Tradisi Timba Laor Jadi Ikon Wisata Ambon

Tradisi Timba Laor Jadi Ikon Wisata Ambon

Reviensmedia.com, Ambon – Berbicara kota Ambon, kita akan ingat dengan Gong Perdamaian dan Jembatan Merah Putih yang sudah menjadi ikon Ambon Manise ini, namun ternyata tidak hanya itu saja. Kota Ambon juga memiliki banyak budaya yang menjadi ikon wisata. Salah satunya adalah budaya Timba Laor atau menangkap cacing laut (Lyde Oele).

 

Tradisi ini merupakan sebuah budaya turun temurun dan terus dilestarikan oleh masyarakat di kawasan pesisir Nusaniwe dan Leitimur selatan. Munculnya Laor sendiri dipengarui siklus bulan dan matahari pada maret atau april, dan muncul setahun sekali.

 

Budaya menangkap cacing di Indonesia hanya ada di Ambon dan Lombok disebut dengan Bau Nyale. Sedangkan budaya yang di Ambon ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengajak masyarakat untuk peduli dengan lingkungan terutama pantai. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan warga pesisir kota Ambon akan terus menjaga kelestarian laut dengan tidak membuang sampah sembarangan.

 

Tradisi menangkap cacing ini dilaksanakan secara beramai-ramai oleh warga, dan kemudian dimasak langsung hasil tangkapannya, serta dimakan beramai-ramai. Hal itulah menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke Ambon dan ikut serta meramaiakn acara tersebut.

 

Nah di atas sudah sedikit disinggung apa itu Laor, Tapi di sini saya akan sedikit memberikan informasi tentang Laor. Laor adalah sejenis cacing laut yang dalam bahasa ilmiahnya adalah Lycde Oele dan dari kelas Polychaeta Filum Analida. Cacing ini biasanya muncul saat purnama pasang tertinggi dan hanya muncul di pantai berkarang. Biota ini sangat digemari oleh masyarakat Maluku karena kandungan proteinya lebih tinggi dari ikan.

 

Foto: Google