Suka Duka Menjadi Anak Terakhir (Ragil)

Suka Duka Menjadi Anak Terakhir (Ragil)

Illustrasi foto via www.omnihotels.com

 

Menjadi anak terakhir bagi anak pertama adalah sebuah keinginan yang tidak pernah tersampaikan kecuali kamu menikah dengan anak terakhir (iya gak sih?). Begitu juga dengan anak terakhir (ragil), keinginan menjadi yang tertua dalam struktural anak di keluarga memang tidak bisa dibohongi.

Memiliki adik-adik yang bisa di apa-apain. Bisa dipanggil Kakak saja rasanya menjadi impian yang luar biasa. Pasti kalian yang ngalami diposisi anak terakhir pernah ngerasain suka dukanya dong! Yuk, kita kupas bener enggak sih keluh kesah anak terakhir di bawah ini!

 

1. Suka dianggap kekanak-kanakan

Percaya enggak percaya memang sering diperlakukan seperti itu, Gengs. Meski usia udah gede pake banget tetap aja di kira masih bau ingus. Masih anak-anak yang terkesan tidak bisa mandiri. Pergi ke sana di kuatirin yang super duper melebihi putri raja. Maen ke luar rumah sebentar saja tidak ada kabar udah paniknya minta ampun.

Mereka ngerasa adiknya itu selalubutuh bantuan kakak-kakaknya. Padahal mah enggak juga! Itu hanya persepsi mereka saja tentang adik ragilnya yang dianggap masih kekanak-kanakan. Enaknya sih di mana-mana sampai nantipun kita (anak ragil) ada yang menjaga sekalipun sudah menikah.

 

2. Se-mandiri apapun Image Manja Tetap ada

Susah ya jadi anak ragil itu. Menghilangkan image manja itu susahnya minta ampun, Gengs. Padahal tidak semua anak terakhir itu manja, rapuh, lemah dan tidak bisa apa-apa seperti kakak-kakaknya. Ya, tetap saja banyak orang yang menilai anak terakhir itu manja. Meski pada kenyataannya anak ragil bisa mencapai tujuan hidupnya dengan baik.

Jangankan membahas pencapaian. Masalah sepele seperti cara bicara saja jadi bahan perbandingan dengan kakak-kakaknya kalau anak terakhir itu manja. De el el, sedih gak sih jadi anak terakhir? Tapi enaknya kita bisa memanfaatkan sikon ini, sekalian aja kita bermanja-manjaan kepada mereka. Biar puas tuh hati! 

 

3. Selalu Dinomor Duakan Kalau Diskusi Keluarga

Ini hanya perasaan saya saja atau memang kenyataan sih, Gengs? Menjadi anak terakhir itu selalu diangap tidak penting kalau sedang diskusi dalam keluarga. Mulut sampai berbusa saja rasanya tidak digubris saran kita.

Ya, bisa dibilang sedikit diremehkan sih! Duduk di antara yang lebih tua kayaknya anak terakhir itu dianggap boneka lucu yang sewaktu-waktu dimainkan. Hmm, enaknya sih gak perlu pusing-pusing amat memikirkan solusi dari sebuah permasalahan yang dihadapi keluarga. Mereka yang bernama kakak sudah merasa cukup bisa menghandel. 

 

4. Menjadi Harapan Paling Baik

Nah, ini yang paling berat di jalankan, Gengs. Yaitu menjadi harapan terbaik dari yang paling baik dari keluarga. Meski tidak dipaksakan sih ya! Pasti deh semua anggota keluarga selalu memberi wangsit kepada anak terkecil, “kamu harus lebih baik dari Kakak ya, Dek!” alasan mereka sudah tidak ada lagi seseorang yang diharapkan menjadi penyempurna kebanggaan orang tua mereka.

Ya, meskipun semua kakaknya juga telah berhasil dengan baik mendarat sesuai harapan orang tua. Tetap saja anak yang paling terakhir itu memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Dia harus membawa nama baik dari kakak-kakaknya, serta dari dirinya sendiri. Malu jika pada akhirnya anak terakhir tidak bisa menyamai kakak-kakaknya apalagi terjun bebas. Wah, harga diri dari anak terakhir jatuh serendah-rendahnya, Gengs.

Itulah suka duka dari anak ragil, tentu kalian yang diposisi ini memiliki cerita lebih lagi. Semoga akan ada kesetaraan dan hak asasi anak ragil di negeri ini (lebay). Ha ha ha