Seni Budaya Angguk Yang dibudidayakan Oleh Siswi-siswi SMK di Kebumen

  Seni Budaya Angguk Yang dibudidayakan Oleh Siswi-siswi SMK di Kebumen

Angguk Wanita (liputan6.com)

 

 

Reviensmedia.com, Kebumen – Membahas tentang budaya, Indonesia memang tidak ada habis-habisnya mengukir cerita. Dari Sabang sampai Merauke beribu-ribu budaya kita temukan.

 

Salah satu di antaranya ialah seni budaya angguk, atau lebih populer disebut Dolalak. Sebenarnya pengertiannya sama saja, hanya cara penyebutannya saja yang berbeda antara satu kota dengan kota lainnya.

 

Nah, di daerah Kebumen lebih familier disebut Angguk.

Apa sih angguk/dolalak itu? Angguk/dolalak merupakan kesenian tari daerah yang diiringi musik kendang dan yang lainnya serta lantunan lagu-lagu Jawa. Tarian tersebut dipertunjukkan oleh para gadis-gadis dengan mengenakan busana khas angguk/dolalak.

 

Mereka beranggotakan 10-12 penari, dan mereka menari dengan anggun serta gemulai diiringi irama kendang yang khas.

 

Dalam satu bagian akhir tarian, biasanya akan ada satu atau dua penari yang kerasukan jin/setan. Ini biasanya yang ditunggu-tunggu para penonton. Karena penari akan bertingkah tidak pada umumnya. Bahkan biasanya penari akan meminta makanan yang tidak lazim dimakan oleh manusia, seperti kembang-kembangan (bunga), daun dadap, dll.

 

Kesenian ini biasanya dipertontonkan dalam sebuah hajatan. Misalkan hajat pernikahan, khitanan, dll. Dan ternyata sampai saat ini penggemar/pengunjung kesenian angguk masih sangat padat. Buktinya jika ada orang yang menggelar pertunjukan angguk, masyarakat berbondong-bondong mendatanginya.

 

Seperti yang ada di Desa Petangkuran, Kebumen di sebuah hajat pernikahan ada pergelaran seni angguk/dolalak, masyarakatnya dari yang anak-anak sampai nenek-nenek memadati area pertunjukkan.

 

Dan yang lebih menarik, ternyata grup dari seni angguk ini merupakan siswi-siswi sebuah SMK di Prembun. Melalui kegiatan ekskul ternyata kesenian ini bisa menghasilkan rupiah.

 

Nah, ini yang disebut “Sambil menyelam minum air”, sambil “Nguri-uri budaya bangsa “dapat juga penghasilan, lumayanlah buat jajan.

 

Saya cukup bangga dengan siswi-siswi SMK ini, mereka tidak malu untuk mempelajari budaya Indonesia bahkan terjun langsung sebagai tokohnya.

 

Sebenarnya tidak hanya SMK di Kebumen saja, tapi di kota lain seperti Purworejo pun banyak SMK yang menyediakan ekskul dolalak, hanya saja beberapa di antaranya belum merambah sampai ke masyarakat umum. Tapi saya tetap bangga Karena mereka mau untuk mencoba.

 

Ini menjadi bukti konkrit bahwasanya berbicara tentang kesenian/budaya Indonesia tidak akan ada habisnya. Tergantung kita sebagai warga negara Indonesia, mau/tidak untuk “Nguri-uri budaya bangsa”. Kalau tidak yaaa… Akan enyah ditelan perkembangan zaman.

 

Jangan kalah dengan siswi-siswi SMK, yang masih belia saja mau terjun langsung membudidayakan kesenian daerah, masak kita yang sudah matang justru hanya berpangku tangan.

 

Selanjutnya, kita ambil nilai positifnya yakni melestarikan seni budaya Indonesia. Sisi negatifnya tentunya kita save sebagai pengetahuan saja. Jadi, jangan langsung menghakimi suatu budaya yang mungkin tidak sesuai dengan norma-norma tertentu.

 

Yuk kita dorong semangat anak-anak muda lainnya agar mau terinspirasi oleh mereka yang sudah terjun langsung membudidayakan kesenian daerah.