Navigasi Burung-Burung dan Peradaban Kita

Navigasi Burung-Burung dan Peradaban Kita

Reviens Media – Dua tahun lalu saya pernah diajak Bang Andy Arief beserta rombongan Presiden SBY ke Gunung Padang di Cianjur Jawa Barat. Banyak spekulasi yang berkembang tentang situs yang dipercaya sebagai petilasan atau tempat moksanya Prabu Siliwangi itu.


Menurut uji carbondating situs tersebut termasuk yang tertua di muka bumi, umurnya antara 6000-12.000 SM. Jauh lebih tua dari piramida Giza maupun Machupicu.

 

Terlepas segala spekulasi ilmu pengetahuan tersebut, jejak-jejak peradaban “batu” sesungguhnya masih sangat mudah kita jumpai dalam tradisi nusantara, khususnya di Indonesia Timur. Seperti perkampungan Saga ini misalnya.

 

Menurut cerita lisan turun temurun dan beberapa artefak yang terukir di dinding rumah adat, konon nenek moyang orang Saga ini datang dari Lautan. Mereka mendarat di Masedale, lalu membuat perkampungan. Karena berbagai situasi, merekapun berpindah-pindah tempat. Hingga tujuh perkampungan mereka bangun sebelum sampai di tempat indah, subur dan makmur ini.

 

 

Semuanya harus dilewati dengan serangkaian peperangan dan perjuangan berdarah-darah. Salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya adalah banyaknya relief burung-burung di rumah orang-orang Saga. Mereka percaya sampai ditempat ini karena dibimbing oleh Burung Suci. Bahkan burung-burung itu ikut membantu masyarakat membangun perkampungan.

 

image

 

Konon burung-burung itu yang membongkar batu-batu dari atas tebing. Sayapun jadi teringat cerita yang hampir sama, tentang mitos burung Gagak Putih yang dianggap suci oleh orang Sembalun di Lembah Gunung Rinjani.


Ya, migrasi dan navigasi burung-burung itu sangat penting untuk menilik peradaban manusia dulu & sekarang. Bukan hanya dalam ilmu penerbangan, bahkan dalam ilmu kemiliteran modern itu menjadi kajian yang sangat penting.

 

Sebab konon, tentara sekutu menemukan tempat persembunyian Osama Bin Ladin karena mereka memantau jalur migrasi burung-burung. Dan jauh sebelum itu nenek moyang kita telah akrab dengan ilmu navigasi tersebut.

 

Sayangnya kian hari, burung-burung ini semakin jarang kita temui dalam kehidupan nyata. Selain diburu orang-orang berotak batu yang sok jadi penembak jitu, ruang atau habitat alamiah mereka juga sudah sangat menyempit sejak hutan dan pohon-pohon ditebangi.

 

 

Pun penggunaan zat kimia berlebihan dan berpotensi merusak alam. Tapi saya suka tadi pagi para Mosalaki di Saga mulai berbicara tentang hutan adat yang mulai rusak, debit air terjun yang berkurang dan pentingnya menanam pohon tertentu yang berfungsi sebagai pelindung mata air agar kehidupan semakin lestari.

 

Penulis: Paox Iben