Pulang Kampung Sebagai Tradisinya Masyarakat Muslim di Bulan Fitri

Pulang Kampung Sebagai Tradisinya Masyarakat Muslim di Bulan Fitri

Hari raya Idul Fitri adalah hari besar keagamaan bagi seluruh umat muslim di dunia. Tidak seperti hari-hari besar lainnya, hari raya Idul Fitri  cenderung lebih meriah.
Bahkan hari raya Idul Fitri juga sebagai ikon libur panjang setahun sekali, baik untuk para pekerja maupun pelajar. 
Itulah salah satu fakta tentang perayaan hari raya Idul Fitri.

 

Tidak hanya muncul istilah cuti bersama,adapula istilah THR yang menjadi bahasa paling sering muncul di semua status media online.

 

Selain cuti bersama dan uang THR, tradisi maupun istilah yang lazim diucapkan ketika hari raya Idul Fitri tiba yakni mudik atau pulang kampung.

 

Memang harus ya lebaran pulang kampung? Kenapa pulang kampung cuma pas lebaran? Tentu pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah sering kita dengar ya gaess.

 

Kalau versi saya, begini jawabannya... Pulang kampung di waktu menjelang lebaran adalah tradisi ataupun kebiasaan yang bagus dan sah sah saja. Lalu, kenapa pulang kampung kalau pas lebaran saja.

 

Ya iyalah, kerja berbulan-bulan kan duitnya buat bayar kontrakan, makan di warteg, beli bensin, kirim duit buat emak di kampung. Kalau gitu kan ngga bakalan ada jatah duit buat beli tiket bus, apalagi tiket pesawat. Nah, bedanya kalau hari raya Idul Fitri kan para pekerja dapat THR, lumayan kan dapat gaji satu bulan kerja.

 

Lalu ditambah tabungan sisa gaji selama setahun, wah cocok kan buat beli tiket pulang, beliin emak baju, kue, beliin tetangga oleh-oleh, terus ngasih pesangon deh buat ponakan-ponakan di kampung.

 

Nah, itu yang saya sebut berkah di bulan fitri. Yang lama ngga ketemu jadi nyambung lagi silaturahmi nya. Sama saudara, tetangga, maupun kawan lama.

 

Hayoooo... berkah mana yang akan kalian dustakan??? Jangan yaaa.. walaupun THR minim, harus tetap bersyukur, karena orang yang bahagia itu adalah orang yang pandai bersyukur. Berapapun harta yang kita miliki, tanpa bersyukur maka akan selalu ada hasrat untuk memiliki sifat serakah. Astagfirullah.

 

Pada intinya tradisi pulang kampung nilai positifnya dapat menyambung silaturahmi yang mungkin nyaris putus terhalang jarak dan waktu.

 

Jangan sampai pula kecanggihan teknologi justru memutuskan ikatan silaturahmi yang dulu sangat kental.

 

Sebagai contohnya, saat lebaran zaman dulu sebelum ada motor apalagi mobil, sebelum ada handphone, apalagi smartphone, orang-orang mengajak seluruh anggota keluarganya untuk bersilaturahmi ketempat saudaranya yang jaraknya sampai puluhan kilo dengan berjalan kaki.

 

Tapi mereka menikmati setiap langkah yang mereka tempuh. Yang ada hanya kebahagiaan, tidak ada lelah, apalagi keluh kesah. Lalu, beberapa tahun kemudian saat sepeda motor mulai masuk desa, disusul kemunculan hp, saat itulah kehangatan yang dulu pernah ada lambat laun menjadi dingin. Tiada lagi silaturahmi ke tempat saudara jauh, tak ada lagi senda gurau antarkeluarga.


Wasalam, yang dulu kini tinggal kenangan, sangat ironis. Yang harusnya kemajuan IPTEK memudahkan manusia untuk bersilaturahmi jarak jauh, tapi ini justru sebaliknya. Kalaupun mereka bertemu mereka hanya akan adu gengsi, adu kekayaan, adu kebahagiaan, ajang pamer atau entahlah.

 

Semuanya tinggallah kenangan, dan semoga tradisi pulang kampung tidak pula ikut dimusnahkan dari peradapan kita sebagai masyarakat muslim, karna itu merupakan salah satu contoh kecil upaya kita  mengikat tali silaturahmi.

 

Semoga hari fitri tahun ini menjadikan kita manusia yang lebih baik, lebih dekat dengan Tuhan, lebih mempererat tali silaturahmi, lebih banyak bersyukurnya. Dan semoga kita masih bisa berjumpa dengan bulan Ramadan dan bulan fitri tahun depan. Amin....

 

Foto: berita sulsel