Tak Perlu Kembali, Aku Sudah Tak Menanti

Tak Perlu Kembali, Aku Sudah Tak Menanti

Helloo sahabat Reviens Media...

Jumpa lagi bersama saya, Lailatul Mubarokah. Kali  ini, saya akan mencoba menghibur sahabat-sahabat yang sakit hati karena dikhianati, cinta bertepuk sebelah tangan, bahkan ditinggal nikah. ( sakit sekali pastinya, yaa Guys? Please, jangan cakar-cakar tembok ya!) Ha ha ha

 

Jujur saja nih yaa,  pasti  diantara kamu ada yang pernah dikhianati pas lagi sayang-sayangnya. Parahnya lagi, si doi ternyata menjalin cinta dengan sahabat kita sendiri. Weh, udah jatuh tertimpa tangga pula! Duhh

 

Ada yang mengagumi seseorang, selalu memikirkannya  setiap saat, kepo dengan instagramnya, ternyata cinta bertepuk sebelah tangan. Weh...

Sahabat, coba kita bermuhasabah dahulu. Jangan langsung menyalahkan si doi. Mungkin kamu yang terlalu berharap kepada manusia itu sehingga menyerahkan benar-benar hatimu untuk si doi.

 

“Jangan salahkan maling jika rumah tak dikunci. Jangan salahkan dia jika kamu selalu memberi kesempatan untuk terus disakiti”.

 

Kadang, hati kita ini memaksa Allah untuk berjodoh dengan seseorang, padahal dia belum tentu jodoh terbaik buat diri. Iyaa atau iyaa?

 

Penulis mengatakan hal seperti ini karena jujur penulis juga penah seperti ini. Bukan munafik, setiap hari terbayang-bayang wajah si doi, memikirkannya, bahkan berharap bahwa si doi lah jodoh kita. Astaghfirullah...naif sekali penulis ya? 

 

Sahabat, harusnya kita malu karena masih mencintai sesuatu melebihi cinta pada Allah. Memikirkannya sepanjang hari, melihat foto profilnya, kepo dengan status-status WA dan instagramnya. Padahal orang itu bukan siapa-siapa, hanya orang asing yang tiba-tiba mencuri hati. Sedangkan kasih sayang Allah telah ada sejak kita dalam rahim ibu. Padahal meskipun hanya memikirkannya, tanpa sadar  kita telah berdosa, zina hati. Dengan melihat foto-fotonya, termasuk zina mata.

 

Pernah berfikir seperti itu?

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya. Yang demikian adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya  Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” ( QS. An-Nur : 30-31 )

 

Sedikit cerita dari sahabat, dia sudah berpacaran selama kurang lebih 5 tahun. Ternyata endingnya, si doi memutuskan secara sepihak dengan alasan yang tak masuk akal. Betapa hancurnya hati sahabat saya itu. Hancur sehancur-hancurnya bak kaca yang pecah berkeping-keping. Tetapi seiring berjalannya waktu, hati yang pecah itu kembali membaik.

 

Bahkan Qodarullah, melalui hasil mimpi “Shalat Istikharah” dan dengan proses Ta’aruf, sahabat saya itu akhirnya dipertemukan Allah dengan seseorang yang lebih tampan, lebih mapan dari doi yang sebelumnya. Entah karena merasa bersalah karena telah memutuskan sepihak, si doi itu mencoba menghubungi sahabat saya, ingin bertemu, meminta maaf, de el el. Tapi dengan tegas, sahabat saya berkata “ Ora usah ganggu aku, aku wis ndue calon” (Jangan ganggu aku, aku sudah punya calon).

 

Hari demi hari, pernikahan sahabat saya itu berlangsung dan si doi yang notabennya sudah menjadi mantan juga diundang. Tetapi, ia tidak datang dan hanya menitipkan sebuah kado. Menurut keterangan dari orang yang dititipi kado, sang mantan itu masih belum percaya, dan menangis sejadi-jadinya.

 

Untuk sahabat yang sedang tersakiti karena terlalu tingginya berharap, Dengarkan ! Kamu hanya tersakiti perasaan. Move On adalah jalan terbaik. Percayalah! Dengan menyesali dan menangisinya tak akan membuat semuanya membaik. Alangkah lebih baik, isi waktu yang tersisa ini dengan hal-hal yang positif. Seperti belajar dengan sungguh-sungguh, membahagian orangtua, perbanyak puasa sunnah, menghadiri majlis ta’lim, dsb. “Jodohmu adalah cermin hidupmu, bukan?”

 

Naah. Untukmu yang sudah terlanjur menaruh hati dan harap, dan pada akhirnya tersakiti, mari bersama-sama kembali ke jalan Allah. Masa depanmu masih panjang, guys. Tak ada guna disesali dan ditangisi. Lebih baik kita bermuhasabah menjadi insan yang lebih baik dimata Allah SWT sehingga pada akhirnya juga akan dipertemukanNya dengan orang yang baik pula. “Couple bukan jaminan, Tunang tak menghalalkan segalanya, karena  Nikah itu lebih baik”.