Siapa Bilang Teater Tidak Menghidupi? Nih Buktinya Parade Teater Khatulistiwa

Siapa Bilang Teater Tidak Menghidupi? Nih Buktinya  Parade Teater Khatulistiwa

Reviens Media, Pontianak - Suatu ketika penulis bertandang ke warung kopi milik bang Anton di jalan Ketapang, Pontianak. Beliau adalah salah satu seniman teater di Kalimantan Barat, sejak tahun 2009 dengan kawan-kawan se-misi nya mencoba membangun fondasi teater di Kalimantan Barat khusus nya kota Pontianak. Yang kemudian melahirkan Forum Masyarakat Teater (Format) Kalimantan Barat, mereka yang tergabung didalamnya merupakan pejuang-pejuang seni pertunjukkan teater.

 

Memang berat ujarnya, beliau ingat kala itu kita membuat jargon, kalau "nggk ikut teater nggk keren". Dari beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) mereka mulai berekspansi, dan nampaknya tidak sesuai ekspektasi. Pergerakan mereka terhambat karena banyak sekolah yang menolak ekstra kulikuler Teater. 

 

Pasti tahu lah, apa yang dipikirkan para guru kala itu terhadap teater. Mendingan anak didiknya diajar ekstra kulikuler lain selain teater, ekskul bahasa inggris misalkan, atau matematika. 

 

Namun kegigihan Format Kalbar bersama para praktisi teater yang tergabung didalamnya tak sampai padam, mereka terus berusaha mengajarkan teater pada beberapa sekolah yang mau menerima ekskul ini. 

 

Walhasil apa yang mereka tanam pun berbuah juga. Tahun 2009 akhir, teater pitung (pituah enggang) SMAN 8 Pontianak, pertama kali berangkat mengikuti festival teater remaja di Jakarta dan membawa prestasi. Dikuti tahun tahun berikutnya, teater Termos SMA Muhamadiyah 1, Teater Tembak SMA Kemala Bayangkari, teater Ketupat SMA N  4, dan sekolah sekolah lain di Pontianak dan kuburaya hingga saat ini.

 

Kemenangan tersebut salah satu faktor pemantik, dari berkembangnya teater di Kota Pontianak. Sekolah-sekolah mulai melirik ekskul ini, dan jargon tersebut berhasil. "nggk ikut teater nggk keren".

 

Dari Format Kalbar mulai lah dibentuk Parade Teater Khatulistiwa dimana event ini diselenggarakan tiap tahun. Dan untuk tahun 2018 ini akan diselengarakan pada tanggal 30 september sampai 31 oktober, tak lain tempatnya di taman budaya kalimantan barat jalan Ahmad Yani.

 

Event ini sebagai ajang silahturahmi dan temu kangen seniman teater se Kalimantan barat dan mencari bibit-bibit seniman muda. Tak hanya se Kalimantan Barat saja, event tahunan ini juga membuka peluang bagi para komunitas di luar kalimantan barat. 


Teater yang Menghidupi

Ada cerita menarik dari Bang Anton dan kawan kawan, setelah beberapa event parade teater khatuliswa diselenggarakan. Bang Anton dan kawan-kawan sowan kepada sesepuh seni sastra di Kalimantan Barat, beliau adalah A. Halim R.

 

Menghadirkan tokoh seniman senior pada event mendatang merupakan harapan kawan kawan penggiat teater pada waktu itu. Di kediamannya, Pak halim (sapaan akrab) menyambutnya dengan sangat hangat, obrolan berlangsung dengan renyah.

 

Namun sesaat suasana hening ketika Pak Halim bertanya pada kawan-kawan. "Mau kalian jadikan apa anak-anak tersebut? Seniman?" Saat itulah mereka seperti patung yang membisu. Berpikir keras untuk menjawabnya.

Pandangan masyarakat Indonesia yang beda. Mungkin sampai sekarang masih melihat seni pertunjukkan teater adalah hal yang kurang menarik dibandingkan dengan efek CGI dan drama korea. Seni pertunjukkan teater kurang diapresiasi oleh masyarakat kita.

 

Saat itulah Bang Anton dan kawan kawan mengubah pola ajaran kepada anak anak teater didikannya dan idealisme lah salah satu kunci jawabannya karena beliau beliau para pejuang seni pertunjukkan ini tidak mengharuskan anak anak didik nya menjadi seorang seniman, namun jiwa seorang seniman harus hidup dalam setiap langkahnya.

 

"Seni sama pentingnya dengan matematika, seni memanusiakan manusia, senibmenciptakan empati" - Wahyu Aditya