Tradisi Ambengan yang Masih Membudaya di Desa Wadasmalang, Kebumen

Tradisi Ambengan yang Masih Membudaya di Desa Wadasmalang, Kebumen

Tradisi Ambengan yang masih membudaya di Desa Wadasmalang (Kebumen Ekspres)

 

Reviensnedia.com, Kebumen – Bulan Rajab, semua umat muslim di seluruh daerah tengah disibukkan dengan perayaan Isro’Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Mengadakan pengajian di masjid masjid ataupun surau tentu sudah menjadi rutinitas semua masyarakat di bulan Rajab.

 

Akan tetapi, ada satu tradisi unik yang tidak ada di daerah lain. Tradisi tersebut yakni tradisi Ambengan yang hidup di desa Wadasmalang, Karang Sambung, Kebumen.

 

Apa sih tradisi ambengan? ambengan berasal dari kata ambeng yang artinya bongkohan makanan dalam ukuran besar. Jadi ambengan ialah tradisi masyarakat setempat untuk membuat bongkohan makanan dalam ukuran besar untuk acara peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

 

Ambeng tersebut dibuat oleh semua masyarakat dengan isi berupa makanan lengkap dengan lauk pauk yang bisa berupa daging ayam hingga kambing guling.

 

Pembuatan ambeng disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. Namun jika ditaksir nilai dalam setiap ambeng sangat fantastis. Jika dirupiahkan ambeng dalam ukuran besar bisa mencapai 3-5 jutaan. Hmmmm…. Mengejutkan bukan????

 

Ambeng – ambeng tersebut kemudian dimasukkan ke dalam keranjang bambu dengan ukuran terkecil 50 cm, dan yang terbesar sampai 2 meter. Setelah itu ambeng-ambeng tersebut dipanggul dari rumah untuk dibawa ke masjid tempat peringatan Isro’Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

 

Sesampainya di masjid ambeng-ambeng ditinggal dihalaman masjid sedang warga mengikuti pengajian bersama. Sesudah selesai pengajian, ambeng-ambeng tersebut kemudian dibagikan kepada seluruh tamu undangan yang hadir tanpa terkecuali.

 

Untuk tahun ini, di Desa Wadasmalang setiap rumah diminta membuat lima ambeng. Dua ambeng menggunakan keranjang bambu, sedang sisanya menggunakan plastik.

 

Selain itu, ambengan juga diselenggarakan di tiga dukuh sekaligus, karena selain agar lebih meriah, juga untuk mengantisipasi membludaknya para tamu undangan.

 

Sebenarnya awal mula pembuatan ambeng pada zaman dahulu tidak lain hanya untuk memuliakan ataupun menjamu Kyai juga para tamu dalam peringatan Isro” mi’roj Nabi Muhammad SAW. Namun, tradisi tersebut ternyata masih dipelihara sampai saat ini.

 

Sesungguhnya untuk nguri-uri budaya tersebut memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tapi saya yakin meski demikian, budaya ambengan patut untuk dipertahankan Karena memiliki nilai-nilai yang layak dicontoh.

 

Karena tujuan finalnya tidak lain untuk kebaikan juga. Selain untuk memeriahkan peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW, juga sebagai wujud sedekah yang diaplikasikan dalam bentuk berbagi makanan kepada orang banyak.

 

Jadi, tentu akan selalu ada rezeki untuk niat yang baik, Karena itu sudah dijanjikan oleh yang Maha Kuasa. Sebagai orang yang beriman, kita wajib untuk mempercayainya.

 

Dan satu lagi, ini mengenai tradisi, bukan soal kepercayaan, maupun prinsip yang berbeda-beda. Ambil nilai positifnya ya gaes, utamakan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

 

Jadi terlepas dari opini dari berbagai kalangan masyarakat, saya percaya jika tradisi ambengan layak untuk dilestarikan.

 

Maju terus… Lestari selalu… Budaya Indonesiaku…