Purworejo Dikejutkan, Dengan Hilangnya “Klaras” Di Salah Satu Desannya

Purworejo Dikejutkan, Dengan Hilangnya “Klaras” Di Salah Satu Desannya

Purworejo – Di sebuah desa yang masuk pegunungan menoreh, tepatnya di daerah cekungan bukit ada nama desa yang cukup unik. Tridadi, yah namanya desa Tridadi, secara administratif wilayahnya masuk Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo. Topografinya berupa pegunungan berbukit-bukit, hawa sejuk sangat terasa, bercocok tanam di sawah, dan ladang menjadi sumber penghasilan masyarakatnya. Pohon-pohon buah cukup baik berkembangbiak di sini.

 

Durian, manggis, petai, kelapa menjadi komoditi utama. Padi-padi tumbuh dengan lebatnya, walaupun hanya sebagai sawah tadah hujan saja. Tetapi sangat diuntungkan, karena mengalir dengan jernih sungai di tengah-tengahnya. Hal yang menarik dari desa ini adalah dengan mempunyai nama unik, Tridadi. Dalam arti jawa nama Tridadi itu dapat diartikan tri (adalah tiga) sedang dadi (jadi) jika digabung artinya tiga jadi satu. Konon dahulu terbagi menjadi 3 wilayah daerah ini. Desa-desa kecil itu mempunyai nama sendiri di antaranya, Plakjurang, Pejaten, dan Tedunan kemudian disatukan oleh seorang gelondong.

 

Maka jadilah satu buah desa dengan nama Tridadi (tiga jadi satu). Sedang gelondong sediri adalah sejenis jabatan atau gelar,  biasanya mempunyai kekuasaan yang membawahi beberapa desa.

 

Selain namanya yang unik, akhir-akhir ini terjadi keanehan di wilayah ini. Daun pisang kering atau banyak orang menyebutnya dengan klaras, menghilang secara misterius. Apa maksudnya dengan menghilang? Yah ini serius, dan bahkan menjadi masalah yang sangat serius. Penduduk desa terutama pembuat gula jawa panik.

 

Gula merah kelapa dan gula merah aren akan dibungkus dengan apa? Sedang bungkus yang mereka pakai masih tradisional, yaitu daun pisang kering klaras tiba-tiba saja menghilang begitu saja, tanpa memberikan kabar dahulu. Karena desa pinggir pegunungan menoreh ini termasuk penghasil gula jawa, jadi kebutuhan daun pisang kering menghilang itu semacam bencana.

 

Usut punya usut akhirnya ditelusuri, walaupun pengamatannya memakan waktu cukup lama, misteri menghilangnya daun pisang kering itu terbongkar. Sekelompok anak muda yang menamakan dirinya sebagai  Trimurni karang taruna desa Tridadi menjadi pelakunya.

 

Ternyata klaras menghilang itu mereka semua yang mengambilnya dan dimanfaatkan untuk berternak jangkrik. Bagi pengrajin gula jawa hal ini adalah semacam bencana, tetapi sebagai peternak jangkrik klaras yang melimpah merupakan berkah tersendiri dari alam.

 

Kebetulan sekali tanaman pisang tumbuh subur di setiap sudut desa, jadi tanpa kesulitan bagi peternak jangkrik untuk mencari klaras. Klaras sendiri adalah sesuatu yang pokok, jika ingin beternak jangkrik. Karena setiap kandang dari budidaya serangga pemakan suket teki ini wajib menggunakan media klaras sebagai tempat berlindung. Tanpa ada tempat berlindung akan terjadi kanibalisme antar serangga tersebut.

 

Sempat membuat kaget banyak orang tentang misteri hilangnya klaras, karang taruna Trimurni membuktikannya dengan membina anak-anak remaja untuk ikut menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan beternak jangkrik, dampak positifnya mulai muncul. Mereka semua sekarang enggan untuk merantau, prinsipnya mulai berubah. Dan itu alhamdulillah sekali, merupakan kabar yang sangat menggembirakan.

 

Bagaimana tidak di sela-sela pengangguran meningkat di Tridadi pemuda-pemuda mulai menata hidupnya dengan berkarya. Hal ini adalah pokok dari akan maju mundurnya sebuah desa. Sedang posisi saat ini momen di mana generasi emas mulai naik daun. Ada pepatah mengatakan, “Maju mundurnya sebuah desa itu akan terlihat dari jumlah pemudanya”, dirasa memang benar, semakin banyak pemudanya dalam sebuah desa maka tingkat kreatifitasnya juga akan bertumbuh.

 

jangkrik

 

Tentang jangkrik sendiri saat ini sudah bisa berproduksi cukup banyak, setiap hari bisa memanen 20 kg jangkrik dengan kualitas tinggi. Fenomena hilangnya klaras itu memang sengaja kami buat, untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Bahwa dengan berkarya kita akan mendapatkan penghasilan, dan itu terbukti berhasil.

 

Berawal dari 3 orang peternak, untuk saat ini meningkat menjadi 10 orang peternak. Dengan hilangnya klaras atau daun pisang kering itu juga berdampak Pada produk lainya, karena dikaruniai tanah alam yang subur. Penduduk desa dengan beramai-ramai menanam pohon pisang.

 

Mereka semua menanam pohon pisang berbagai macam jenis, dengan harapan dapat membungkus gula jawa. Serta dalam beternak jangkrik tetap berjalan, lambat laun dengan progres yang baik seperti ini ekonomi akan meningkat. Bukan hal tidak mungkin peluang-peluang untuk berwirasusaha terbuka lebar.

 

Semoga ini akan menjadi sebuah contoh untuk masyarakat desa khususnya di wilayah kabupaten Purworejo, untuk berkarya di tempat tinggalnya masing-masing. Pola-pola seperti ini lah yang akan mendukung romansa Purworejo 2020.

 

Semoga dengan hilangnya klaras misterius itu akan menjadi sebuah awal yang baik di mana ekonomi kreatif akan tumbuh di desa ini, dan menjadikan percontohan desa-desa lainnya di wilayah kabupaten Purworejo. Senyum-senyum tipis itu sedang menampakan keluesannya. Serasa menggoreskan tinta emas, harapan, impian, dan cita-cita.

 

Penulis: Yan Budi Nugroho