Tiga Cara ini Lebih Baik daripada Budaya Korupsi

Tiga Cara ini Lebih Baik daripada Budaya Korupsi

Korupsi sudah menjadi fenomena yang epic, bak perang intelektual dimana dader (pelaku tindak pidana) tak bisa diketahui sedangkan kambing hitam dijadikan korban pelarian. Sudah tak asing lagi, coba saja ketika kalian bangun tidur kemudian menyalakan televisi apa yang disajikan stasiun televisi tak lain adalah menu korupsi dan berbagai olahannya, sebut saja kasus-kasus korupsi para anggota legislative; korupsi para pejabat negara yang tak terhitung tangan untuk disebutkan.

 

Apalagi coba? Korupsi dana BOS; korupsi wisma atlit; korupsi simulator sim; korupsi asam manis; korupsi saus tiram; korupsi panggang dengan irisan daging rakyat kecil, wes pokoknya banyaklah.

 

Berbicara korupsi berarti berbicara juga tentang kesejahteraan. Betul, kesejahteraan sangat dibutuhkan oleh setiap individu manusia, tanpa kata sejahtera tak mungkin individu itu bisa bahagia.

 

Nah kesejahteraan macam apa jika korupsi terus menyerang nadi rakyat kecil,  pada tahun 2014 saja angka potensial dari dugaan korupsi mencapai Rp 1.8 triliun, bayangkan jika dana begitu besarnya digunakan untuk membangun infrastruktur di daerah tertinggal. Untunglah menurut Lembaga Transparency International (LTI) merilis data indeks persepsi korupsi (Corruption Perception Index) bahwa Indonesia mendapat peringkat ke 88 (angka hoki cuy!! wakwauw) dibanding tahun 2014, yang mendapatkan perinkat 107. Tapi angka tak bisa dijadikan patokan, toh itu hanya persepsi belaka.

 

Seperti yang dikatakan oleh Ilham Saenong selaku Direktur Program Transparency International Indonesia “korupsi secara absolut tidak mungkin dapat diukur karena dilakukan terselubung.” (Tempo, 27 Januari 2016) Oke begini saja, kita tidak harus mempelajari korupsi secara mendetail takutnya kita bisa kejang-kejang melihat angka yang disajikan oleh lembaga-lembaga survey, karena dana negara yang begitu besar dinikmati oleh segelintir orang yang menutup mata pada rakyat-rakyat miskin seperti saya, yang pasti korupsi itu sangat menyengsarakan rakyat banyak.

 

Contoh yang sangat menyakitkan di dunia pendidikan, baru saja dilansir oleh Tribunnews 29 Agustus 2016 soal korupsi dana BOS, Mantan Kepala Sekolah (Kasek) MI Al Hidayah, Krembangan Utara, Masykuri yang terlibat korupsi Bantuan Operasional Daerah (Bopda) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dituntut 4 tahun penjara di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya.

 

“Bang, itukan sekolah yang islami banget?”
“Hah, iya toh, Subhanallah. Takbir!!!”
Gila apa? Memang gila. Tahukah kalian nasib murid-murid daerah perbatasan seperti Sekolah Dasar di Dusun Selangai atau didaerah Entabai Kab. Sanggau, beserta guru-gurunya yang berjuang keras mencerdaskan anak-anak perbatasan agar dapat melanjutkan pendidikan lebih lanjut bahkan tidak dengan gaji yang cukup ironinya mereka gajiannya tak menentu dan mungkin digaji dengan kata “Sabar”. “Sabar Yo dik??”

 

Daerah diatas merupakan sebagian kecil daerah yang mungkin dilupakan oleh mata seorang koruptor yang haus akan kesejahteraan duniawinya, masih banyak daerah-daerah tertinggal lainnya, dan itu bukan cerita fiksi melainkan realita yang ada di Indonesia. (Mataku ini yang liat langsung Gaes!!)

 

Okelah cukup!! Nah kali ini saya akan memberikan tips dan trik bagi para koruptor atau para calon koruptor untuk tidak menggerogoti kekayaan negara ini, agar tidak menyedot darah kering rakyat kecil. Ada tiga cara yang dapat dilakukan yaitu pertama dengan cara Ngepet; kedua dengan cara pelihara tuyul dan yang ketiga menjadikan tumbal keluarganya untuk memperkaya diri sendiri, Hihihi Hahaha (tawa ala-ala Vampire di Film Van Helsing). 

