Rumah Betang Dusun Nek Bindang, Kabupaten Sanggau

Rumah Betang Dusun Nek Bindang, Kabupaten Sanggau

Kabupaten Sanggau: Waktu itu, aku dan bang Gumay kawan jalanku di Pontianak berangkat menuju Kabupaten Sanggau, sudah tiga kali aku menapaki kabupaten ini, tanpa memperdulikan jalan yang sulit untuk dilalui, “tapi sulitnya perjalanan ini tak sesulit perjalanan terjal menuju hatimu dik!!!”, apasih.

 

Betul, perjalananku dan Bang Gumay ditempuh selama kurang lebih 3 jam menuju Objek Budaya yang akan kita tuju, sebelumnya hampir setengah perjalanan kita mampir dulu disebuah kedai minuman dipinggiran hutan gundul Kalimantan Barat. “Gundul Bos!!”

 

Lega juga rasanya bisa menenggak minuman dingin dan menyantap mi rebus, yang sebelum nya perutku memang belum terisi apapun, kecuali angin sepoy-sepoy, lain dengan Bang Gumay, rokok saja sudah cukup untuk mengisi paru-parunya yang sudah kosong dengan Nikotin.

 

Ya, begitulah kata seorang perokok sejati, “Ngerokok mati, nggak ngerokok juga mati, Ngerokok aja lah!!”. Pernah suatu hari aku ditanya oleh seorang kawan, “Bro, kamu kok nggak ngerokok kenapa?” aku jawab, “aku biasa dirokok bos”. Simple saja jawabku yang membuat kawanku itu mendadak berwajah porno.

 

image
 

Akhirnya kita sampai ke Jembatan Tayan yang terkenal itu, jembatan ini sebagai jalan alternative untuk para warga di daerah Tayan terutama Tayan Hilir dan sekitarnya untuk menuju ke Kota Provinsi Kalimantan Barat.

 

Jembatan yang membentang melalui dua sungai (Sungai Kapuas) ini sangat membantu perekonomian warga sekitar, katanya “daripada ke Sanggau yang jalannya abstrak, lebih baik ke Pontianak.” Setidaknya kalau ada wanita mengandung tidak melahirkan dijalan mengingat jalan ke arah Sanggau begitu endemic dihuni oleh bebatuan dan kerikil.

 

“Rumah Betang, Dusun Nek Bindang” begitulah papan yang tertulis dipinggir jalan untuk membantu orang seperti kita menuju ke Objek budaya warisan leluruh Suku Dayak. Dari Jalan Raya Trans Kalimantan kurang lebih 3 Km kita akan sampai ke Rumah Adat Nek Bindang tersebut.

 

Oh iya, Pliss jangan ditanya soal jalan yang dilalui seperti apa? Saran saya pakailah motor yang bukan matic, terlebih pilih motor Trail atau sejenisnya. Aman!!

 

Sampailah kita ke Rumah Betang, kita disambut dengan baik di sana, izin singgah kami lakukan kepada Kepala Suku di Dusun Nek Bindang, beliau bernama Pak Atot, merupakan keturunan kelima dari nenek moyang masyarakat sub suku Dayak Desa.

 

Menurut keterangan beliau rumah betang ini sudah bukan rumah betang yang asli karena sudah mengalami beberapa kali rehat, seharusnya rumah betang ini beratapkan daun kirab, pohon dari daun kirab ini tidak bisa dibudidaya, jaman dahulu Suku Dayak Desa mencari dan menganyam daun ini harus masuk ke hutan dan daun ini dahulu sangat mudah ditemui tapi sekarang sudah sangat langkah bahkan mungkin tidak ada lagi.

 

“Kenapa, Ya?” Mana kame’ Tahu!!!
Atap Rumah Betang kemudian diganti dengan daun sagu yang dianyam, itupun sekarang pohon sagu khususnya di daerah kecamatan Toba ini sudah tidak ada lagi, mau tidak mau atap kita ganti dengan seng, daun sagu hanya kami gunakan untuk menutupi bagian depan dari Rumah Betang ini, itupun usianya sudah belasan tahun dan seharusnya sudah diganti.

