Serat Wedhatma: Nasehat Universal K.G.A.A Sri Mangkunegoro IV

Serat Wedhatma: Nasehat Universal K.G.A.A Sri Mangkunegoro IV

Dalam ranah kesusastraan Jawa, K.G.A.A Sri Mangkunegoro IV termasuk salah satu dari beberapa pujangga yang termasyhur. Karya-karyanya dikenal tak hanya bernilai estetika tinggi semata. Karya-karya K.G.A.A Sri Mangkunegoro IV juga sarat akan kandungan ilmu kehidupan yang digali dari pengalaman pribadinya sebagai seorang ksatria dan bangsawan.

 

K.G.A.A Sri Mangkunegoro IV terlahir di tahun 1736 Jawa (1809 Masehi)dengan nama asli RM. Soediro. Dia merupakan cicit Pangeran Sambernyowo (RM.Said) atau K.G.A.A Sri Mangkunegoro I yang mendirikan Kadipaten Mangkunegaran pada 1757 (kini masuk wilayah Surakarta/Solo).

 

K.G.A.A Sri Mangkunegoro IV sendiri bertahta mulai tahun 1781 Jawa(1853 Masehi) hingga wafat tahun 1810 Jawa(1881 Masehi). Selama 25 tahun kepemimpinannya, dia berhasil membawa Mangkunegaran ke jaman keemasan.

 

Walaupun sibuk menangani urusan pemerintahan,kenyataannya K.G.A.A Sri Mangkunegoro IV tetap mampu menciptakan banyak karya sastra berkualitas. Karya-karya itu diantaranya, Tripama, Manuhara, Yogatama, Pralambang, Lara Kenya, Sendhon Langenswara dan masih ada lagi sederet lainnya.

 

Dari sekian karya K.G.A.A Sri Mangkunegoro IV yang paling mengemuka adalah Serat Wedhatama. Judul itu memiliki makna begitu dalam. Serat berarti kitab, Wedha berarti pengetahuan dan Tama berarti utama.

 

Dengan kata lain, Serat Wedhatama merupakan kitab pengetahuan yang utama. Serat Wedhatama tersusun dari 100 bait puisi yang cara membacanya dengan didendangkan (Macapatan), baik menggunakan iringan musik gamelan, maupun tidak.

 

Meski secara fisik Serat Wedhatama tergolong kitab kecil dan tipis, namun uraian isinya sangat berbobot. Kata-katanya pun menarik untuk disimak dan dapat dijadikan sarana pembinaan jiwa atau watak. Sesuai makna judulnya, mayoritas bait dalam Serat Wedhatama mengungkapkan tentang keutamaan ilmu pengetahuan, cara meraihnya, serta pengamalan ilmu pengetahuan tersebut, antara lain di bait 33, bait 42-43 dan bait 75.

 

Bait 33:
“Ngelmu iku( ilmu itu )
Kelakone kanthi laku (akan bermanfaat bila disertai dengan penghayatan)
Lekase lawan kas (pengetrapannya pun dengan sungguh-sungguh )
Tegese kas nyantosani (artinya kesungguhan akan memberi kesentosaan )
Setya budya pangekese dur angkara(kesadaran sebagai sarana memusnahkan angkara murka)”.

 

Bait 42-43:
“Basa ngelmu (perihal ilmu)
Mupakate lan panemu (seyogyanya diselaraskan dengan hasil penemuan)
Pasahe lan tapa(sedangkan mendalaminya dengan bertapa)
Yen satriya tanah Jawi (bagi para ksatria di tanah Jawa)
Kuna-kuna kang ginelut triprakara(Sejak dahulu kala yang dilaksanakannya berpegang pada 3 hal penting)”

 

Lila lamun(1.Rela )
Kelangan nora gegetun(jika kehilangan tidak menyesal)
Trima yen kataman(2.Tetap bersabar bila terkena)
Sak serik sameng dumadi(prasangka dari sesama insan)
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara (3. Tulus ikhlas berserah diri kepada Tuhan)”

 

Bait 75:
“Dadya wruh iya dudu(Ketahuilah mana yang benar dan salah!)
Yeku minangka pandaming kalbu(hal itu merupakan pelita hati).
Ingkang mbuka ing kijabullah agaib(yang membuka dinding penghalang alam gaib)
Sesengkeran kang sinerung (dan selama itu mengurung)
Dumunung telenging batos(di dalam dasarnya batin)”.

 

Ada pula bait yang menyatakan bahwa insan berbudi luhur itu mampu beradaptasi dengan setiap keadaan dan menghargai perbedaan pendapat, yakni bait 95 yang berbunyi:

 

“Kaunang ing budi luhur(tersohornya insan yang berbudi luhur)
Bangkit ajur-ajer kaki (bila dapat menyesuaikan diri dengan keadaan )
Yen mangkono bakal cikal (hal tersebut merupakan cikal)
Thukul wijining utami (yang akan tumbuh pada perbuatan utama)
Nadyan bener kawruhira(meskipun pendapatnya benar)
Yen ana kang nyulayani(akan tetap menghargai bila arada yang berbeda pendapat)”

 

Sebenarnya K.G.P.A.A Mangkunagoro IV menulis Serat Wedhatama sebagai nasehat bagi para putera dan keturunannya yang notabene akan mewarisi tahta Mangkunegaran. Tetapi kemudian diketahui bahwa ternyata nasehat atau ajaran dalam Serat Wedhatama itu bersifat universal yang artinya bermanfaat bagi siapapun juga dan berlaku sepanjang masa. Alhasil banyak orang dari berbagai kalangan masyarakat yang tergerak dan bersemangat mempelajari serat tersebut.

 

Bahkan warga negara dari Belanda, Inggris, Amerika, Jepang, dan lain-lain, khususnya yang berstatus mahasiswa asing pun berminat melakukan kajian terhadap Serat Wedhatama.

 

Seorang ahli sastra Jawa asal Belanda, Dr. Th.Pigeaud menyatakan,” Oleh sebab itu dalam sejarah kesusastraan Jawa, K.G.P.A.A Mangkunagoro IV mendapat tempat utama yang hingga kini dan seterusnya akan tetap diingat dan dikenang orang”.

 

Penulis: Sri Widowati Retno Pratiwi
Referensi :
Ki Sabdacarakatama (2010).Serat Wedhatama Karya Sastra K.G.P.A.A Mangkunagoro IV . Yogyakarta : Penerbit Narasi .