Pesan Moral Dari Uang Dua Ribu Rupiah

Pesan Moral Dari Uang Dua Ribu Rupiah

Foto via sofi.co.id

 

Sadar tidak sadar kita sering memperlakukan uang dua ribu rupiah seenaknya sendiri, Gengs. Mentang-mentang nilai  nominalnya sedikit kita bisa memainkan keberadaannya dengan menukarkan kebutuhan sesuai keinginan kita. Jika si uang bisa berbicara, tentulah dia akan protes dengan keberadaannya di dalam dompet kita yang tidak adil.

Bagaimana tidak? jika terkadang kita menganggap keberadaannya sebagai pengganggu di dompet saja atau menuh-menuhi tempat di kantong-kantong saku yang terdapat di baju dan celana ataupun rok kita. Di lain sisi kita mengadopsi dengan baik uang dua ribu rupiah itu. Padahal ya, jika kita bisa bersahabat baik dengan uang dua ribu rupiah tentulah kita akan mengadopsinya di waktu dan kondisi yang tepat.

 

Begini si uang jika bisa bersuara seperti manusia :

1. Aku Di Buang-buang Jika Untuk Surga

Semoga kalian tidak termasuk di sini ya! Ketika untuk beramal uang yang kalian keluarkan dari dompet seringnya pasti uang dua ribuan. Sekalipun di dalam dompet itu ada uang yang lebih gede nilai nominalnya. Bukti dari data dan beberapa kali melihat kotak masjid itu dipenuhi uang dua ribu rupiahan. Bahkan, saat penggalangan dana untuk korban bencana alam hampir setiap tangan mengulurkan uang dua ribu rupiah.

Pertanyaan saya, “Apa batas maksimal ikhlas itu dua ribu rupiah?” Padahal, ketika tujuannya untuk surga, si uang tidak mau keluar dari dompet. Dia berharap kakak tertua nya (seratus ribuan) yang di serahkan di tempat-tempat yang mulia bukan dirinya yang pantas di tempat rendahan.

 

2. Aku Dimuliakan Ketika Di Tempat Yang Rendah

Pernah melihat orang-orang ketika membayar yang seharusnya dua ribu rupiah berhubung gengsi dengan teman dekatnya akhirnya membayar 5 ribu rupiah. Kasus lain, pemberian tips yang sebenarnya itu tidak memiliki hukum wajib dalam sebuah akad jual beli ataupun sebuah instansi jasa.

Namun tetap saja dilakukan dengan nominal uang yang tinggi. Sedangkan uang dua ribu rupiah masih tidur pules dalam dompetmu. Padahal ya, gengs! Jika bisa berteriak lantang si uang itu pengen dirinya saja yang buat tips dan bayar parkiran apalagi bayar ke toilet. Hmm, tapi kenyataannya ongkos toilet lebih mahal dari pada ongkos ke surga. Betul tidak?

 

3. Kenapa Aku Disukai Si Dermawan Padahal Aku Suka Dengan Si Bakhil

Mengerikan ketika si uang dua ribu rupiah berontak kepada Tuhan, “Kenapa aku disukai si dermawan, padahal aku menyukai si bakhil?” ya, seperti itulah ketika seseorang yang dermawan lebih sering menyimpan uang dua ribu rupiah untuk keperluan pribadinya daripada dikeluarkan untuk sedekah atau beramal. Saat bersedekah si derma tentunya mengutus uang tertua (seratus ribu) untuk mewakili rasa syukurnya kepada Tuhan atas rezekinya selama ini.

Sebaliknya, ketika untuk beramal si bakhil dengan sigap mengutus uang dua ribu rupiah sebagai panglima besar beramal dalam kehidupannya. Jika sudah habis uang dua ribu rupiah, adik nominalnya (seribu rupiah) pun bisa di utus untuk kembali di amalkan oleh si bakhil.

Begitulah Gengs pesan moral dari uang yang kita lihat hanya sebelah mata. Harapan saya mulai sekarang kita bisa memilih serta memilah kebutuhan uang dua ribu rupiah yang benar. Selamat mengamalkan pesan moralnya!