Sebuah Mimpi

Sebuah Mimpi

Senja merambah pasti menjadi gelap, udara mulai terasa dingin. Indahnya langit merah sendu karena tenggelamnya matahari telah menghilang. Aku menutup jendela kamarku yang sedari tadi masih terbuka.

 

Hari yang sangat melelahkan, aku  membaringkan tubuhku diranjang. Aku memandangi langit-langit kamarku. Tampak begitu kotor dengan sarang laba-laba yang menghiasinya. Akhir-akhir ini aku sibuk belajar dan mengerjakan  tugas sekolah, sampai tak sempat membersihkan kamar tidurku. Berkali – kali menguap, namun aku tak jua memejamkan mata.

Aku mengambil sebuah buku yang menceritakan kisah Pandawa, lembar demi lembar kulewati dan akhirnya aku perlahan mulai tak sadar dan terlelap dalam tidurku...

 

Dalam tidurku...

Aku berjalan di sebuah  jalanan yang sepi, jalannya terjal dan  remang – remang. Aku tak tahu aku harus berjalan kemana. Aku seperti masuk ke dunia lain dan tersesat. Dalam film insidious ini disebut dunia further. Ya, aku seperti masuk di dunia itu, dunia yang tidak nyata. Aku terus melangkahkan kakiku menapaki jalanan terjal itu. Diujung jalan, terdapat sebuah rumah besar dan megah. Awalnya aku tak ingin kesana, tapi hatiku terus mengarah kesana. Dengan langkah berat, aku menuju ke rumah megah itu.

 

Aku mengetuk rumah itu, tak ada apapun. Apakah rumah sebesar dan semegah ini tak berpenghuni? Ucapku dalam hati. Aku mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Aku kembali megetuk rumah itu, namun kali ini lebih keras. Lagi – lagi tak ada apapun. Aku terus mengetuk rumah itu, akhirnya pintu rumah itu terbuka. Anehnya, tak ada orang yang membukakan pintu itu, pintu itu terbuka dengan sendirinya.

 

Dengan hati takut dan penasaran aku memasuki rumah itu, pintu itu tiba- tiba tertutup. Aku mencoba memasuki seluruh ruangan rumah itu. Rumah itu begitu luas, aku lelah memasuki ruangan-ruangan di rumah itu. Pemilik rumah megah itu pun belum jua kutemukan. Aku merasa rumah ini tak ada batasnya, aku tersadar, ini tidak nyata.

 

Aku semakin takut, aku berusaha keluar dari rumah itu. Namun tak ada pintu yang kutemui. Aku tersesat. Satu per satu lampu dirumah itu padam, aku panik. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Ruangan begitu gelap, aku sangat ketakutan. Aku bodoh. Aku menyesal. Kenapa aku harus memasuki rumah yang besar dan megah tanpa mengetahui siapa pemiliknya.

 

Tak ada yang bisa kulakukan lagi, aku terduduk di sudut ruangan yang gelap itu. Aku menangis. Seseorang datang dengan cahaya di tangan kanannya, dan tangan kirinya meraih tangan kananku. Tanpa sepatah katapun dia menarikku dan membawaku entah kemana. Aku menurut saja, aku tahu pasti dia ingin membawaku keluar dari rumah yang menyesatkan ini. tiba- tiba sesosok makhluk astral menarik tangan kiriku. Aku memegang erat-erat tangan seseorang itu dan berusaha melepaskan tanganku dari makhluk astral itu. Aku tak kuat lagi untuk memegang tangan seseorang itu dan tanganku terlepas dari tangannya...

Aaaaaaaaaa.....

Aku terbangun....

 

          Jantungku berdetak cepat, rasa  takut itu masih ada, aku merasa mimpi ini nyata. Nyata. Sangat nyata. Aku tersadar, mungkin ini cara Tuhan untuk menyadarkanku. Selama ini aku bersedih dan terus menyiksa diriku karena mengagumi seseorang.

 

          Mengagumi seseorang yang tak mungkin kita raih, hanya membuang – buang  waktu saja. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik kita memikirkan orang yang tak tentu memikirkan kita. Itu sangat melelahkan. Mengagumi seseorang yang tak mengagumi kita rasanya sangat menyakitkan. 

 

Mimpi adalah harapan kita, atau keinginan kita yang tak terpenuhi. Mungkin aku terlalu berharap aku bisa bersama dengan orang yang kukagumi, hingga dia terbawa dalam dunia tak sadarku. Aku sadar, mulai sekarang aku tak akan mengagumi seseorang dengan berlebihan hingga aku begitu terobsesi untuk memilikinya. Kita tak selalu bisa mendapat apa yang kita inginkan. Itulah pelajaran yang kuambil dari mimpiku semalam.

 

Karya: Siti Fadlilah