Pemilik kota Hati #Final

Pemilik kota Hati  #Final

Malam ini aku tak bisa tidur dengan nyenyak selayaknya dimalam-malam sebelumnya, perasaanku yang berbunga-bunga berubah jadi sesuatu perasaan yang entah akupun tak mengerti ini apa. Aku tak sabar menanti hari minggu ini. Keesokan harinya aku tanya teman-teman yang lain via telepon, mereka malah tak tau ada cerita apa, mereka kira Kiyah masih baik-baik saja, memang tiga tahun terakhir ini tak begitu banyak kabar tentangnya. Yang mereka tau dia sempat pindah ke luar kota, karna ikut ayahnya yang di tugaskan di Aceh.

 

Dan aku menanyakan lagi cerita ini pada Ria, teman sebangkunya dulu, dan dia malah balik tanya, "emang Miyah sudah cerita apa Man"? Seperti ada satu hal yang di tutup-tutupi dariku. "maaf Man, aku tak bisa cerita banyak, mungkin nanti dia cerita sendiri minggu ini". Dan telepon pun langsung ditutup oleh Ria. Ya Allah apakah ini jawaban atas semua do'a-do'aku, apakah ini salahku yang terlalu mengaguminya sehingga kadang aku membuatmu cemburu dan lupa padamu. Mulai saat itu hati ini selalu gelisah, aku kirim pesan kepad Miah di facebook tak pernah di balas.

 

Saat ini aku berada di sebuah peswat yang sedang menembus awan-awan putih dilangit nan kelabu  menuju Aceh, cerita tadi siang membuatku menyesal mengapa tak dari dulu aku mencarinya, mengapa tak dari dulu aku ungkapkan ini dan mengapa harus dia dan mengapa harus begini.

 

Masih teringat jelas di benaku kata demi kata yang di ungkapkan Miyah selepas acara pernikahan tadi, dia meminta semua untuk berkumpul, ketika tamu undang sudah berangsur pamit. Karena acara resepsi di gedung memang biasanya hanya sampai pukul 14.00. Sang pengantinpun izin pada petugas gedung meminta sedikit waktu untuk kami berkumpul.

 

Miyah mulai berbicara, senyum yang iya ukir begitu pilu bukan kebahagian seakan senyum itu ingin sekali menutupi luka dihatinya, membuat yang lain pun ikut penasara. "Asalamualaikum, teman-teman semua, maafkan kak Kiyah tidak bisa hadir lagi membersamai kita semua disini, dan maafkan juga jika baru kali ini aku bisa berbicara di depan kalian semua untuk mewakili kak Kiyah dan keluarga, kita memohon maaf sebesar- besarnya. Ini amanah kak Kiyah, tapi aku baru bisa ungkapkan saat ini. Karena sebenarnya jujur aku belum kuat untuk menceritakan semuanya. Bahwa kak Taskiyah Kinanti sudah berpulang lebih dahulu menemui Allah”.

 

Miyah menahan isak tangis buliran air matanya yang kian emnggumpal dikelopak matanya, dan suasana pun menjadi sendu, ada beberapa teman yang sontak berubah ekspresi dari berita bahagia pernikahan kini ada berita duka yang baru mereka ketahui. Tak sedikit menahan tangis dan mengusap air mata yang mulai berjatuhan, sambil mendengarkan kelanjutan ceritanya.

 

“Kak Kiyah meninggal di Aceh, 3 tahun yang lalu, ketika itu kami semua ikut ayah pindah tugas di Aceh, kak Kiyah tertembak oleh kawan pembrontak di Aceh. Saat itu keadaan aceh sedang tidak baik, ada pemberontakan ingin memisahkan diri dari Indonesia. Dan kak Kiyah salah seorang relawan kemanusian yang sedang mengajar di salah satu daerah pedalam disana. Saat baku tembak terjadi kak Kiyah sedang mengajar di salah satu kampung yang ternyata tempat bersembunyinya pemberontak-pemberotak itu. Dia tertembak, saat sedang membantu anak- anak lain untuk mengungsi ketempat yang lebih aman”.

 

Kak Kiyah sempat di bawa ke puskesmas terdekat, tapi dokter tak mampu menolongnya, akhirnya kita mencoba ke rumah sakit yang jaraknya sangat jauh dari daerah pedalaman itu. Tapi nyawanya tak mampu lagi bertahan, kak Kiyah meninggal di ambulan dalam perjalanan menuju rumah sakit tepat di pangkuanku saat itu. Sebelum dia menghembuskan nafas terakhir, dia berpesan, tak ada yang boleh bersedih dan menangisi kepergianya, baik itu aku, ibu, ayah dan saudara yang lain.

 

Dan tak perlu banyak orang yang tau akan kepergianya jangan juga memberi informasi apapun baik itu lewat sosial media, pesan dan lain- lain. Jika suatu hari nanti semua pulang ke kota asal mungkin bisa untuk berkabar. Dia tak mau yang lain sedih. Dan cari waktu yang tepat, agar Miyah biasa menyampaikan maaf itu satu persatu pada semua. Akhirnya kami sepakat memakamkan kak Kiyah di Aceh hanya keluarga saja yang tau. Dan akun bersama kami di tutup biar tak ada ucapan duka".

 

Tangis pun pecah tak tertahan, bendungan gumpalan air mata yang ditahan sedari tadi tak mampu menampungnya lagi, teman-teman cewek yang lain menghampiri Miyah dan memeluknya agar lebih tenang. Di akhir kata Miyah mengulangi ucapan untuk meminta maaf kepada semua “maafkan saya yang baru sekarang mampu menceritakanya dan hal ini teman hanya Ria yang tau. Karena tak lama kami pindah lagi kekota ini aku bertemu Ria, dia memaksa ingin berkunjung kerumah karena kangen sama kak Kiyah. Dengan sangat terpaksa aku menceritakanya. Terima kasih buat Ria yang bisa merahasiakannya hingga saat ini dan mengundangku di grup kelas kalian hingga aku bisa hadir saat ini".

 

Pesawat yang aku tumpangi segera mendarat, entahlah hati ini begitu tak karuan sejak kemarin. Dan inilah jawabnya, Inginku langkah kaki ini sesegera mungkin tuk sampai ke makam Kiyah. Aku tau ini takdir dan tak akan bisa untuk ku ubah, tapi setidaknya aku ingin mengungkapkan rasa ini meski itu sudah terlambat dan tak ada gunanya. Sejatinya setiap insane mempunyai impian dan rencana cerita yang indah, namun pada akhirnya Allah dan semestalah yang memutuskan yang terbaik meski perih itulah yang telah dipersiapkan untuk kita. Dan tak lupa aku ingin mendo'akanya semoga Allah memberikan tempat yang indah untuk Kiyah di SyurgaNya Allah kelak.. Aamiin.

-- The End --

 

Illustrasi: Vebma