Pemilik Kota Hati Part #1

Pemilik Kota Hati Part #1

“Hatiku seakan terkurung pada kerangkeng yang aku ciptakan sendiri. Tak pernah terpikirkan tuk mencari ganti mengisi ruang di hati ini. Kamu… iya… kamu seseorang yang istimewa hingga saat ini meski sudah 10 tahun lebih itu berlalu. Dan masih saja kamu yang hanya bisa menaklukan kota hati ini”. Entah sampai kapan kisah ini berujung dan ku berharap kelak kota hati ini kan menetap di hanya bersama kamu.

 

Entah mengapa hari ini aku ingin sekali membuka facebook, yang sudah lama tak ku buka akun ini. Sebenarnya sedikit malas membukanya karena banyak cerita hoax, curhatan, jualan dan lainnya. Wah ternyata di grup SD ada undangan dari sahabatku, sudah lama sekali rasanya tak bertemu dengan semuanya.

 

Tiba- tiba mata ini tertuju pada salah satu komentar seseorang. Dia yang selama ini yang masih aku pendam rasa istimewa, hinggapun kami selesai sekolah. Mungkin orang bilang kala itu cinta monyet, tapi semakin hari semakin tak bisa melupakannya hingga saat ini. Meskipun aku tahu banyak penggemarnya semasa di sekolah dulu. Aku tetap kagum tak pernah aku melihat dia berpacaran sama siapapun.

 

Sudah lama aku tak melihat dan tak tahu kabarnya, sepertinya dia baru saja ditambahkan kedalam grup ini. Dia seseorang gadis manis dan polos kala itu, sedikit cengeng karena sering di buly. Yang membulinya adalah sahabatku sendiri, sebenarnya maksudnya tak jahat, sahabatku mencari perhatiannya, tapi caranya yang salah. Dan namanya anak kecil bila diganggu, ditakut- takuti dengan hewan yang menjijikan walaupun itu mainan, tetap saja dia akan takut dan menangis.

 

Kalau ku ingat di masa itu, begitu pecundangnya aku, hanya mampu melihatnya saja, tanpa pernah membelanya, karena aku juga seorang yang penakut di sekolah saat itu, dan sahabatku seorang jagoan di komplek sekolah itu. Aghh…. apalah aku kala itu seorang anak SD yang baru akan masuk SMP, nyaliku belum berani tuk katakan cinta padanya.

 

Dengan pelan- pelan mataku merayap ke atas, kubaca komentar demi komentarnya, wah benar dia masih di kota ini. Dan dia berniat datang ke resepsi pernikahan teman kami ini. Apa kah ini tanda- tanda sejuta permohonan yang pernah kupanjatkan dan selalu menyelipkan namanya di setiap doaku akan segera terwujud ?

 

Hatiku mulai berseri. Ku mulai update lagi membuka sosial media dan pastinya aku paling update kegitan apa saja yang diunggahnya di fecebook. Ternyata dia masih melanjutkan kuliahnya, dia terlihat lebih dewasa dari 10 tahun lalu tapi masih manis seperti yang dulu. Dia lebih solekhah saat ini dengan kerudung panjang yang ia kenakan. padahal dulu gayanya agak tomboy dengan rambut pendek ala Demi Moore. Yang kala itu lagi ngehits di zaman 2000-an. Dan yang membuat aku sangat bahagia di status facebooknya masih single. Tak ada satu foto pun bersama lelaki lain kecuali bersama ayah dan saudara- saudaranya.

 

“Ya Allah maafkan hambamu ini, tak mampu menjaga pandangan dan penasaran ingin tahu tentang dia”. Doaku semakin banyak untuk dia, semakin sering ku sebut namanya di sepertiga malamku, jika aku boleh meminta pada Tuhanku , jodohkan aku denganya biarkan kota hati ini kelak menetap padanya. Mungkin ini sangat berlebihan, ya tapi 10 tahun lamanya tak ada yang bisa menggantikan posisi dia di hati ini. Entahlah, Waktupun sudah berjalan hingga 10 tahun dan itu bukan waktu yang singkat.

 

Ketika memilih masuk SMP aku malah memilih sekolah yang berbeda dengannya, karena ketika itu sahabatku yang selalu mengganggunya itu masuk SMP yang sama, dan sahabatku itu juga tetap mengejar cintanya si dia. “Duh jangan ditiru ya, apa lah ini, kecil- kecil sudah memikirkan percintaan”. Entahlah ini naif atau pecundang aku mengalah saat itu demi sahabatku, tapi rasaku tak pernah berubah.

 

10 tahun tentu banyak yang berubah, tak sedikit juga orang yang ingin singgah mencoba megetuk kota hati ini, tapi tetap saja tak bisa. Meski mencoba membuka hati ini, tetap saja si dia yang masih bertahta di kota hati ini, tak pernah ada yang bisa menggantikannya. Satu hal yang paling kusesali, disaat perpisahaan sekolah, aku tak sempat menanyakan nomor telepon rumahnya. Dan tak lama dari itu ku dengar dia pindah rumah. Hingga lah saat ini aku baru mendengar kabar tentangnya.

 

Apakah ini balasan surat cintaku pada Allah. Yang aku selalu selipkan namanya di setiap doa ? Hatiku masih bertanya- tanya. “Ya Allah semoga saja demikian, aku tak bermaksud mengeluhkan penantian panjang ini, namun jika boleh aku memohon mungkin saat ini waktunya semoga dipercepat. Dan aku siap tuk melamarnya bukan sekedar katakan cinta semata. Karena aku takut rasa yang sudah lama terbelenggu ini akan menjadi dosa jika dibiarkan semakin berlarut.

 

Sebenarnya aku ragu, tapi jika ini tak dilakukan sampai kapan lagi menunggunya? 10 tahun sudah begitu lama tuk mengungkapkan rasa ini. Akupun sudah merasa yakin, bahwa dialah sosok bidadari yang kelak sebagai pemilik kota hati ini, mengisi ruang hidup ini dan menjadikanya ibu dari anak- anak kami kelak serta seiring sejalan bersama mencari ridho Allah hingga ke surgaNya.

 

Aku memberanikan diri tuk menyapanya via pesan di facebook, Karena aku tak memiliki nomor kontaknya sedari dulu. Ku mulai menanyakan kabarnya, dan yang pasti aku menanyakan, masih ingatkah dia denganku. Lama tak memberi respon dan dua jam kemudian barulah dia menjawabnya…..


@Kin_Chaniago

* To be continued *