Menjadi Pelatih Karate Ketika Masih SMA

Menjadi Pelatih Karate Ketika Masih SMA

Photo by Thao Le Hoang on Unsplash

 

Apakah kalian pernah membayangkan bagaimana rasanya ketika berumur 16 tahun harus bekerja?

 

Dilahirkan dari keluarga yang kaya mungkin sudah terbiasa. Tapi dilahirkan dari keluarga yang pas-pasan dan yang berhobi beladiri mungkin bukan hal yang biasa. Berjuang hidup ketika harta hangus setelah keluarga ditipu investasi membuat beberapa harapan harus pupus.

 

Bagaimana tidak, masa SMA yang katanya masa terindah saat sekolah harus kuhabiskan untuk bekerja. Jangankan untuk bermain bersama teman setelah pulang sekolah, kerja kelompok saja jarang hadir.

 

Mungkin ini terlihat seperti cerita fiktif. Tapi tidak, ini nyata. Sebagian orang mungkin bertanya-tanya “kok bisa sih anak SMA jadi pelatih karate di salah satu SD swasta yang ada di Mojokerto”. Hmm, semua yang terjadi di bumi ini pasti ada sebab dan akibat.

 

Dengan mengikuti karate sejak berumur tujuh tahun, memenangkan beberapa kejuaraan karate, dan mempunyai ayah yang juga berprofesi menjadi pelatih karate merupakan sebuah bekal yang mungkin bisa dibilang cukup untukku menjadi pelatih karate di sekolah dasar.

 

Dulu ayahku memang yang mendirikan karate di sekolah dasar tersebut. Tapi seiring berjalannya waktu, karena beliau sibuk dan tidak bisa membagi waktu akhirnya wewenang menjadi pelatih karate diserahkan kepada temannya. Ketika menginjak SMA, barulah aku diutus beliau untuk menjadi pelatih di sekolah dasar tersebut bersama teman ayahku. Dan disinilah sebuah cerita baru dimulai!

 

Memanajemen waktu untuk membagi waktu belajar, bekerja kelompok dengan teman, dan bekerja menjadi pelatih karate bukanlah suatu hal yang mudah. Tapi, aku percaya lelahku akan menjadi akhir yang indah. Benar aku mendapat beasiswa selama satu tahun dengan tidak membayar SPP sekolah. Kemudian,aku tidak pernah lagi meminta uang sepeser pun kepada kedua orang tuaku. Bahkan aku membiayai lesku sendiri.

 

Dengan bekerja, perekonomian keluargaku perlahan membaik. Akupun tumbuh sebagai wanita independen yang bertanggung jawab. Mempunyai segudang pengalaman yang mungkin tidak didapatkan oleh remaja seumurku. Entah ini suatu kebanggaan atau tidak, tapi aku berterimakasih kepada diriku yang telah berhasil melewati masa-masa sulit.

 

Menjadi pelatih karate di sebuah sekolah dasar setelah aku pulang sekolah mengajarkanku banyak hal bahwa time is money, time is priceless.  Tak hanya itu, aku juga paham bahwa mencari uang itu susah dan lelah. Tapi dibalik itu semua kalian harus tau “Secapek-capek nya kerja, lebih susah cari kerja” dari sini aku merasa bersyukur dan mencoba untuk tidak mengeluh dalam kondisi apapun.

 

“Dewasa itu bukan dicari, tapi dibentuk dari sebuah masalah. Dan jangan pernah mengeluh ketika sedang dalam masalah. Percayalah semuanya akan berakhir dengan indah”