 

Ketiga cara ini tak lain adalah pesugihan yang dikenal oleh masyarakat Indonesia untuk memperkaya diri sendiri dengan dibantu oleh makhluk-makhluk astral, seperti bekerja sama dengan jin atau setan.

 

Baiklah kita coba ulas satu-satu bagaimana ngepet, tuyul dan tumbal bisa lebih baik daripada korupsi. Pertama-tama dari cara ngepet, ada tempat yang bernama Gunung Pranggong di daerah Kedu tepatnya di Kabupaten Purworejo, dimana tempat tersebut konon katanya terdapat siluman babi yang akan menjelma menjadi wanita cantik (Ihiirr, Ikeh-ikeh) yang dapat diminta untuk menolong seseorang agar bisa mendapatkan uang dengan cara ngepet, kata penduduk setempat orang nyari pesugihan tiap bulan purnama.

 

So, kalo mau sugih janganlah nyusahi rakyat kecil ngepet aja noh ke Gunung Pranggong, nanti sampeyan a.k.a Koruptor atau Calon koruptor bisa kaya, bisa sugih ketemu wanita babi cantik, Kimociihhh. Next, kedua dengan cara memelihara tuyul, makhluk gaib ini sangat mudah dijumpai, dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa seseorang yang melakukan masturbasi di kamar mandi, maka sperma yang dikeluarkan akan menjadi tuyul jika sperma tersebut membuahi indung telur jin yang mendiami kamar mandi.

 
Dok-dok-dok “Doooon, kamu mandi kok lama banget.” Ikeh-ikeh
“Bentar mah, dikit lagi” Ikeh-ikeh
Nah, konon katanya untuk dapat menangkap Tuyul seseorang cukup mencari yuyu (kepiting kecil) berwarna kuning, kemudian yuyu tersebut diikat biar tidak lari, saat itulah tuyul akan mendekat pada yuyu tersebut karena dianggapnya mainan. Tuyul siap ditangkap dan siap untuk menjalankan tugas yang diberikan majikannya, yaitu mencuri uang.

 

“Doonn, hape mamah kamu bawa mandi ya.” Ikeh-ikeh
“Bentar Mah buat streaming” Ikeh-ikeh
#eeeehhh
“Donnnniiiiiiii….!!!”

 

Terakhir adalah tumbal keluarga, pernah dengar soal tumbal keluarga yang dilakukan oleh segelintir orang untuk memperkaya diri sendiri, nampaknya fenomena seperti ini sudah jarang terjadi, tahu nggak? hal ini perlu dilestarikan dan dilakukan oleh para Koruptor atau calon koruptor supaya tidak menjadikan rakyat sebagai tumbal bagi kepentingan untuk memperkaya diri sendiri.

 

Efeknya terasa banget setelah salah satu keluargamu ada yang mati dijadikan tumbal, tiba-tiba rumahmu bisa jadi berlapis emas, hujan uang dikamar, daun-daun jadi emas. Kerenkaaann!!! Cara ini nampaknya perlu bantuan kepada Mbah Dukun atau orang pinter supaya dapat dipertemukan atau membuat ikatan atau membuat suatu perjanjian kepada makhluk astral (Jin Setan).

 

Ilustrasinya begini, seseorang pergi ke Dukun, meminta untuk diberi kekayaan melimpah tapi dengan berbagai macam syarat, biasanya syarat tersebut berupa tumbal nyawa dari salah satu keluarganya, bisa orang tua (Ibu atau Bapak) atau saudara kandung. Seorang Dukun menyetujui kemudian dibukalah ritual upacara untuk membuat suatu perjanjian dengan sang Jin Setan. Alhasil, seseorang yang melakukan ikatan dengan Jin Setan akan berkelimangan harta dengan mengorbankan keluarga dekatnya.

 

“Hua ha ha ha, apa yang kamu inginkan? Wahai anak Manusia”
“Hormat paduka Raja Jin, saya ingin kaya.”
Naudzubillah!! Sadar sebenarnya tidak ada yang lebih baik dari ketiga cara tersebut, tapi ketiga tersebut sangat cocok kepada orang-orang yang benar-benar ingin memperkaya diri sendiri tanpa harus menghisap nutrisi yang terkandung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Jika kalian orang baik, pasti tidak melakukan ketiga hal tersebut dan tidak melakukan korupsi, akan tetapi jika kalian orang yang ingin memperkaya diri sendiri dengan cara instan, tolong jangan menjadi seorang koruptor yang menghisap uang rakyat.
“Saya Serius ini!!! Please!!!”

 

Penulis: Budi Cesar