Ngurup, Tradisi Unik di Musim Panen Padi

Ngurup, Tradisi Unik di Musim Panen Padi

Berbagai tradisi di Indonesia telah kita kenal satu per satu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kali ini kita akan mengenal lebih jauh tradisi unik yang biasa dilakukan masyarakat Jawa ketika panen padi tiba.

 

Pada saat musim padi tiba, biasanya si empunya sawah yang padinya siap dipanen meminta beberapa orang untuk memanennya, karena tenaga dan waktu yang diperlukan cukup banyak jika dikerjakan sendiri. Tentunya juga dengan perjanjian upah padi dalam jumlah tertentu yang telah disepakati kedua belah pihak.

 

Selain beberapa orang yang memanfaatkan panen padi untuk bekerja sebagai buruh panen, atau lebih dikenal dengan istilah "derep", ada juga pedagang-pedagang yang berjualan di sawah-sawah untuk melakukan barter dengan padi mereka. Orang-orang menukarkan beberapa takar padi dengan berbagai jenis makanan, minuman maupun rokok. Jumlah makanan dan padi yang mereka tukar tentu sudah diperhitungkan jumlah nominalnya jika diuangkan.

 

Istilah barter antara padi dengan makanan maupun minuman tersebut dikenal dengan istilah "ngurup". Ngurup sudah dikenal masyarakat Jawa sejak zaman dahulu. Karena ketika memanen padi tentunya orang-orang membutuhkan banyak makanan dan minuman, sedang bekal mereka sangat terbatas. Bagi penjual tentunya sangat menguntungkan dengan nilai padi yang mereka dapatkan. Begitulah cara  mereka melakukan barter yang menguntungkan satu sama lain.

 

Selain saling menguntungkan, tradisi ngurup juga menciptakan hubungan emosional antara orang -orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Mereka saling bersenda gurau satu sama lain di tengah panas terik matahari dan keringat yang bercucuran. Tentunya hal itu sedikit mengurangi letih mereka. Es dawet/es cendol menjadi primadona menu ngurup. Bahkan tak jarang anak-anak ataupun saudara mereka sengaja menyusul ke sawah hanya untuk ngurup es cendol.

 

Pedagang es cendol biasanya membawa dagangannya dengan cara dipikul mengelilingi sawah. Rasanya yang segar dan manis alami membuat orang-orang ketagihan ngurup cendol. Unik bukan tradisi yang kita miliki ini. Di tengah peliknya kehidupan modern saat ini, di tengah sulitnya perekonomian masyarakat kita, di tengah terpuruknya lapangan pekerjaan, dan di tengah banyaknya kerusuhan juga bencana, sebenarnya masih ada tradisi yang serat kearifan lokal juga membangga kan kita. Memiliki nilai-nilai yang patut kita lestarikan.

 

Yuk sedikit merefresh pikiran. Jangan terlalu fokus pada kehidupan zaman now yang setiap detik memaksa kita berpikir keras. Tinggalkan sejenak urusan-urusan zaman now yang memusingkan pikiran. Bernostalgia dengan tradisi zaman old mungkin akan sedikit menjadi hiburan bagi kita. Bisa juga sebagai obat galau berkepanjangan ya gaes. Selain sebagai hiburan, tentunya sekaligus melestarikan tradisi unik tersebut. Jadi, sambil menyelam minum air.

 

Sumber Foto: https://www.rayapos.com/petani-abdya-dua-kali-panen-sekali-tanam/