Pasar Kenteng: Jejak Perekonomian Pedesaan dari Masa Kolonial

Pasar Kenteng: Jejak Perekonomian Pedesaan dari Masa Kolonial

Reviensmedia.com, Kulonprogo – Pasar yang Jejak Kolonial bahas kali ini berada di Kenteng, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo. Letaknya kira-kira berada 17 kilometer ke barat dari kota Yogyakarta. Lokasi geografis Kenteng sendiri berada di antara sungai Progo di timur dan Perbukitan Menoreh di barat. Posisi pasar ini berada di selatan Jalan raya Pasar Kenteng. Jalan ini menghubungkan Kenteng dengan Samigaluh di sebelah barat dan dengan Godean di sebelah timur.

 

Kondisi Pasar

image
 

Jika dibandingkan dengan pasar-pasar yang sudah disebutkan pada tulisan di awal, bentuk pasar Kenteng jauh lebih sederhana dan tidak semegah pasar-pasar tadi. Bentuk pasar kenteng hanya berupa deretan los-los terbuka yang memanjang. Los-los ini berbentuk atap pelana dan membujur utara-selatan, jadi para pedagang menggelar dagangannya menghadap ke arah barat atau timur.

 

Hal ini bertujuan untuk mengoptimalisasi pencahayaan di bagian dalam. Atap-atap ini melindungi para pedagang dari sinar matahari dan hujan. Bahan penutup atap terbuat dari genteng.

 

Ketika penulis mengunjungi pasar ini, pasar ini dalam kondisi sepi, tidak banyak pedagang yang berjualan selain pedagang makanan di pinggir jalan dan beberapa pedagang pasar. Menurut pedagang yang ditemui di pasar, pasar ini memang sedang tidak ramai karena bukan hari pasaran.

 

Hari Pasaran pasar ini menurut kalender Jawa jatuh pada hari Wage. Pada hari pasaran, pasar ini sangat ramai, terutama pada jam buka dari jam 8 hingga jam 11. Seperti pasar tradisional lain di Indonesia, kondisi pasar ini sangat kotor.

 

Mengapa pasar ini mengikuti hari pasaran? Ada beberapa alasan. Alasan pertama berkaitan dengan kebudayaan Jawa yang sejak lama ada tradisi untuk bekerja secara kolektif dalam satu desa yang mandiri.

 

 

Alasan kedua berkaitan dengan ekonomi. Pada zaman dahulu kebanyakan yang berjual beli di pasar bukanlah pedagang professional, melainkan petani yang menjual sisa panen saja. Mereka membeli hanya untuk melengkapi kebutuhan yang bukan hasil panen mereka sendiri. Kebutuhan pada waktu itu lebih sedikit dibanding sekarang dan daya beli pengunjung pasar masih terbatas.

 

Jika terlalu banyak pasokan barang yang dijual di pasar akan menyebabkan deflasi atau harga barang akan turun. Harga barang yang terlalu murah tidak akan memberikan keuntungan yang cukup untuk membiayai transportasi. Ada juga resiko barang menjadi busuk karena belum ada teknologi pendingin atau pengawetan (Raap, Olivier J. 2015; 74).

 

Dari 20 deretan los yang ada, sebanyak 13 los sudah ada sejak zaman Belanda dan bentuknya belum berubah sama sekali. Satu-satunya perubahan hanyalah penambahan lapisan keramik. Atap-atap pada los lama disangga oleh tiang besi dengan konstruksi seperti tiang jemuran.

 

Pasar ini tidak diberi sekat seperti halnya pasar modern pada saat ini. Mengapa tidak diberi sekat? Rupanya selain sebagai tempat jual beli, pasar tradisional juga merupakan tempat berlangsungnya interaksi sosial antar pedagang, sehingga kondisi pasar yang terbuka menjadikan para pedagang dapat berinteraksi dengan mudah dan meningkatkan rasa guyub di antara pedagang.

 

Inilah keunggulan pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern. Walaupun pasar modern lebih bersih, namun interaksi sosial di dalamnya jauh lebih sedikit dibandingkan pasar tradisional seperti pasar Kenteng ini.

 

Di beberapa bagian pasar, terlihat beberapa plakat dari zaman Belanda. Plakat-plakat ini menunjukan perusahaan penyedia material dan kontraktor sehingga bisa menjadi salah satu sumber sejarah berdirinya pasar ini.

 

 

Dari plakat yang ada, penyedian material berasal dari NV. Braat, perusahaan baja yang memiliki kantor cabang di Surabaya, Yogya, Sukabumi dan Tegal. Sementara itu pembangunan pasar ini dilaksanakan oleh N.V Construtie Atelier Der Vorstenlanden Djokjakarta.

 

image

 

Sejarah Pasar Kenteng

 

Tidak diketahui sejak kapan pasar ini sudah ada. Namun, pasar ini dipugar pada tahun 1921 oleh Sultan HB VIII bersama beberapa pasar lain seperti pasar Srowolan dan pasar Pundong. Pasar ini dipugar karena pasar ini merupakan Pasar Kesultanan yakni pasar yang secara administrasi dikelola oleh Kesultanan.

 

Jumlah pasar ini ada 129 buah milik Kasultanan Yogyakarta dan 18 buah milik Pura Pakualaman (L.F.Dingemans,16;1925). Dari beberapa sumber sejarah seperti plakat yang ditemukan di pasar, pembangunan pasar ini dibangun oleh N.V Construtie Atelier Der Vorstenlanden Djokjakarta sementara material pasar disediakan oleh N.V Braat perusahaan baja yang didirikan pada tahun 1901 dan berpusat di Surabaya (kini menjadi PT Barata).

 

Penutup

 

Keberadaan pasar ini merupakan bukti kepedulian pemerintah di masa lalu terhadap kegiatan perekonomian rakyat. Bangunan pasar yang dahulu masih terbuat dari material yang mudah rusak diganti dengan material yang lebih kuat, bahkan saking kuatnya material itu masih bertahan hingga lebih dari setengah abad.

 

Jika pemerintah di masa lalu saja peduli terhadap pasar tradisional, bagaimana dengan pemerintah sekarang? Padahal pasar tradisional merupakan sentra perekonomian rakyat yang cukup penting.

 

Pasar ini juga merupakan sebuah living heritage, artinya pasar ini selain menyisakan warisan bangunan lama, juga masih eksis sebagai tempat berlangsungnya kegiatan jual beli yang sudah ada sejak pasar ini berdiri. Semoga keberadaan pasar ini baik bangunan dan pedagang-pedangang di dalamnya bisa bertahan.

 

Penulis: Lengkong S Ginaris

(Anggota Kopikola, peminat heritage dan arkeologi. Mahasiswa Arkeologi UGM Yogyakarta yang bercita-cita jadi Manager Heritage)

 

Referensi
Photo: Dok Pribadi
Dingemans,L.F.1925.Gegevens over Djokjakarta.
Johannes Raap,Olivier.2015.Kota-kota di Djawa Tempo Doeloe.Kepustakaan Populer Gramedia.Jakarta.