Tradisi Suronan Warga Sekar Pethak

Tradisi Suronan Warga Sekar Pethak

Warga mengikuti puncar pengajian yang dilaksanakan ba’da Maghrib di sekitar makam Punden Dukuh Sekar Pethak.

 

Reviens Media, Demak - Bangsa Indonesia adalah bangsa yang Gemah Ripah Loh Jinawi serta kental dengan adat istiadat dan budayanya. Dari Sabang sampai Merauke, ada beribu-ribu adat istiadat yang sampai sekarang masih dilestarikan, itu yang membuat bangsa Indonesia disegani dan dikagumi oleh bangsa asing.

 

Salah satunya di desa Sekar Pethak, kecamatan Kebonagung kabupaten Demak terdapat sebuah tradisi yang disebut “Suronan”. Tradisi warga desa Sekar Pethak ini sudah ada sejak zaman dahulu dan masih dilestarikan sampai sekarang. “Suronan” dilaksanakan setahun sekali pada tanggal 3 bulan Suro, atau disebut juga bulan Muharrom ( dalam Islam).

 

Dalam Tradisi Suronan, warga dukuh Sekar Pethak dimintai shodaqoh seikhlasnya, dan hasil dari shodaqoh itu oleh Bayan Desa dibelikan 2 Kambing sebagai bentuk rasa Syukur warga Sekar Pethak. Kambing tersebut kemudian dimasak oleh ibu-ibu desa Sekar Pethak yang ditugaskan memasak, biasanya 2 Kambing tersebut dimasak Gulai , dibungkus di plastik dan masakan yang sudah matang dibagikan lagi kepada warga Sekar Pethak.

 

Tradisi Suronan ini mulai dilaksanakan pagi hari (waktu Dhuha) di sekitar makam Punden Desa Sekar Pethak yang disebut “Makam mbah Jambu” dengan pembacaan Khotmil Qur’an yang dibacakan oleh Hafidz dan Hafidzoh desa Sekar Pethak. Lalu ba’da Ashar, dilanjutkan dengan Tasyakuran (warga biasa menyebutnya : Bancaan) dengan membawa tumpeng nasi (satu rumah satu tumpeng) oleh bapak-bapak desa Sekar Pethak.

 

Bancaan ini dipimpin oleh Kiyai dengan bacaan Do’a dan Tahlil. Usai pembacaan doa dan Tahlil, tumpeng-tumpeng tersebut saling ditukarkan antara warga yang satu dan warga yang lain dan kemudian dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga.

 

Puncak acara Suronan adalah pengajian ibu-ibu desa Sekar Pethak. Pengajian ini dilaksanakan ba’da Maghrib di sekitar makam Punden Dukuh Sekar Pethak. Pada puncak acara ini, setiap Jama’ah yang ikut membawa 1 botol air putih yang kemudian dibuka botol tersebut dari awal sampai akhir pengajian. Ini dimaksudkan agar air yang dibawa tersebut membawa do’a dan berkah (orang Jawa bilang = mambu Doa), Air tersebut kemudian dibawa pulang untuk diminum keluarga masing-masing.

 

Tradisi ini sangat sakral, karena berisi serangkaian acara yang bersifat Islami. Ibu-ibu jama’ah yang mengunjungi tradisi ini biasanya menggunakan Baju / Gamis dan jilbab warna putih yang seakan menambah khidmad rutinan tahunan ini. Rutinan tahunan ini dipimpin oleh bu Nyai (sebutan untuk orang yang pandai Agama dan biasanya istri dari Kyai) dan diikuti oleh jama’ah yang hadir.

 

Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan surat Yasin bersama-sama, Pembacaan surat Yasin ini dipimpin oleh bu Nyai, lalu diikuti dengan pembacaan manakib Syekh Abdul Qodir Jailani. Pembacaan Manakib ini dibaca secara bersama-sama dengan bacaan satu orang membaca satu bab Manakib. disusul dengan Tahlil dan diakhiri dengan pembacaan Maulid Nabi.

 

Saat Pembacaan Maulid Nabi ini, semua jama’ah berdiri, dan ada 2 orang yang ditugaskan untuk memberikan minyak wangi pada telapak tangan semua Jama’ah, Ini dimaksudkan agar mendapatkan berkah puncak acara Suronan.

 

Unni Zulfa (41) mengatakan beliau selalu mengikuti Tradisi Suronan ini sejak masih duduk di bangku kelas SMA. “Tradisi Suronan ini merupakan bentuk rasa Syukur warga kepada Allah SWT yang telah melimpahkan berkat dan rahmatnya kepada kami, dengan Suronan ini kami berharap Allah selalu memberikan keselamatan dan rezeki yang barokah untuk warga desa Sekar Pethak. Semoga tradisi ini tidak punah sampai anak cucu nanti”, tuturnya.

 

Penulis: Lailatul Mubarokah