Pembentukan Karakter Anak Melalui Keteladanan Orang Tua

Pembentukan Karakter Anak Melalui Keteladanan Orang Tua

Hai, Gengs. Membentuk karakter anak atau kita sebagai anak dengan karakter yang sudah benar dan baik tentu tidak luput dari peran orang tua. Nah, berikut ini adalah petuah-petuah hebat dari Sumber yang jelas di jamin kebenarannya. Yukk, ikuti setiap petuahnya!

 

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. (Al-qur’an)
Setiap yang dilahirkan dalam keadaan suci”. (Al-Hadits)
Bayi yang baru lahir dalam keadaan putih”. (Tabularasa)


Semua orang tua pasti tidak ada yang menghendaki anaknya menjadi orang yang berkelakuan bejat. Jangankan Kiai? Seorang bromocorahpun mengharapkan anaknya menjadi shaleh ataupun shalihah.

Tempo dulu mungkin relative lebih mudah membentuk kepribadian anak yang baik, berbeda dengan jaman sekarang ini yang sudah banyak terkontaminasi dengan pergaulan lingkungan.

Masih ditambah lagi dengan kurang pedulinya kedua orang tua. Mereka hanya mencari dan menumpuk harta, bahkan pendidikan anak tidak mendapatkan prioritas, pada saatnya akan menyesal. Tiada bisa waktu diputar ulang.

Bukankah kita semua sudah tahu, bahwa rusaknya suatu kaum dikarenakan kaum keluarga hanya menumpuk harta, sedangkan usia sekolah enggan untuk belajar. Menumpuk harta dan meninggalkan ilmu.

Mereka lupa, bahwa anak adalah investasi yang tak ternilai harganya. Demikian juga dengan pertanggungjawaban kita di hadapan sang khaliq. Anak adalah sebuah amanah yang harus diberi asupan baik secara dhahiriyah dan batiniah.

Dhahiriyah berupa makanan, minuman serta keperluan yang lain. Batiniah berupa penanaman ketauhidan, sehingga anak benar-benar menjadi insan kamil pada akhirnya.

Bila kita menengok jauh keluar rumah, maka pesimis hati ini untuk berharap mempunyai anak yang bisa mikul dhuwur, mendhem jero orang tua. Tapi kita yang beriman, janganlah berputus asa, karena hanya kaum kafirin yang melakukan itu.(Al-Qur’an)

Ternyata banyak memberi nasehat kepada anak cucu jaman sekarang, kurang efektif. Keteladananlah yang lebih efektif. Selain bernilai sikap juga bernilai ubudiyah, walau di dalamnya masih ada sifat ingin diteladani orang lain, terutama anak cucu. Walau ada sifat ‘ujub, tetapi masih lebih baik daripada tidak sama sekali.


Keteladanan Dalam Bersikap

Sudah tidak jamannya lagi, kita orang tua hanya memberi nasehat anak untuk bisa menghormati orang tua. Namun kita menghormati orang tua lebih dulu, anak diajak pula. “Hormatilah kedua orang tuamu, sehingga anak-anakmu akan menghormatimu”. (Al-Hadits).

Bagaiman mungkin antara suami dengan istri tidak saling menghormati, anak disuruh menghormati mereka berdua. Curahkan kasih sayang kepada pasangan kita, maka dengan sendirinya anak akan menghargai kita berdua. Walau kita kadangkala salah paham terhadap pasangan, namun bila di depan anak harus mampu bersandiwara. Lebih baik lagi bila ada anak, langsung gencatan senjata.

 

Keteladanan Dalam Berdisiplin Waktu

Bila suatu saat kita sepakat dengan anak atau cucu untuk menentukan jam pemberangkatan ke mall misalnya, maka yang harus kita lakukan harus tepat waktu. Bila tidak, maka jangan berharap anak cucu akan tepat waktu bila ada perjanjian. Bila perlu maka kita yang menunggu, sementara anak cucu datang kemudian. “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar merugi, kecuali orang-orang beriman dan beramal shalih”. (Al-Qur’an)

 

Kedisiplinan Dalam Beribadah

Orang tua jaman dulu ada kebiasaan, waktu senja pada saat anak waktunya berangkat ke masjid, maka orang tua mengatakan;
”Ayo segera ke masjid, waktunya sudah mau adzan !”
Anak dengan serta merta langsung mengambil peralatan mengaji dan berangkat ke masjid, tanpa ada komentar. Itu jaman eyang masih kecil, jaman masih sangat berlaku kata tabu.

Lain dulu, lain sekarang. Anak diperintah ke masjid, sementara orang tua mengambil remot untuk menonton bola, yang ada anak bukan berangkat ke masjid, tapi ikut orang tua nonton bola. Bila dimarahipun anak bisa melakukan penyerangan dengan argumentasi. Salahkah anak bila terjadi hal seperti ini? 

Anak jaman sekarang bukan sebagai objek, namun sebagai subjek. Sehingga kegiatan apapun kita orang tua harus bisa menjadi kiblat anak. Bila ingin anak ahli qiyamul lail, maka kita harus mengajak anak untuk bangun tengah malam bermunajat. Kita harus mampu mengajak, tidak hanya menyuruh.

Bila kita ingin anak ahli dalam riyadhah, kita harus mampu mengajak riyadhah. Tidak ada alasan bapak sudah tua, dulu juga sering riyadhah. Tak akan dipercaya oleh anak.

 

Foto via orami.co.id