Tips Menuju Keluarga Harmonis

Tips Menuju Keluarga Harmonis

Hai guys buat kamu yang sudah menikah maupun belum, aku punya trik-trik khusus untuk menciptakan keluarga bahagia, tsakinah, mawaddah, dan wa rahmah. “Sebagian dari kekuasaanNya adalah menciptakan pasangan dari golonganmu sendiri, untuk kebaikan. Dan menciptakan di antara kalian cinta dan kasih. Semua itu bagi mereka yang mau berfikir”.

 

Terjemahan bebas dari sebuah ayat di dalam Al-Qur’an inilah yang mengilhamiku untuk memberikan beberapa tips buat kalian.

 

Kedewasaan dalam berumah tangga tidak harus diukur dengan jumlah bilangan usia, namun bagaimana bisa menyikapi masalah yang ada. Tentunya bagi kalian yang nikah dini jangan salahkan diri sendiri. Yang paling bijaksana, tatap masa depan, evaluasi diri demi perbaikan.

 

Sebagian orang menganggap bahwa kekayaan adalah satu-satunya yang bisa menciptakan sebuah kebahagiaan. Orang yang bertipe semacam ini tega mengorbankan segalanya, bahkan harga diri. Kenyataan yang ada seperti selebritis, miliader banyak yang putus di tengah jalan pernikahannya, bahkan baru seumur jagung.

 

Di sisi lain, keluarga tetap utuh namun keturunan banyak yang hancur akibat dari orang tua yang menuhankan harta. Atau bahkan ketampanan ataukah kecantikan yang bisa membawa keluarga bahagia? Jawabnya adalah TIDAK. Boleh miskin harta, asalkan kaya hati. Lebih baik lagi kaya harta dan kaya hati. Berikut beberapa tips agar keluarga tetap harmonis:

 

1. Beriman

Orang yang beriman diikuti tanggung jawab yang bernama ibadah. Bila dipandang segi syar’iyyah, ibadah adalah sebuah kewajiban. Namun bila kita lihat dan cermati segi hakikat, maka yang namanya ibadah adalah sebuah kebutuhan. Kenapa? Bila tidak ada ibadah vertikal, maka orang akan selalu dan selalu aktifitas sendiri tanpa harus beristirahat. Dengan adanya ibadah maka orang akan beristirahat untuk melakukan ibadah. Dengan istirahat dan beribadah, maka otak dan segala organ tubuh akan terjadi relaksasi.

 

Ini sangat berpengaruh pada kestabilan emosi. Selain diri kita terselamatkan dari segala penyakit, terpenuhi juga kebutuhan keharmonisan keluarga, apalagi dijalankan dengan berjama’ah.

 

Sebagaimana kita ketahui perbandingan ilmuwan beriman dengan ilmuwan kurang beriman.

  • Syeh Ibnu Sinai yang hidup pada Zaman Abbasiah, Sultan Harun Al-Rasyid.

Ibnu Sinai menemukan Ilmu kedokteran beserta dengan Anatominya. Meninggal dalam keadaan Tasawuf

  • Jabir Al-Hayyan,penemu ilmu aljabar, meninggal dalam keadaan tasawuf juga

 

Kita bandingkan dengan

  • Albert Enstin, penemu ilmu Sains, meninggal dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, bahkan keluarganya.
  • Benyamin franklin, penemu arus listrik yang disempurnakan Thomas Alfa Edison. Beliau meninggal dalam keadaan terbakar seluruh jaringan otak.

 

Artinya kita perlu relaksasi yang berupa ibadah vertikal, sehingga akan berpengaruh juga kepada keharmonisan keluarga.

 

2. Menerima Kekurangan Pasangan

Manusia diciptakan berpasang-pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pernikahan sudah disetting yang punya kehidupan, sehingga tidak ada alasan untuk tidak berjodoh. Kekurangan yang ada pada diri kita, minta untuk ditutup kelebihan yang ada pada pasangan.Sementara kekurangan yang ada pada pasangan kita tutup dengan kelebihan yang ada pada diri kita, namun jangan kita sekali-kali merasa lebih dari pasangan. Itu awal sebuah kehancuran.

 

3. Saling Pengertian

Sulit memang kalau belum terbiasa, menyesuaikan kebiasaan pasangan. Namun itulah kenyataan, maka yang harus kita lakukan adalah saling pengertian. Bukankah perkawinan adalah salah satu sunnah rasul. Tidak termasuk umatnya bila benci dengan pernikahan. Anggap saja pengorbanan yang kita lakukan semata-mata ingin mendapat syafa’atnya. Terutama laki-laki harus siap berkurban apapun demi istri dan anaknya. Demikian pula sebaliknya, istri harus siap berkurban demi suami dan anak-anaknya.

 

4. Transparan

Di antara pasangan suami istri harus ada saling keterbukaan, Itu pasti. Perselingkihan tidak hanya karena adanya Pil ataupun Wil, namun ketidakterbukaan ini pun embrio dari perselingkuhan yang sebenarnya. Lebih ekstrim lagi wanita, sekali dikhianati, maka jangan harap hati suami akan teduh, seumur hidup akan diungkit. Itulah memang fitrah seorang wanita. Keterbukaan sangat diperlukan, sehingga apapun yang terjadi dihadapi berdua.

 

5. Banyak Bersyukur

“Barang siapa banyak bersyukur, nikmat Allah akan ditambah. Sebaliknya yang kufur, sesungguhnya siksa Allah lebih pedih”. Syukur mudah dilesankan, sulit diimplementasikan, kecuali orang-orang yang mendapat petunjuk. Kurang bersyukur didominasi oleh kaum Hawa, juga ada kemungkinan kaum Adam. Bila sang istri selalu menuntut dan menuntut, akibatnya sang suami akan terpuruk. Mungkin juga berbuat yang tidak dibenarkan agama,atau bahkan lari dari keluarga untuk mendapatkan kenyaman di luar.Na’udzubillah.

 

“Wanita adalah tiang Negara. Bila wanita shalehah, Negara tentram. Bila wanita nuzuz,hancurlah Negara”. Demikian juga sebaliknya, bila suami menuntut dan menuntut, istri akan mencari keteduhan di luar. Dan semua yang dilakukan istri adalah tanggungjawab suami. “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. Seruan ini diperuntukkan kaum Adam.

 

6. Menerima Kenyataan

Janganlah kita bertulul‘amal, artinya mempunyai kemauan yang di luar batas kemampuan. Bila ini terjadi, akibat paling kecil adalah tidak harmonisnya keluarga. Lebih fatal lagi akan terjadi benturan dengan pasangan kita. Kenyataan yang ada kita terima, perjalanan hidup yang akan merubah keadaan.Yang pasti kita beraktifitas hanya semata mencari ridha Allah. Bersungguh-sungguhlah, kita pasti akan mendapatkan. Kemauan dan kemampuan kita maksimalkan, tetapi hati harus tetap Qana’ah.

 

Penulis: Karyono SM,S.Pd.M.Si

Illustrasi via http://euanlife.blogspot.com