Pendidikan Ala Ramadhan

Pendidikan Ala Ramadhan

Tidak terasa kita sudah berada di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Bulan mulia bertabur pahala, kini tinggal menghitung hari. Lalu sudah berapa banyak amalan yang kita lakukan? Sudahkah kita maksimalkan ibadah di bulan suci ini? Sudahkah puasa benar-benar mendidik kita menjadi insan yang bertaqwa? Alangkah rugi jika bulan puasa berlalu namun tak sedikitpun ada perubahan yang lebih baik dalam diri kita. Nauzubillah. 

 

Tidaklah Allah memberikan kita bulan mulia ini tanpa ada fadhilah di dalamnya. Karena sejatinya Allah hendak mendidik kita menjadi insan yang bertaqwa, seperti yang tertera dalam surah Al Baqarah ayat 183.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

 

Satu bulan penuh Allah mendidik kita, menyekolahkan kita di sekolah yang bernama Ramadhan. Sekolah ini menawarkan kurikulum berbasis dunia plus akhirat. 

 

Di dunia kita mendapatkan banyak bekal untuk menjadi insan yang bertaqwa dan berakhlakul karimah sedangkan akhirat Allah menjanjikan pahala dan puncaknya adalah surga yang diperuntukkan khusus bagi orang yang berpuasa.  

 

Seperti layaknya pendidikan yang mempunyai sistem, bulan puasa pun sama. Kelasnya bernama ramadhan, gurunya ialah Allah Swt. setiap hari kita diberi tugas untuk menahan diri dari hawa nafsu. 

 

Setiap orang yang mengikuti kelasnya harus berbekal iman dan cinta sehingga ketika lulus nanti bisa mendapatkan predikat taqwa. 

 

Sekolah ini menawarkan banyak materi pelajaran yang tak kalah menarik. Di antaranya ialah tentang jujur, disiplin, sabar, ikhlas, dan saling mengasihi. Menariknya pelajaran ini lebih mengutamakan praktek daripada teori. 

 

Jujur misalnya, di sekolah ini mengajarkan bagaimana agar setiap orang dapat bersikap jujur terhadap dirinya sendiri, terutama atas puasa yang sedang ia jalankan. Jujur berarti tidak melakukan kecurangan, mengikuti aturan yang berlaku serta memiliki kelurusan hati. 

 

Dalam berpuasa kita dituntut untuk mengikuti aturan, terlebih dalam hal waktu. Sehingga ketika kita sudah mampu jujur terhadap diri sendiri maka jujur terhadap orang lain bukanlah hal yang sulit. Dengan sifat jujur ini pula akan membawa kita terhindar dari sifat munafik. 

 

“Jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanah ia berkhianat”. (H.R Al-Bukhari).

 

Jika kita mampu melewati semua di bulan mulia ini dengan penuh kejujuran, InsyaAllah akan Allah hindarkan dari sifat munafik tersebut. Dari hadist tersebut kita diingatkan bahwa jujur merupakan sikap wajib bagi mukmin baik itu jujur dalam perbuatan maupun tutur kata. 

 

Puasa butuh kejujuran, karena ia adalah amalan yang hanya diketahui oleh diri dan Allah Swt. Sehingga dikatakan ibadah puasa hanya untuk Allah, karena Allah sendiri yang akan memberi pahalanya. 

 

Layaknya sekolah yang selalu menekankan sebuah kedisiplinan. Begitupun ibadah puasa. Puasa mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang disiplin, baik dari segi waktu ibadah, makan, minum, bahkan tidur. 

 

Terutama disiplin dalam urusan ibadah kita kepada Allah, baik pada siang maupun malam hari. Ibadah taraweh butuh kedisiplinan, pun juga dalam bertilawah maupun ibadah sunnah lainnya. 

 

Disiplin tentunya mengajarkan kita untuk mengerjakan segala sesuatu tepat waktu, termasuk membagi dan mengelola waktu dengan maksimal.

