah dimulai sejak kemunculan petualang-petualang dari Eropa seperti Vasco Da Gamma dan Marcopollo yang bermaksud melakukan perdagangan dan mencari tanah jajahan baru.

 

Seiring dengan perkembangan teknologi dalam bidang pelayaran, bangsa China dan bangsa-bangsa lain di dunia juga melakukan hal yang sama. China yang sudah menjadi bagian dari proyek ini, mulai mengelilingi dunia dengan kapal-kapal dagangnya. Berbeda dengan bangsa Eropa yang bertujuan mencari tanah jajahan baru, emas, dan mensyiarkan agama Kristen, atau yang lebih dikenal dengan Gold, Glory, Gospel, bangsa China lebih kepada tujuan untuk berdagang.

 

Sayang, hal ini terhambat karena adanya perompak dan pembajak di laut. Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa banyak warga China yang lebih memilih bermukim dan menetap di wilayah Indonesia termasuk di Bandar Lampung.

 

image

 

Sejarah mencatat, kedatangan bangsa China ke dataran Sumatera dimulai pertama kali pada abad ke 7 Masehi, dengan ditemukannya pecahan-pecahan gerabah dan temuan di dasar laut berupa keramik dan barang pecah belah bertuliskan huruf China.

 

Begitu juga dengan Bandar Lampung. Awal mulanya banyak penduduk Lampung yang merasakan perlindungan dan berkah dari Kwan Im Phu Sha, maka mereka membuat altar di rumah masing-masing untuk mengadakan puja bhakti pada Kwan Im Phu Sha yang dianggap welas asih. Hingga pada tahun 1850 datanglah seorang warga China bernama Po Heng yang berasal dari Tiong Kok Hok Kian Hai Ting yang membawa patung/ rupang Kwan Im Phu Sha.

 

Banyak dari warga yang bersimpati dan mengusulkan untuk peribadatan umum, sehingga didirikanlah Cetya Avalokitesvara (Kwan Im Thong) di daerah Gudang Agen (pinggir laut). Banyak masyarakat yang dating melakukan persembahyangan dan puja bhakti memohon berkah dan keselamatan.

 

Pada tahun 1883 Gunung Krakatau meletus, yang menyebabkan banjir besar di Bandar Lampung selama 3 hari 3 malam. Pada saat itu keluarga Po Heng yang tinggal di Cetya juga menjadi korban banjir tersebut. Tidak banyak barang yang tersisa, hanya patung Rupang Kwan Im Pu Sha dan Siancai Liong Li yang dapat diselamatkan.

 

Selang beberapa tahun, tepatnya pada tahun 1896 atas usulan masyarakat di kampung China didirikanlah Vihara Kwan Im Thong, dan mendapat ijin pendirian bangunan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 1 Oktober 1898.

 

image

 

Pada tahun 1927 datanglah bikshu dari Shaolin Kong Hwa bernama Sek Te Thi ke Lampung untuk membimbing dan membina umat serta memimpin sembahyang di Vihara. Setelah kehadiran beliau, banyak warga yang datang sehingga Cetya tidak mampu menampung umat untuk melaksanakan puja bhakti. Maka Cetya Kwan Im Thong dibangun lebih besar dan diganti namanya menjadi Vihara Thai Hin Bio hingga saat ini.

 

Penulis: Yuli Setyawan