Ritual Bersih Jalan, Tradisi Masyarakat Tionghoa Singkawang

Ritual Bersih Jalan, Tradisi Masyarakat Tionghoa Singkawang

Ritual bersih jalan di Singkawang (Kompas Travel)

 

Reviensmedia.com, Singkawang – Imlek merupakan tahun baru etnis Tionghoa. Imlek juga diselenggarakan di seluruh daerah di Indonesia, salah satunya di Singkawang, Kalimantan Barat. Uniknya, perayaan imlek di Indonesia diselenggarakan dengan mengedepankan akulturasi budaya setempat, seperti halnya di Singkawang. Di Singkawang sendiri, Imlek dipadu padankan dengan budaya Dayak dan juga Melayu, sehingga perayaannya sarat akan nilai keberagaman budaya.

 

Imlek di Singkawang setiap tahunnya dirayakan sangat meriah dan berbeda dengan imlek-imlek di daerah lainnya. Tidak hanya itu, acara yang sejak tahun 2009 ditetapkan sebagai event resmi nasional ini sudah mendapat predikat “Wonderful of Word” oleh UNICEF.

 

Perayaan imleknya sendiri akan ditutup dengan perayaan Cap Go Meh, yang pada tahun ini dirayakan pada tanggal 2 Maret. Sebelum merayakan Cap Go Meh, masyarakat Singkawang biasanya terlebih dahulu menggelar ritual cuci jalan. Hal ini dilakukan sebagai upaya membersihkan kota dari unsur negatif, terhindari dari bencana, penyakit, serta mendatangkan berkah, memberikan kedamaian dan kesejahteraan untuk masyarakat.

 

Dalam ritual ini, ribuan orang akan memenuhi Vihara Tri Dharma Bumi Raya, kota Singkawang untuk sembahyang. Tidak hanya itu, pengunjung akan disuguhkan pertunjukkan pawai tatung yang diiringi tabuhan musik khas. Dikutip dari wikipedia, Tatung dalam bahasa Hakka adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Dimana raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi atau perantara antara roh leluhur atau dewa tersebut. Dengan menggunakan Mantra dan Mudra tertentu roh dewa dipanggil ke altar kemudian akan memasuki raga orang.

 

Selain itu, ritual cuci jalan yang menghadirkan pawai tatung difungsikan untuk meminta izin kepada dewa di Vihara, untuk mengikuti pawai Cap Go Meh keesokan harinya. Kemuian mereka akan mengelilingi kota dengan mengarak Pekong atau Dewa menuju tempat peribadatan lainnya untuk memberikan penghormatan. Tatung yang sudah dilengkapi dengan kostum, atribut Klenteng, dan juga telah dirasuki arwah leluhur inilah yang akan menjadi daya tarik pengujung yang tidak sedikit datang dari luar daerah.