Tak Perlu Malu Jadi Petani, Berkahnya Dunia Akhirat

Tak Perlu Malu Jadi Petani, Berkahnya Dunia Akhirat

Sumber Foto https://bppsdmp.pertanian.go.id

 

Kalian pernah mendengar Ungkapan jawa “ gemah ripah loh jinawi?". Nah, kalian harus tau, Gengs. Ungkapan tersebut merupakan suatu gambaran keadaan bumi pertiwi Indonesia yang berarti kekayaan alam yang berlimpah. Gengs pasti pahamlah Indonesia juga dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. 

Namun di era sekarang, banyak kaum muda yang tidak lagi tertarik menjadi petani. Bahkan, banyak orang yang malu dilahirkan sebagai anak petani, tiap mendengar kata petani yang terlintas dipikiran adalah pekerjaan yang identik dengan kotor, dekil, kulit hitam, telapak tangan kasar dan masih banyak lagi anggapan yang kurang baik tentang petani. Kalau kalian gimana Gengs apakah malu menjadi petani muda dengan banyak karya? He he he

Sudah menjadi rahasia umum lho hampir setiap orang lebih bangga kalau menjadi anak tentara, polisi atau apa sajalah yang penampilannya bersih, rapi dan gagah. Petani selalu saja dipandang rendah, remeh, kecil dimata orang. Padahal petani itu sosok pahlawan yang berjasa dalam kehidupan kita. Wow!

Memang apa yang salah dengan petani? toh itu pekerjaan yang halal dan berkah dunia akhirat lho, tak percaya? coba dech kita renungkan!

 

Mengapa jadi petani itu berkah di dunia? 
Kita jangan sampai lupa dari mana asal makanan yang setiap hari kita makan. Semua itu berasal dari hasil pertanian para petani. Merekalah yang memberi hidup pada orang-orang yang butuh  makan.

Bayangkan saja apa jadinya jika mereka berhenti bercocok tanam secara menyeluruh, sudah dapat dipastikan tidak akan ada lagi beras, jagung, dan semua hasil pertanian yang bisa dimakan. Wah, bisa-bisa kita impor beras dari negara sebelah. Nah, tak perlu malulah jika kita atau orang tua kita menjadi petani, karena merekalah yang menunjang kehidupan manusia. 


Mengapa jadi petani itu berkah di akhirat? 
Dalam bekerja mereka membanting tulang hingga bercucuran keringat. Mereka sadar tanpa usaha yang keras mereka tidak akan bisa memanen hasilnya. Usahanya dalam mencari rizki yang halal seperti itu pastinya lebih berkah.

Hal itu jauh lebih mewah dari pada rumah yang bertingkat atau ratusan keping emas yang diperoleh entah dari mana. Bayangkan saja Gengs jika usaha kerasnya itu disertai  niat dengan beribadah, menjadi berlipat-lipat pula pahalanya.

Bagaimana masih malu jadi petani? mulia sekali bukan profesi tersebut.

 So, berbanggalah menjadi petani, karena pekerjaan mulia itulah yang mengantarkan kita pada keberhasilan dalam hidup.

Sekian, terima kasih telah menyempatkan diri untuk membacanya, semoga bermanfaat. Aamiin