Pesona Istambul di Demak

Pesona Istambul di Demak

Keindahan hutan Mangrove

 

Hari itu adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di Istambul, sapaan cantik untuk Desa Tambakbulusan yang merupakan singkatan dari Istana Tambakbulusan. Desa Tambakbulusan merupakan salah satu desa di Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah. Waktu itu saya berangkat dengan misi pengabdian bersama 29 teman dari berbagai disiplin ilmu dari salah satu kampus ternama di Indonesia. Penerjunan dilakukan pada akhir bulan Juni, sepekan pasca Idul Fitri 1439 H hingga awal Agustus 2018.

 

Pengabdian masyarakat merupakan sebuah misi yang tidak ringan bagi siapa saja yang tidak memiliki jiwa lapang, jiwa kemanusiaan, serta jiwa ikhlas. Lebih-lebih jika hanya dilandasi atas dasar keterpaksaan. Maka kesia-siaanlah yang akan didapatkan. Begitu juga dengan saya. Awalnya, keberangkatan saya ke Istambul memang tidak murni untuk mengabdi melainkan hanya sebatas untuk memenuhi panggilan tugas kuliah yang mau-tidak-mau memang harus dilakukan.

 

Namun rasa itu tiba-tiba hilang seketika disaat raga ini menginjakkan kaki di bumi Istambul untuk yang pertama kalinya. Sungguh, mata saya terbelalak, jantung berdegup kencang, dan hati pun luluh terhipnotis oleh keindahan sajian pemandangan di ujung bumi Kota Para Wali itu. Dari sinilah benih-benih cinta itu mulai kutanamkan. Bukan untuk lelaki pujaan hati yang beberapa hari lalu berhasil membuatku tergila-gila melainkan untuk bumi Istambul yang sederhana nan elok ini.  

 

Bagi siapapun yang ingin memasuki desa Tambakbulusan pasti dia akan disambut oleh tambak-tambak luas yang terbentang mengelilingi desa serta barisan hutan mangrove sebagai pelengkapnya. Akan menjadi daya tarik sendiri jika kita terus berjalan menelusuri desa. Di ujung jalan utamanya kita akan dipertemukan dengan sungai induk yang merupakan sebuah sungai irigasi dengan ujungnya sampai di pantai Glagah Wangi atau sekarang lebih sering dijuluki dengan Pantai Istambul.

 

Jika kita telah sampai di sungai, maka janganlah hanya berhenti di sana. Berjalanlah mengikuti alur sungai dimana dia memanjang maka nanti kita akan dipertemukan dengan sebuah hutan mangrove yang memiliki spesies mangrove cukup lengkap. Di ujung hilir sungai dan hutan mangrove tersebut kita akan disuguhi dengan pemandangan pantai yang memanjakan mata. Jika kita perhatikan dengan seksama,  pantai yang masih sangat perawan ini tidak kalah menarik dengan pantai-pantai di Bali yang menjadi dambaan banyak orang. Kesejukan akibat hutan mangrove yang berbatasan langsung dengan bibir pantai membuat pantai ini cocok untuk bersantai menikmati kebersamaan bersama sanak saudara, sahabat, kekasih, atau menyendiri sembari menunggu tenggelamnya matahari di ufuk barat.

 

Ombaknya yang tenang sangat cocok untuk berenang dan bermain air bagi anak-anak maupun dewasa. Mimpi saya untuk ke depannya, kita juga dapat bersantai sembari menikmati sajian makanan dan masakan kuliner khas daerah tersebut untuk menambah kelengkapan dan kepuasan pengunjung. Sehingga tidak hanya wisatawan yang mendapatkan benefit tapi juga masyarakat local melalui kegiatan layanan akomodasi pendukung lainnya.

 

Saat pertama kita bergaul dengan masyarakat setempat, mungkin kita akan dikagetkan dengan logat bicara mereka yang terdengar kasar dan keras. Namun dibalik itu kita akan menemukan kelembutan hati yang sangat bertolak belakang dengan prasangka kita sebelumnya. Ditambah lagi dengan tradisi religious mereka yang masih sangat kental akan membuat kita semakin betah untuk berlama-lama tinggal di Tambakbulusan sembari menyelami ruh para pekerja keras yang tak kenal lelah.

Penulis: Nur Sangidah