Situs Megalitikum Lebak Kosala: Selaraskan Alam Dan Manusia Banten

Situs Megalitikum Lebak Kosala: Selaraskan Alam Dan Manusia Banten

Lebak, Banten: Kabut pekat masih menyelimuti gugusan pegunungan Lembah Citorek saat mobil kami menanjak tajam di pintu masuk kecamatan Cibeber, kabupaten Lebak. Daerah ini berada dalam kawasan konservasi hutan lindung Gunung Halimun Salak yang membentang sepanjang 113.357 ha. Membelah 3 kabupaten dan 2 provinsi Jawa Barat dan Banten yaitu kabupaten Bogor, kabupaten Sukabumi, dan kabupaten Lebak.

 

Kawasan ini sudah menjadi kawasan Konservasi sejak tahun 1929 pada saat penjajahan kolonial Belanda. Alam yang begitu eksotik terkulai lemas ketika tangan-tangan jahil manusia mulai menggerogoti satu persatu ekosistem dan keragaman hayati di bumi Surosowan. Berbeda dengan warga adat kasepuhan Citorek, kabupaten Lebak, yang masih segaris keturunan dengan Kasepuhan pimpinan Abah Usep, Cibeber.

 

Menjaga, merawat, dan mengasihi alam merupakan sebuah keharusan. Karena sejalan dengan filosofi budaya Sunda Wiwitan, “Dari alam, untuk alam, dan kembali ke alam”. 


image
 

Petualangan kali ini sepakat kami rahasiakan untuk beberapa waktu ke depan. Khusus hanya untuk kalangan kantor di mana kami bekerja. Karena perjalanan kami ini bersifat ilegal. Ilegal menggunakan kendaraan dinas untuk keperluan di luar kepentingan kantor dan bolos kerja.

 

Perjalanan yang kami tempuh dari pusat kota Rangkasbitung memakan waktu lebih dari 4 jam. Maklum, akses jalan yang berliku, menanjak dan didominasi oleh turunan panjang menjadi tantangan tersendiri bagi kami.

 

Sesampai di lokasi, mobil kami parkir di bahu jalan tepat di muka pintu masuk, terpampang jelas nama situs Lebak Kosala pada sebuah papan berukuran 1 x 2 meter. Suasana alam yang segar dan bebas polusi, menemani kami berjalan kaki sejauh 300 meter. Melewati pemukiman warga dan persawahan.

 

Kami tidak sendirian, ada Bapak Amir, warga kampung yang sengaja mengantarkan kami hingga sampai pada gapura situs. Sungguh pengalaman menarik bagi kami, memasuki kawasan situs megalitikum yang terjaga apik selama berabad-abad. Memang, ada sedikit kengerian, saat melihat beberapa pohon besar dan gelap di kanan kiri jalan.

 

Seakan-akan kami berada di dalam sebuah istana lelembut yang dipenuhi jin dan dedemit kalap. Apalagi saat beberapa ekor monyet berteriak melihat kedatangan kami. Mencekam dan menegangkan. Namun suasana itu terbayar lunas, ketika kami sampai pada lokasi utama Situs Lebak Kosala. Hamparan bebatuan pipih berukuran jumbo tersebar dihampir seluruh kawasan seluas setengah hektar itu.

 

Selain batuan pipih (slab stone) ada juga batu berbentuk pelor yang disusun di atas batu pipih masing-masing sebanyak 6 buah. Batu pelor ini memiliki diameter 15-20 cm tergantung posisi di mana dia disusun.

 

 

Salah satu yang paling menarik dari susunan batuan andesit ini adalah posisi bebatuan yang tidak pernah berubah selama berabad-abad. Batuan ini dijaga dan dilestarikan keberadaannya oleh warga setempat karena dipercaya merupakan peninggalan nenek moyang warga Citorek. Bahkan menurut salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya, susunan bebatuan itu merupakan bekas petilasan Prabu Kian Santang saat mensyiarkan agama Islam di bumi Banten.

 

Seperti dikisahkan dalam budaya Sunda, putra dari Prabu Siliwangi ini berusaha mengislamkan bumi Nusantara hingga ke tanah Banten dengan berbagai cara. Namun kepercayaan warga setempat itu sempat terbantahkan ketika peneliti dari ITB mulai melakukan penelitian dan ekskavasi kawasan situs. Hasil kajian tersebut menjelaskan secara detail bahwa, kawasan situs Lebak Kosala pertama kali dibangun pada abad ke 4. Hal ini didasarkan pada penemuan berbagai barang pecah belah seperti keramik dan tembikar.

 

Selain itu, penelitian juga mengungkapkan bahwa kawasan ini dipergunakan sebagai tempat pemujaan dan makam kuno karena ditemukan beberapa nisan dan kolam pemandian untuk penyucian diri. Sebelumnya, pada tahun 1929 telah dilakukan penelitian oleh warga Belanda bernama Van Tricht.

 

image

 

Alam dan keindahan situs Lebak Kosala kini telah berhasil mempersatukan kearifan lokal yang bersinergi dengan jati diri warga desa Citorek. Terjadi ikatan yang semakin erat antara warga dengan alam yang sangat terjaga baik hingga kini.

 

Buktinya, kawasan hutan lindung dianggap sebagai anak sendiri dan ditimang-timang tanpa disapih sampai akhir masanya. Begitu juga alam yang selalu ramah dengan penghuninya yang mau menghargai dan merelakan kepentingan ekonomi sesaat demi keberlangsungan alam yang abadi. Salam.

 

Penulis: Yuli Setyawan