Tradisi Grobagan di Desa Indrosari, Kebumen

Tradisi Grobagan di Desa Indrosari, Kebumen

Reviensmedia.com, Kebumen – Hari raya idul fitri adalah hari kemenangan bagi seluruh umat Muslim sedunia. Karena setelah satu bulan penuh berpuasa mereka mengakhirinya dengan tradisi halal bihalal, bersilaturahmi, serta berkumpul dengan sanak saudara.

 

Pada hari itu, setelah melaksanakan sholat ied di masjid ataupun dilapangan mereka pun merayakan hari kemenangan dengan bersenang – senang, berkumpul bersama keluarga, juga mengadakan makan-makan bersama dengan keluarga. Setelah itu dilanjutkan dengan berkunjung ke semua tetangga untuk saling maaf-memaafkan.

 

Semua rutinitas tersebut tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Namun, ada lah satu tradisi unik di hari raya idul fitri, tradisi tersebut disebut Grobagan. Tradisi grobagan biasa dilakukan oleh masyarakat desa Indrosari, Kebumen.

 

Tradisi Grobagan ialah tradisi di mana masyarakat setempat berbondong-bondong menuju pantai dengan mengendarai gerobak yang ditarik oleh kuda. Gerobak tersebut juga diberi ornamen rontek, tulisan, serta gambar. Selain itu iring-iringan juga dimeriahkan dengan pelengkap sound system.

 

Tradisi Grobagan biasanya dilakukan pada H+1 hari raya idul fitri. Di desa Indrosari, tradisi Grobagan dimulai dari desa Indrosari sendiri, lalu ke desa Ampih, desa Kelapa Sawit, desa Arjowinangun, desa Sangubanyu, desa Bocor dan desa Setrojenar.


Jarak yang ditempuh kurang lebih 7km.
Dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 11.00. Setelah itu dilanjut ke pantai Setrojenar dan berakhir pada sore hari. Tradisi Grobagan sebenarnya sudah jarang dilakukan beberapa tahun belakangan ini. Namun ada beberapa paguyuban pemuda yang mulai meramaikan kembali tradisi tersebut. Tradisi grobagan memiliki nilai-nilai kebersamaan yang tinggi. Karena itu pula tidak bisa dipungkiri jika tradisi tersebut sangat kita rindukan di zaman modern sekarang ini.

 

Karena sudah banyak tekhnologi dan alat transportasi modern yang memudahkan semua aktifitas masyarakat sekaligus menjauhkan masyarakat dari adat istiadat yang dulu pernah menjadi bagian dari rutinitas mereka. Sesungguhnya kebersamaan adalah bagian dari tradisi-tradisi zaman dulu yang sudah mulai lekang ditelan waktu. Untuk itu, alangkah lebih baiknya jika moment-moment indah tersebut kita lahirkan kembali, jangan hanya sekedar mengenangnya sebagai memori masa lalu.

 

Nah tradisi grobagan sebagai salah satu contoh kebiasaan masyarakat setempat yang layak untuk dilestarikan. Karena dari situ kita mendapatkan moment hangat bersama teman maupun keluarga yang tak akan pernah kita dapatkan lagi ketika kita masuk kembali ke dunia modern yang canggih seperti sekarang ini. Yuk tradisi-tradisi yang lain bisa menyusul, lahirkan kembali budaya-budaya yang nyaris punah ya gaesss…!!! Karena semua itu milik kita yang abadi, yang harus kita lestarikan.