Pemilik Kota Hati Part #3

Pemilik Kota Hati Part #3

Illustrasi: lirekaiwabsa.wordpress.com

 

Kamu…. Mataku tak mampu berkedip, dia sekarang benar- benar ada di hadapanku. Seketika lidahku keluh tuk berkata- kata, baru saja aku mengeluh mengapa dia tak membalas pesanku dan sekarang ada disini. Ini nyata bukan ?, aku tertanya didalam hati yang membuat aku termangu terlihat bodoh dihadapanya.

 

Dia hanya tersenyum, ibu dan paman pun ikut heran dengan tingkahku yang aneh. Tiba- tiba paman menepuk pundak ku, ” hey man, kamu ini gak bisa liat cewek cantik, sampai tak berkedip”. Kenalkan ini Tasmiyah Kinanti anak temanya paman. Muka ku pun jadi tambah aneh, bukan kah nama si dia itu Taskiyah, kenapa ini Tasmiyah?.

 

Gadis itu menyimpukan tanganya ke dada seakan tak ingin bersalaman dan dia hanya tersenyum. “Man duduk lah sini” ibu mangajakku duduk di sebelahnya. “Iya bu”. “Kenapa Man, kamu kenal sama Miyah ?, tadi paman ketemu Miyah di bus, ngobrol- ngobrol panjang, ternyata dia anak teman paman, dan rumahnya tak jauh dari sini, karena paman lupa arah jalan menuju kesini, jadi sempat tanya sama Miyah, dan ternyata searah, hingga lah Miyah mengantar paman sampai kerumah ini, maklum sudah tua agak sedikit pikun hahahaha” suasana yang aneh pun mencair penuh gek dan tawa leluconnya paman.

 

Tak sabar aku tuk berkata-kata namun masih merasa tak percaya sosoknya wujud dihadapanku saat ini “iya paman, sepertinya dia tak asing bagiku, kamu Kiyah teman SD ku, dan beberapa jam lalu kita chatting di facebook bukan?” Ibu dan paman saling berpandangan, mereka heran tak paham apa yang lagi aku bicarakan ini. Dia masih saja tersenyum yang buat jantung ini berdetak semakin kencang. “iya aku teman SD mu tapi aku Miyah, bukan Kiyah. Kita saudara kembar.”

 

“Ohhh… god” iya aku lupa dia memang ada saudara kembar, tapi kita tidak sekelas, aku dan Kiyah kelas B sedangkan saudaranya ini kelas A. Dan beberapa kali jadwal masuk kami bergantian antara siang dan pagi.

 

“Oh ya, tapi kok kamu mirip sama foto Kiyah di facebook ya, dan yang baru saja chatting sama aku itu Kiyah atau kamu ?” aku bertanya semakin dalam karena begitu penasaran, tiba- tiba hati ini semakin gelisah tak karuan ada perasaan yang aku sendiripun tak tau ini sebenarnya apa. Raut muka Miyah seketika berubah sedih, seakan menahan pilu, tapi dia tetap tersenyum tuk menyembunyikanya.

 

“Kami buat satu akun yang sama, dan itu juga aku baru buka lagi setelah 2 tahun berlalu. Ceritanya panjang dan aku belum bisa banyak cerita disini, ini janjiku pada kak Kiyah, aku akan cerita jika ada temanya pada kumpul atau ada reuni sekolah.”Maaf paman, tante, aku pamit pulang ya, sudah malam, takut ibu dirumah khawatir jam segini aku belum pulang”.

 

Dia pun pamit dengan ibu dan paman dan hanya senyum kepadaku. Aku yang masih penasaran dengan kabar Kiyah, masih duduk termangu memikirkanya, “Man, hantar Miyah pulang tuh, katanya tak jauh dari sini rumahnya”, perkataan paman memecah lamunanku. Tidak apa-apa paman, aku bisa pulang sendiri naik ojek saja”.

 

Dia menolaknya, aku menawarkam diri sembari ingin menanyakan kelanjutan ceritanya Kiyah. “ Iya tak apa aku saja yang hantar, sekalian ingin tau juga kan rumahmu”. Tapi dia kokoh pendrian tak mau di hantar alasanya, kita bukan muhrim, dan takut akan menjadi fitnah nantinya jika malam- malam ada seorang lelaki yang memboncengnya pulang kerumah, sedangkan kalau abang gojek katanya sudah biasa dan tidak apa- apa. Paman dan ibu pun tak bisa memaksa kehendaknya, begitu juga aku.

 

Akhirnya aku hanya mengahantarnya sampai pangkalan ojek. Diperjalanan tadi aku sempat bertanya lagi tentang Kiyah, tapi jawabanya tetap sama, akan menceritakannya nanti saat kita ketemu lagi bersama teman- teman yang lain di resepsi pernikahan teman kami minggu ini.

 

Sesampai dirumah, ibu dan paman menanyakan kembali, ada cerita apa aku dan Miyah dan siapa Kiyah yang aku tanyakan tadi. “Man, seingat paman pernah ke rumahnya Miyah, waktu itu ada urusan bisnis sama bapaknya, hanya Miyah saja loh anak ceweknya yang di perkenalkan tak ada yang lain dan paman baru tau dia ada saudara kembar, sedangkan Saudara yang lain abang dan adiknya itu semua cowok”.

 

Apa lagi ini, hatiku semakin gelisah, rahasia apa yang masih di simpan Miyah sampai saat ini, apakah hanya aku yang tak tau, atau semua teman- teman. ” Tidak paman, Miyah itu ada saudara kembar, namanya hampir mirip, Taskiyah Kinanti, dia teman sekelas ku saat SD dulu”. Paman mengerutkan dahinya berpikir serius” Wah sepertinya kalian mempunyai cerita masalalu yang indah ya”.

 

“Tapi ini seperti takdir bukan, tiba- tiba paman datang ke rumah, yang menghatar si Miyah, dan ibu liat dari tadi kamu sepertinya ada sesuatu dengan dia.” Ibupun ikut berkomentar dengan kejadia ini.

 

Tidak ada apa- apa ibu, cuma memang saya sempat berkirim pesan sama dia tadi di facebook, menanyakan kehadirannya akan di pernikahan teman kami minggu ini.” Aku belum berani cerita apa- apa sama ibu dan ini seperti ada kisah pilu yang tersimpan dibalik senyuman Miyah tadi seakan masih menjadikanya sebua rahasia yang Besar.

 

@Kin_Chaniago

*** To be continued ***