 

“Yah, begitulah bos kalau hutan sudah beralih fungsi jadi lahan sawit. Keanekaragaman flora dan fauna sudah tak ada lagi, karena habitatnya sudah hancur dalam simbul-simbul Kapitalis”.

 

Oke lanjut, Bahan yang digunakan dari Rumah Betang Nek Bindang ini dari sekian banyak Rumah Betang yang ada di Kalimantan Barat, termasuk yang hampir mendekati asli karena Rumah Betang yang lain sudah menggunakan beton bukan dari kayu. “Kayu ne wes entek cuk!!, dadi kayu Sawit” Yang seharusnya Rumah Betang tersebut harus tersusun sepenuhnya dengan Kayu.

 

Nah, saat ini kita masih bisa menikmati kedamaian di rumah Betang Nek Bindang ini, yang masih 80 persen keasliannya. Rumah ini terbuat dari beberapa kayu yang kami saja tidak tahu dari kayu apa, Pak Atot menyebut kayu yang membentang sebagai alas rumah tersebut bernama Kayu Bambang/ Babang “Mirip nama orang ya Cuy?” dan pilar-pilarnya tak lain adalah kayu yang sering kita sebut dengan kayu besi atau kayu belian, dan ada beberapa nama kayu yang aku lupa namanya. “Sorry, faktor usia bro.”

 

Oh iya Rumah Betang Nek Bindang ini dihuni oleh 9 kepala keluarga lhooh, dengan Sembilan kamar yang berjajar, didepan jajaran rumah tersebut ada semacam balai untuk berkumpul anggota keluarga dari Sembilan kepala keluarga tersbut.

 

Tapi menurut keterangan Pak Atot fungsi dari balai tersebut adalah untuk pasangan Bujang-Dare yang belum diikat adat, maka Bujang-Dare yang belum diikat tersebut bisa tinggal di balai sebelumdiikat adat dan kemudian bisa tinggal didalam kamar.

 

image

 

Bagaimana dengan para tamu yang akan menginap? Pertanyaan yang bagus sekali. Jadi walaupun rumah betang ini dihuni oleh 9 kepala keluarga tapi ada satu kamar yang kosong yang khusus diperuntukkan tamu yang akan singgah barang beberapa hari. Kamar yang dikosongkan tersebut tidak serta merta kosong, tapi ada semacam jadwal gilir untuk tidur di kamar tersebut. Kata Pak Atot, kamar tamu tak boleh kosong karena tidak baik jika dikosongkan. “Alasan secara rinci aku tak menemukannya, yang pasti setiap kamar tidak boleh kosong titik”.

 

Beberapa kali aku menengadahkan keatas aku melihat keunikan dari rumah betang ini, ternyata kayu sambungan yang menyusun rumah ini dari atap sampai dengan pilar-pilarnya tidak ada paku yang menancap tapi sekedar tali rotan yang diikatkan dari sambungan kayu yang dipahat sedemikian rupa.

 

“Tali itu bukan dari rotan mas Budi”. Begitulah kiranya Pak Atot menegurku.

“Tapi dari tali akar, tali akar ini jika sudah direkatkan akan benar-benar rekat dan jika putus atau sengaja diputus akan tetap merekat kuat”.

 

Tali akar, mereka menyebutnya dan bukan tali rotan seperti yang biasa kita lihat untuk menali sambungan kayu, entah seperti apa pohon dari tali akar ini, aku dan bang Gumay pun tidak tahu.

 

Damai rasa nya bisa tinggal di Rumah Betang ini, semilir angin yang masuk dari sela-sela dinding kayu dan mata ini dimanjakan dengan lukisan tanaman pakis khas suku Dayak “ukir mereka menyebutnya” yang menghiasai seluruh dinding dari rumah betang ini. Diiringi dengan alunan musik yang dimainkan oleh salah satu anggota keluarga Pak Atot menambah kecintaanku pada keberaneka ragaman Suku Budaya yang ada di Negara Indonesia. Kitapun berat meninggalkan kedamaian ini, dan berakhir dengan perpisahan kita dengan warga dusun Nek Bindang.

 

Penulis: Budi Cesar