 

Imam Ali R.A pernah berkata “Seorang muslim harus memetakan waktunya dalam sehari menjadi tiga bagian, Waktu untuk menyembah Allah, waktu untuk mencari nafkah dan waktu untuk kepentingan pribadi dalam hal materi”. 

 

Disiplin dalam bulan mulia ini melatih kita untuk bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar satu bulan ini tidak berlalu begitu saja tanpa menyisakan hal yang berarti. 

 

Hal selanjutnya yang ada dalam kurikulum puasa adalah sabar. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah ra Rasulullah SAW bersabda.

 

اَلصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Puasa itu adalah separuh sabar”

 

Orang-orang yang mampu melakukan ibadah puasa dengan benar dan sesuai dengan tuntunan yang berlaku maka akan memiliki sifat sabar. 

 

Sikap sabar akan terlihat dari sifat, perkataan maupun tindakan yang ia lakukan sehari-hari. Ibadah butuh kesabaran, karena secara lahiriyah berat untuk dilakukan, termasuk puasa. Mulai dari sahur di pagi hari, yang biasanya dipakai untuk tidur. 

 

Bersabar di tengah panas terik matahari yang menyengat dengan segudang aktivitas harian. Seperti halnya khusyuk dalam sholat juga butuh kesabaran, pun bangun tahajud di malam hari. 

 

Begitu juga dengan ibadah haji, uang yang tak sdikit, perjalanan yang jauh, bersempit-sempitan dan berdesakan. Semua itu tidak akan berjalan dengan baik jika tidak berlandaskan sabar. 

 

Pelajaran berikutnya ialah tentang ikhlas. Puasanya seorang hamba yang ikhlas tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum saja. Tapi juga harus mempu menahan pandangan, pendengaran, penglihatan, bahkan perasaan semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah. 

 

Ibadah puasa tanpa keikhlasan adalah sia-sia, namun itulah yang banyak didapati seperti yang terdapat dalam hadist yang artinya 

 

“Betapa banyak yang puasa, hasilnya hanya lapar dan dahaga” (H.R. Bukhari).

 

Hadist tersebut menunjukkan bahwa ikhlas bukanlah perkara mudah. Ia adalah amalan batin yang sangat sulit dilakukan jika yang diharapkan seorang hamba ialah selain ridho dari Allah. 

 

Karena puasa ialah bagian dari amalan batin antara hamba dan penciptanya maka keikhlasan adalah kuncinya. Sehingga seorang yang berhasil mendapatkan predikat taqwa ialah orang yang ikhlas dalam menjalankan puasanya. 

 

Pendidikan puasa tak hanya mencetak diri menjadi orang yang peduli terdahadp diri sendiri, tapi juga kepada orang lain. Hal ini tergambar dari kewajiban zakat fitrah yang harus dikeluarkan oleh setiap muslim. 

 

Zakat mendidik kita untuk mau peduli dan berbagi dengan orang yang kurang mampu. Tidak hanya zakat, ibadah lain seperti sedekah maupun infaq akan dilipat gandakan di bulan ramadhan ini. 

 

Sehingga akan muncul sifat peka terhadap sesama, saling bantu dan saling tolong menolong terhadap orang yang membutuhkan.  

 

Lengkaplah sekiranya jika kita menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesungguhan, maka kita akan terlahir kambali sebagai insan baik yang paripurna. 

 

Marilah kita menggunakan waktu yang tersisa ini dengan sungguh-sungguh beribadah, hanya untuk menjadi keridhoan dariNya semata. Karena sesungguhnya dalam ibadah tersebut secara tidak langsung Allah hendak mendidik kita menjadi insan yang bertaqwa dan berakhlakul karimah.

 

 
Penulis:
Upi Rahmawati, M.Pd
Trainer Sekolah Guru Indonesia
Magister Manajemen Pendidikan Islam 
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA